Saturday, January 31, 2015

Baksos Lingkungan Benedictus Ngagel ke Stasi Tritik Nganjuk

Pagi itu, Minggu 7 Desember 2014, cuaca kota Nganjuk sebenarnya sempat mendung dan gerimis. Tetapi rupanya cuaca yang kurang bersahabat itu tidak mengurangi semangat dan keceriaan umat Lingkungan St. Benedictus, Paroki Ngagel, Surabaya, untuk melaksanakan bakti sosial di Stasi Tritik. 

Dengan menggunakan satu bus besar dan dua mobil, rombongan memasuki kota Nganjuk sekitar jam 08.30. Syukur kepada Allah, gerimis yang sejak pagi membasahi Nganjuk sudah reda saat rombongan tiba di halaman sebuah pabrik di wilayah Guyangan untuk istirahat sejenak. Di halaman pabrik itu, rombongan diterima Bapak Cosmas Budi Rahardjo, warga Paroki Nganjuk, yang beberapa minggu sebelumnya memang sudah dikontak terlebih dahulu oleh Bapak Lauw Hendra sebagai ketua Lingkungan St. Benedictus, Paroki Ngagel untuk membantu dan mendukung kegiatan bakti sosial itu. 

Setelah istirahat sejenak dan memindah-mindahkan barang-barang bantuan dari bagasi bus ke mobil boks, akhirnya rombongan bersama-sama berangkat ke Stasi Tritik dengan menggunakan beberapa mobil kecil. Jarak Guyangan ke Tritik yang kurang lebih 16 km ditempuh rombongan selama kurang lebih 45 menit. Separuh lebih perjalanan itu, ditempuh rombongan dengan melewati jalan-jalan yang rusak dan berbatu, serta harus melewati daerah perbukitan membelah hutan-hutan jati milik perhutani. Kondisi jalan yang rusak itulah yang menyebabkan lamanya waktu tempuh ke Tritik. 

Di Tritik, rombongan disambut oleh Ibu Sampun (istri dari ketua stasi Tritik) dan beberapa umat. Mereka tiba di Tritik setengah jam sebelum misa dimulai pada pukul 10.00. Kebetulan, hari itu memang giliran Stasi Tritik ketempatan misa kekehan (gangsing) dalam siklus putaran layanan misa bersama dengan Stasi Gondang, Rejoso, dan Jatikampir. Waktu yang ada itu mereka gunakan untuk menurun-nurunkan bingkisan dan barang-barang yang akan disumbangkan dan mempersiapkan teknis pembagiannya. 

Sebagian besar yang lain, sudah duduk rapi di dalam kapel mempersiapkan hati untuk mengikuti misa hari Minggu Adven II. Mendekati jam 10.00, rombongan RD Leo Giovani bersama dengan beberapa dokter tiba di Tritik. Demikian pula menyusul rombongan umat dari Stasi Jatikampir, Rejoso, dan Gondang. Misa dimulai jam 10.00 dengan menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan lagu-lagunya menggunakan lagu bahasa Jawa. Sebenarnya hari itu Stasi Tritik memang mendapat giliran misa  bahasa Jawa, sehingga petugas-petugas liturgi dan petugas koor sudah mempersiapkannya dengan menggunakan bahasa Jawa.

 Persiapan koor yang dirasa kurang dan lagu bahasa Jawa yang mungkin masih terdengar asing di telinga saudara-saudara dari Surabaya, barangkali sedikit banyak memang mengganggu kelancaran jalannya ekaristi siang itu. Tetapi bagaimanapun juga rasa syukur yang mendalam karena boleh berbagi dan menerima berkat dari Tuhan, tetap terungkap dengan jelas dalam keseluruhan ekaristi siang itu. 

Dalam homilinya, RD Leo Giovani sempat mengingatkan umat untuk terus mengusahakan hidup yang lurus dengan menutup lubang-lubang ucapan, perilaku dan sikap hidup negatif yang barangkali selama ini masih ada. Itulah salah satu bentuk persiapan dan penantian menyambut kelahiran Tuhan Yesus selama masa Adven. Di akhir misa, Ibu Lisa Soegiharto sebagai ketua panitia bakti sosial dan Bapak Subono sebagai wakil dari umat Stasi Tritik, Gondang, Rejoso dan Jatikampir, serta RD Leo Giovani, sempat menyampaikan sambutan-sambutannya. 

Setelah misa, acara dilanjutkan dengan kegiatan bakti sosial berupa pelayanan pemeriksaan dan pengobatan gratis oleh dokter-dokter dan paramedis dari Paroki Nganjuk, pembagian bingkisan untuk warga desa Tritik, pembagian bingkisan untuk umat Tritik, Gondang, Rejoso dan Jatikampir, penyerahan bantuan pakaian pantas pakai untuk keempat stasi dan paroki; penyerahan bantuan 3 unit wireless untuk Stasi Tritik, Jatikampir dan Gondang.

Ada juga penyerahan bantuan wireless untuk Masjid Tritik; penyerahan dua lemari pakaian dan buku untuk Stasi Tritik dan Rejoso; serta penyerahan bantuan pasang meteran listrik, gorden dan toilet duduk untuk Stasi Tritik.  Bersamaan dengan itu, umat yang lain menikmati makan siang bersama dengan menu sederhana ala Desa Tritik. Nampak sekali terungkap rasa syukur dan terima kasih yang mendalam dari semua pihak, terutama dari umat Stasi Tritik, Gondang, Rejoso dan Jatikampir serta warga yang menerima bingkisan. 

Sebelum pulang, warga Lingkungan St. Benedictus, Ngagel, menyempatkan berfoto bersama dengan RD Leo Giovani di depan kapel dilanjutkan penyerahan bantuan uang tunai untuk pembangunan balai pertemuan Stasi Loceret yang diterima langsung oleh RD Leo Giovani. (Cosmas Budi Rahardjo)


HUT ke-84 Paroki Kristus Raja Surabaya

Berikan Hati Ulurkan Tangan, Kita Wujudkan Kelompok Kecil Umat Yang Misioner. Inilah tema yang menjiwai seluruh  Rangkaian Perayaan HUT ke-84 Paroki Kristus Raja Surabaya. Beragam kegiatan diselenggarakan sejak bulan Juli hingga November 2014 agar umat dapat  memaknai HUT paroki lebih mendalam.  Kalau tahun 2013, panitia HUT dipegang oleh para ketua lingkungan, maka tahun 2014 ini para wakil ketua lingkungan dipercaya sebagai panitia. Dengan demikian, semakin banyak orang diberi peluang untuk bertanggung jawab dalam kegiatan di tingkat paroki. 

Selain menindaklanjuti tema keuskupan tentang Kelompok Kecil Umat, paroki yang sejak berdiri dikelola oleh romo-romo CM ini mau lebih mengenal Santo Vinsensius a Paulo, pendiri CM, serta memahami spiritualitasnya. Ini dilakukan dengan Novena St Vinsensius selama sembilan Kamis berturut, dan materi untuk Kuis Temu Krida. 

Menurut Herman Josep Sutrisno, Ketua Umum HUT Paroki, seluruh rangkaian kegiatan yang diadakan berusaha sebanyak mungkin melibatkan umat baik anak-anak, Rekat, OMK, keluarga maupun lansia. Umat tidak hanya terlibat sebagai peserta lomba tetapi juga memberikan hati dan mengulurkan tangan sebagai panitia pendukung, khususnya kaum muda. Hal ini merupakan kesempatan yang baik  karena  kaum muda   dapat  menimba pengalaman dan belajar untuk  menyelenggarakan kegiatan, belajar  memimpin dan siap kaderisasi tugas  pelayanan di paroki untuk masa mendatang.

Rangkaian kegiatan yang diselenggarakan  antara lain  lomba lektor,  pemazmur, koor, pewarta cilik,  temu krida Rekat, temu krida umum, mural rohani, rujak cingur,  sandal bakiak,  merias wajah, fashion batik, vocal group, bulutangkis, tarik tambang,  futsal,  mewarnai,  becak hias. Tak ketinggalan seminar, novena, jalan sehat, donor darah, baksos, dan kerja bakti. Hadiah untuk  lomba-lomba diserahkan saat Malam Pentas Seni HUT KR ke-84 pada 22 November 2014 di Gedung KR.

Malam Pentas Seni menampilkan unjuk kebolehan dari umat 8 wilayah di KR, SMK Mater Amabilis, Stanislaus I dan II. Inti dari semua tampilan acara adalah pemberian diri  tanpa memandang kaya atau miskin, tradisional atau  modern, tua atau muda, besar atau kecil, kuat atau lemah, semuanya merupakan kado yang terindah untuk  Tuhan apabila disertai dengan pengorbanan, ketulusan hati dan sukacita. 

Di Ruang Kaca Gedung KR juga diselenggarakan  Pameran Lukisan dengan tema Seni Bukti Kasih Sayang. Pameran ini merupakan wujud keterbukaan Paroki KR kepada seluruh elemen masyarakat. Seni memang bisa  menjadi jembatan solidaritas tanpa terbelenggu hal-hal yang selama ini dianggap tabu. Suku, ras, atau agama bisa dirangkul secara harmonis sebagai satu kesatuan indah dan wujud kasih sayang sesama manusia. Panitia bekerja sama dengan Surabaya Art Event dan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW). Para seniman yang unjuk karya malah mayoritas muslim.  

Sejumlah karya seni rupa dipamerkan. Ada yang berupa lukisan dan grafis.Beberapa berwujud patung. Selain itu, beberapa foto dinamika kegiatan lingkungan di Paroki KR misalnya saat pemberkatan rumah, doa lingkungan, pemakaman, dll   ikut mengisi ruang pameran.

Misa Syukur merupakan puncak perayaan HUT ke-84 Paroki Kristus Raja, Minggu, 23 November 2014, pukul 09.00, bertepatan dengan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Misa Syukur dipimpin oleh Romo Antonius Sad Budianto CM didampingi Romo Rahmat CM, Romo Ignatius Suparno CM, Romo Emanuel Tetra Vici Anantha CM dan Romo Thomas Puji Nurcahyo CM (Romo Kepala Paroki St. Marinus Yohanes Kenjeran).
Dalam homilinya, Romo Sad Budi CM menyampaikan bahwa di tengah-tengah irama dan aktivitas kehidupan modern yang padat dan panjang, Kristus harus tetap meraja dalam kehidupan kita baik dalam keluarga, pekerjaan, karya pelayanan, studi, pergaulan maupun hidup kerohanian. Kristus pun harus meraja dalam kehidupan para imam agar semakin rendah hati dan terbuka bekerja sama dengan umat. Kesibukan seringkali membuat orang menomorsekiankan kehidupan rohani dan menggereja.  Padahal, tanpa Tuhan kita tak mungkin selamat. 

Orang tua sejak dini perlu menekankan kehidupan rohani pada anak-anaknya agar Kristus meraja dalam hidup anak-anak hingga dewasa kelak. Keterlibatan umat dalam hidup menggereja semakin hari semakin surut, padahal setiap orang yang sudah dibaptis dipanggil untuk turut serta dalam tugas penggembalaan Kristus  bersama para imam. 

Untuk menghidupkan semangat rohani umat dan keterlibatan dalam  kehidupan menggereja  dengan semangat Kelompok Kecil Umat, maka Paroki Kristus  Raja  memekarkan 8 wilayah menjadi 16 Wilayah, dan 48 lingkungan menjadi 64 lingkungan. Ini merupakan babak baru, bukan hal yang mudah dan membutuhkan pengorbanan. Namun, penataan ini harus dilalui sebagai bentuk tanggungjawab kepada Kristus Sang Raja. Penataan ini diharapkan dapat merangkul semakin banyak umat agar tergerak, peduli, dan terlibat  pada kehidupan menggereja sehingga Kristus meraja dalam hidup mereka. 

Setelah homili,  diadakan pelantikan para ketua dan wakil ketua wilayah/lingkungan baru. Romo Sad Budi CM mengucapkan terima kasih atas kesediaan mereka menjadi pengurus dan memberikan apresiasi  karena mereka dengan rela mau menanggapi cinta Tuhan, ambil bagian dalam tugas penggembalaan Kristus  dan berani berkorban, sementara umat sering kali kurang tanggap terhadap tugas penggembalaan mereka. Mereka juga tidak kenal putus asa dan lelah walaupun harus membagi waktu antara keluarga, pekerjaan dan karya pelayanan. Mereka berusaha setia menanggapi panggilan Tuhan.
    
Setelah misa syukur diadakan pesta umat bersama di Gedung Kristus Raja. Acara berupa pemotongan tumpeng dan kue tar oleh Romo Sad Budi. Selanjutnya makan siang bersama. (*)

Sunday, December 7, 2014

Paroki GYB Bahas Sakramen Perkawinan

Indah dan Dalamnya Makna Sakramen Perkawinan! Itulah tema seminar yang diselengarakan oleh DPP Paroki Gembala Yang Baik (GYB),  Bidang Sumber. Seminar di GKP Gedung Karya Pastoral, Jalan Jemur Handayani, Surabaya, itu diikuti banyak peserta dengan narasumber RD antonius Padua Dwi Joko.
 
Diawali dengan cerita tentang harta karun di dalam rumah, Romo yang menjadi sebagai Vikaris Yudisial Keuskupaan Surabaya ini menegaskan bahwa relasi perkawinan ada di dalam rumah kita. Allah mempunyai rencana yang baik dalam hidup perkawinan. Dan perkawinan monogami adalah yang dimaksudkan Allah bagu manusia yang sejak semula.
 
Romo Dwi Joko menegaskan, hakikat perkawinan merupakan perjanjian laki-laki dan perempuan untuk membentuk kebersamaan seluruh hidup. Perkawinan bukan sekadar hidup bersama-sama, melainkan membangun kebersamaan hidup. Dengan kata lain, perkawinan jelas berbeda dengan kumpul kebo yang hanya ingin menekankan hidup secara bersama saja.
 
Perkawinan sebagai kebersamaan hidup terjadi sejak mengucapkan janji pernikahan dan akan berakhir dengan kematian. Kebersamaan hidup ini meliputi seluruh situasi dan kondisi kehidupan sebagaimana diucapkan kedua mempelai saat mengucapkan janji perkawinan, di mana mereka ingin hidup dalam suka dan duka, untung dan malang, sehat maupun sakit. Singkatnya, kebersamaan hidup ini meliputi seluruh situasi suami istri baik dalam keadaan bahagia maupun tidak bahagia.
 
Namun, kita sering dengar, ada salah satu pihak yang ingkar janji untuk sehidup semati dalam kebersamaan hidup. Akibatnya, dari tahun ke tahun angka perceraian terus bertambah. Menurut Romo Dwi Joko, kesulitan hidup bersama dalam perkawinan ini juga menimpa orang Katolik. Padahal, ada faktor-faktor yang mendukung hidup perkawinannya. Misalnya, hidup iman, termasuk peran rahmat ilahi, paham perkawinan monogami yang tak terputuskan, komunitas yang mendukung, pastoral pekawinan dan keluarga. Meskipun demikian, lalu pisah ranjang dan kemudian bercerai.
 
Bagaimana menyikapinya? Komisi Keluarga Keuskupan bersama Seksi Keluarga di paroki-paroki harus proaktif. Mencari pasangan-pasangan yang bermasalah untuk dimediasi dan difasilitasi. Hanya tiga kali pertemuan dalam kursus persiapan perkawinan tidak cukup! Apalagi tantangan hidup dewasa ini makin banyak dan berat.
 
Berbicara tentang arti perjanjian nikah, Romo Dwi Joko menyatakan bahwa perjanjian atau kesepakatan nikah adalah satu-satunya unsur yang membuat perkawian itu sah. Kesepakatan nikah ini hanya muncul dari pasangan suami istri. Harus muncul dari dalam hati sendiri dan bukan dari orang lain. Kesepakatan menikah ini merupakan tindakan kemauan untuk saling memberi dan menerima, bukan hanya menyerahkan tubuh saja, tetapi juga hatinya. Seluruh jiwa dan raganya.
 
 Kesepakatan nikah ini harus dinyatakan secara publik dan sah menurut norma hukum. Pasangan calon suami istri harus mengucapkan janji nikah di depan otoritas dan para saksi.
 
Tujuan perkawinan adalah kesejahteraan pasangan dan kesejahteraan anak. Pertama, kesejahteraan pasangan merupakan ciri unitif dari perkawinan. Kesejahteraan ini tentunya tidak hanya secara lahir saja, tetapi juga secara batin. Kitab Kejadian 2:24 menegaskan, "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga kedua menjadi satu daging."
 
Kedua, kesejahteraan anak memiliki kaitan erat dengan dengan pendidikannya, baik secara jasmani maupun secara rohani. Sebagaimana pasangan suami istri adalah karunia dari Tuhan, yang harus disyukuri.
 
Salah satu cara mensyukurinya adalah dengan mendidik dan membesarkan anak dalam budaya dab iman Katolik. Ciri hakiki perkawinan adalah kesatuan (unitas) dan tak terceraikan (indissolubilitas). Kesatuan dalam perkawinan menunjuk langsung dalam unsur unitif dan monogami. Tak terceraikan berarti bahwa sekali perkawinan yang dilangsungkan secara sah mempunyai akibat tetap dan EXSKLUSIF berarti bahwa ikatan nikah tersebut hanya antara suami istri dimana mereka hanya selalu setia pada pasangan sampai maut menjemput.
"Maka, tidak ada sama sekali pihak ketiga dalam hubungan suami istri," katanya. (Putroadi T.) 

5 Tahun Seminari Tinggi Providentia Dei Surabaya

Dalam rangka merayakan lustrum pertama atau lima tahunnya, Seminari Tinggi Providentia Dei (STPD) Keuskupan Surabaya mengadakan acara Live in dan Lomba Futsal pada 18-19 Oktober 2014. Acara ini merupakan salah satu rangkaian lustrum I STPD yang mengambil tema 'Sanctitas et Audacia'. Tema tersebut diambil dari motto pembinaan di STPD, yang berarti Kesucian dan Keberanian.

Kompetisi diikuti tim futsal dari berbagai paroki di Surabaya, antara lain Paroki Pecinta Damai Pogot, Paroki St. Paulus Juanda, Paroki Aloysius Gonzaga, Paroki SMTB Ngagel, Paroki Kristus Raja, Paroki St. Vincentius a Paulo, Widodaren, Paroki St. Perawan Maria Gresik, Paroki Roh Kudus, dan Paroki Sakramen Mahakudus Pagesangan. Di samping tim-tim itu, tim futsal STPD dan Seminari Menengah St. Vincentius A Paulo Garum juga turut memeriahkan perhelatan yang pertama kalinya diselenggarakan oleh STPD ini.

Rangkaian acara dimulai pada Sabtu 18 Oktober pada pukul 17.30 dengan Ibadat Sore bersama dan Perayaan Ekaristi. Para peserta yang sudah datang di STPD sejak pukul 16.00 ini mengikuti acara rohani tersebut dengan khidmat dan syukur bersama dengan para frater STPD. Romo Benny Suwito, formator STPD, yang memimpin Perayaan Ekaristi, juga memberikan ucapan selamat datang kepada kurang lebih 80 peserta.

Romo Benny juga memberikan motivasi untuk perlombaan futsal yang akan diadakan keesokan harinya. Di samping itu, ia menekankan pentingnya kesadaran hidup menjadi OMK untuk mau bersaksi bagi Kristus di tengah dunia dewasa ini.

Selepas Perayaan Ekaristi, para peserta bersantap malam bersama di ruang makan bersama para frater SPTD. Setelah bersantap malam, para peserta mengikuti acara bersama yang dipimpin oleh para frater. Pada kesempatan tersebut, para frater memperkenalkan apa itu panggilan imamat dan secara khusus juga memperkenalkan STPD. Acara dimulai dengan bernyanyi dan bergoyang bersama yang dipimpin oleh Fr. Yudi dkk.

Fr. Felix, frater filosofan III, juga menjelaskan kepada para peserta tentang kehidupan para frater di seminari tinggi. Para peserta mendapatkan sharing pengalaman tentang betapa indahnya panggilan Tuhan dari seorang filosofan I, yaitu Fr. Handi.

Acara malam tersebut diakhiri dengan Completorium bersama pada pukul 21.30. Selepas Completorium, para peserta masih diperkenankan untuk menjalin keakraban dengan para peserta lain serta para frater melalui rekreasi bersama. Acara rekreasi bersama tersebut sungguh meriah, yang diisi acara nongkrong barengdan berakustik bersama, nonton film, atau juga sekadar bercerita dan menikmati malam bersama teman-teman seiman. 

Acara ini memang bertujuan untuk mengakrabkan para peserta yang datang dari berbagai paroki, yang juga merupakan orang muda masa depan Gereja. Kompetisi futsal dimulai pada pukul 07.30. Sebelum pertandingan dimulai, para peserta terlebih dahulu melakukan pemanasan dan berfoto bersama. Pertandingan pertama mempertemukan Paroki Pogot dan Paroki Juanda dengan hasil akhir 6-1 untuk kemenangan Pogot.

Pertandingan semifinal yang mempertemukan Paroki Roh Kudus versus Seminari Garum berakhirdengan skor imbang 1-1. Melalui drama adu penalti, akhirnya Seminari Garum harus mengakui keunggulan Paroki Roh Kudus.
Semifinal kedua mempertemukan STPD dan Paroki Kristus Raja. Pertandingan ini berakhir 3-3. Paroki KR maju ke final setelah menaklukkan STPD lewat adu penalti.

Partai puncak berlangsung seru. Kedua tim menampilkan permainan yang menawan. Akhirnya, Paroki KR keluar sebagai juara lewat adu penalti setelah sebelumnya skor 2-2 di waktu normal.
 
(Fr. Ferdian Dwi Prastiyo Agustinus) 

Catatan Munas Unindo XI di Keuskupan Ambon

Oleh V. Rachmad Djatmiko
 
Sebuah pengalaman berharga saya dapatkan melalui kesempatan mengikuti Musyawarah Nasional Unio Indonesia XI di Keuskupan Ambon. Keuskupan Surabaya sebagai salah satu peserta mendapatkan kesempatan mengirimkan tiga imamnya, RD Elidius Sumarno, RD Timoteus Siga, dan RD Otong Setiawan. Akan tetapi, karena RD Otong mengikuti Konferda dan Moderda Karismatik, maka keikutsertaannya saya gantikan.
                         
Kontingen dari Keuskupan Surabaya berangkat pada 30 September, pagi hari pukul 07.10 WIB, terdiri atas Mgr. V. Sutikno, RD Sumarno, RD Timotheus Siga, dan saya sendiri. Kami tiba di bandara Pattimura, Ambon pada pukul 11.00 WIT, disambut oleh panitia, dan secara istimewa oleh Bapa Uskup Ambon, Mgr. P.C Mandagi. Pada tanggal 30 September ini, masih belum ada acara resmi karena acara munas baru akan dimulai pada tanggal 1 oktober 2014. Masih ada kesempatan satu hari untuk menyesuaikan diri dengan situasi kota Ambon, terutama dengan perbedaan waktu dari Indonesia barat ke Indonesia timur.
 
Munas Unio Indonesia (Unindo) dimulai dengan acara makan malam bersama di kediaman gubernur Maluku pada tanggal 1 Oktober 2014, dihadiri oleh jajaran Pemda Provinsi Maluku dan seluruh peserta munas. Hadir pula pada kesempatan ini Dubes Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Antonio Guido Filipazzi dan Ketua Unio Internasional, Mgr. Giuseppe Magrin. Namun demikian, rangkaian acara munas sudah dimulai siang harinya dengan peresmian monumen Fransiskus Xaverius di desa Htive Besar, Ambon, tempat pertama kali Santo Fansiskus Xaverius menginjakkan kakinya di Ambon. Setelah peresmian, seluruh peserta mengikuti perayaan ekaristi pembukaan munas di Katedral Ambon, yang dipimpin oleh Mgr. P.C Mandagi.
                         
Dalam sambutannya di acara makan malam itu, Gubernur Maluku Said Assegaf menyambut dan mengungkapkan kegembiraannya atas kehadiran para imam dan beberapa uskup dalam acara munas ini. Beliau juga menyampaikan situasi di Provinsi Maluku, khususnya kota Ambon yang sempat menjadi daerah konflik antar agama. Beliau mengatakan bahwa konflik yang terjadi pada kurun waktu tahun 1999-2004 itu memang nampaknya terjadi antaragama namun sebenarnya akar dari permasalahannya adalah adanya kepentingan-kepentingan dari beberapa pihak yang menggunakan agama sebagai senjata. Akan tetapi, pada dasarnya masyarakat Ambon sangat menghormati perbedaan agama. Karena itu, diyakini bahwa penyebab konflik pada saat itu bukanlah soal perbedaan agama.
                         
Sementara itu, Dubes Vatikan, Mgr. Guido Filipazzi menyampaikan bahwa kita mesti ingat kembali bahwa perbedaan bukanlah untuk memecah tapi untuk saling melengkapi. Pesan ini disampaikannya mengingat pada hari itu bertepatan dengan hari kesaktian Pancasila, yang menyatakan adanya perbedaan di Indonesia tapi menyatukan seluruh bangsa. Demikianlah hendaknya perbedaan agama hendaknya bukan menjadi alasan untuk saling bermusuhan, melainkan saling bekerja sama demi kesejahteraan bersama.
                         
Munas Unindo dilanjutkan keesokan harinya dengan acara dialog bersama dengan para tokoh lintas agama bertempat di gedung Islamic Center, Ambon. Pada sesi awal, Mgr. Guido memaparkan pernyataan Paus Fransiskus yang disampaikan pada World Youth Day di Korea, yang menekankan perlunya kita kembali memahami ajaran agama kita. Pemahaman yang baik akan membuat kita bisa berdialog dengan baik pula dengan penganut agama lain.
 
Pada sesi kedua diadakan pemaparan pengalaman masing-masing tokoh agama membeberkan pada saat konflik dan usaha mereka untuk mendamaikan umatnya masing-masing. Saya mendapatkan kesan bahwa para tokoh agama ini sungguh bekerja keras bersama-sama supaya konflik yang terjadi bisa diselesaikan dan masyarakat kembali hidup damai. Mgr. Mandagi menekankan perlunya kita kembali pada ajaran agama masing-masing supaya bisa menghayati ajaran itu dengan baik dan mengamalkannya di tengah masyarakat yang majemuk ini. Selain ini beliau juga menekankan perlunya sikap pengampunan, karena hanya dengan sikap ini semua pihak bisa meredakan amarah dan berusaha untuk menciptakan perdamaian.
 
Malam hari setelah makan malam, acara dilanjutkan dengan laporan pertanggungjawaban pengurus Unio Indonesia periode 2011-2014, dan setelah itu diadakan pemilihan pengurus Unio untuk periode 2014-2017. Seetelah dilakukan proses pemilihan dengan cara voting, maka terpilihlah pengurus baru dengan susunan sebagai berikut:
 
Pelindung: Mgr. Blasius Pujaraharja.
Penasihat: Mgr. Vinsen Sensi Potokota dan Mgr. Agustinus Agus

Ketua: RD Siprianus Hormat
Wakil ketua: RD Dominikus Gusti Bagus Kusumawanta

Sekretaris I: RD P.C Siswantoko
Sekretaris II: RD Simon Lili Tjahjadi
Bendahara I: RD Paulus wirasmohadi
Bendahara II: RD Eman Belo Sedo
Kepala Pastoran Unio Indonesia: RD Guido Suprapto
Ketua bidang komunikasi: RD Yustinus Ardianto

Ketua Regio Jawa: RD Antonius Garbito Pambuaji
Ketua Regio Sumatera: RD Yakobus Hariprabowo
Ketua Regio Kalimantan Barat: RD Jhon Rustam
Ketua Regio Kalimantan Timur: RD Anton B. Doso
Ketua Regio MAM: RD Stefanus Chandra Putra Endak
Ketua Regio Nusra: RD Ferry Dhae
Ketua Regio Papua: RD Izaak Bame
 
                         
Hari berikutnya, 3 Oktober 2014, kami peserta munas diajak untuk live-in di beberapa daerah di Maluku untuk mengalami sendiri bagaimana kehidupan masyarakat Maluku dalam beragama, berbudaya dan berrelasi dengan sesama, yang berbeda agama. Saya mendapat tempat live-in di Pulau Kei Kecil, tepatnya di Paroki Rumaat, Stasi Ngabub. Selama tiga hari saya berada bersama umat satu kampung yang semuanya Katolik, sekitar 500 jiwa.
 
Pada kesempatan ini saya menyempatkan diri untuk mendengarkan kisah mereka pada saat konflik dan juga pemahaman mereka tentang agama dan adat budaya mereka. Masyarakat pulau Kei Kecil yang mayoritas bersuku Kei itu memahami bahwa yang menyatukan mereka adalah adat-istiadat warisan nenek moyang mereka, sedangkan agama itu datang belakangan. Maka, bagi mereka, sebenarnya perbedaan agama bukanlah suatu permasalahan besar. Mereka bisa hidup rukun dengan penganut agama lain karena menyadari bahwa mereka bersuku sama, artinya mereka masih satu keluarga.
                         
Dalam kesempatan ini, kami juga berdialog dengan wali kota Tual serta para pemimpin agama dan pemimpin adat. Pada kesempatan ini para tokoh mengisahkan kembali pengamalan mereka tentang terjadinya kerusuhan di Maluku, khususnya di Pulau Kei Kecil. Mereka mengungkapkan bahwa kerusuhan yang terjadi di tempat itu bisa segera diatasi dengan baik. Jika di kota Ambon, kerusuhan memakan waktu hingga beberapa tahun, di Kei Kecil ini kerusuhan bisa diatasi dalam waktu beberapa bulan saja. 

Para tokoh masyarakat dan adat setempat menuturkan bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan adat. Mereka mengingatkan kembali masyarakat bahwa semua orang di Kei Kecil ini merupakan satu saudara. Ada ungkapan yang sangat mengakar di hati rakyat Kei, bahwa mereka semua meskipun berbeda-beda tetapi berasal dari rahim dan telur yang satu. Dengan pemahaman inilah para pemimpin berusaha menenangkan rakyatnya dan membuat mereka saling berdamai kembali.
                         
Setelah tiga hari live-in, kami kembali ke Ambon untuk melanjutkan sisa acara munas, yaitu makan malam bersama di rumah wali kota Ambon dan bedah buku Mission, Breakthrough yang ditulis oleh RD Simon Petrus L. Tjahjadi dari Keuskupan Agung Jakarta. Pada bedah buku ini, RD Simon menyampaikan bahwa penulisan buku ini terjadi karena keprihatinannya bahwa masih ada juga imam diosesan, bahkan juga uskup, yang belum mengerti apa dan siapa itu imam diosesan/praja. 

Dari situlah dia menuangkan tulisan tentang keberadaan imam diosesan, secara khusus kita diajak melihat perannya dalam dinamika Gereja. Ada banyak imam diosesan yang memiliki kiprah yang tidak kecil dalam Gereja Katolik, dan dari merekalah kita menimba pengetahuan dan semangat pelayanan sebagai imam diosesan.
                         
Munas Unindo 2014 ditutup dengan perayaan ekaristi dalam rangka HUT 20 tahun tahbisan Uskup Mgr. Mandagi. Akan tetapi, saya tidak mengikutinya karena kelelahan, dan harus istirahat. Saya sungguh bersyukur kepada Tuhan dan kepada seluruh rekan imam diosesan Keuskupan Surabaya, dan juga Bapa Uskup Sutikno, yang telah mengizinkan saya mengikuti munas ini. Banyak pengalaman dan hal baru yang saya dapatkan dan menyemangati saya untuk menjadi imam diosesan yang lebih handal, khususnya dalam pelayanan yang dipercayakan kepada saya.
 
Secara khusus saya kembali disadarkan bahwa kita perlu sungguh memahami iman yang kita miliki supaya mampu menjalin relasi yang baik dengan umat beragama lain di sekitar kita. Untuk itu, perlu ditingkatkan upaya-upaya pembelajaran iman umat seperti katekese, supaya pastor dan umat semakin menghayati imannya.
                         
Iman kita adalah iman yang terbuka, yang membuat kita mampu menangkap pesan Ilahi tentang keselamatan, dan dalam situasi keterbukaan itulah kita juga menjadi kepanjangan tangan Allah untuk menyampaikan pesan perdamaian dan keselamatan kepada semua orang. Dengan pemahaman yang baik, maka imam dan umat bisa berdialog dengan baik pula dengan saudara-saudara yang berbeda imannya guna mewujudkan kesejahteraan dan keselamatan jiwa raga, dan semakin luasnya Kerajaan Allah di bumi ini.
 
Berkat Tuhan menyertai kita sekalian! (*)

Misa Syukuran 45 Tahun Paroki Blora

Akhir-akhir ini, kota Blora dilanda kekeringan air. Air sulit didapatkan. Hujan tak kunjung turun. Banyak tanaman menjadi layu. Tanah nampak kering dan gersang, membuat udara semakin panas untuk dinikmati. Namun, situasi ini tidak lalu membuat hati dan semangat umat Paroki Santo Pius X Blora ikut menjadi kering dan layu. Rasa sukacita tetap nampak dan aura keceriaan tidak bisa disembunyikan. Sebagian besar umat datang ke gereja dengan wajah bahagia karena tepat pada hari Kamis 16 Oktober 2014 umat Paroki Santo Pius X Blora merayakan HUT Gereja Paroki yang ke-45.
 
Sore itu, tepat pukul 16.30, dimulailah seluruh rangkaian acara syukur ini. Acara diawali dengan doa Rosario bersama seluruh umat, kemudian dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Agustinus Sugiyanto CM selaku Pastor Kepala Paroki dan didampingi oleh Romo Antonius Iwan Setyabudi selaku pastor rekan di Paroki St. Pius X, Blora.
 
Dalam kesempatan homili, Romo Sugiyanto mengajak umat untuk merenungkan perikop Matius 20:1-16, di mana semua orang dipanggil untuk bekerja di kebun anggur Tuhan, dan tidak ada seorang pun yang dibiarkan-Nya menganggur saja. Artinya, seluruh umat paroki diajak untuk mau ambil bagian dalam pewartaan Injil dan pelayanan terhadap Gereja.
 
Sudah 45 tahun gereja paroki ini berdiri, jika seandainya masih ada yang belum terlibat dalam karya paroki dan pelayanan, Romo Sugiyanto mengajak umat untuk ikut ambil bagian, jangan hanya menjadi umat yang pasif dan 'menganggur' saja. Seluruh umat diberi kesempatan untuk bekerja dan ambil bagian dalam karya pelayanan di kebun anggur Tuhan. 
 
Selesai Perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Pastor Kepala Paroki. Tumpeng dibuat menyerupai bahtera, seperti halnya bangunan gereja paroki yang juga mirip bahtera. Harapannya, Gereja Paroki ini akan terus mampu berlayar mengarungi samudera kehidupan untuk mengantar seluruh umat  menuju pelabuhan Kerajaan Surga. Tumpeng spesial ini diberikan kepada pasutri Bapak Suparlan yang menjadi sesepuh umat sekaligus saksi hidup perjalanan paroki ini.
 
Sebagai tanda bahwa HUT Gereja Paroki juga menjadi HUT seluruh umat, maka seluruh umat yang hadir diajak ikut serta santap malam bersama di aula paroki dan dihibur oleh OMK Band. Sebuah peristiwa yang luar biasa indah, semua umat bersukacita. Perayaan HUT Paroki juga menjadi perayaan HUT seluruh umat di Paroki Santo Pius X, Blora. (RD Antonius Iwan Setyabudi)
 

Paroki Resapombo, Blitar, Diresmikan Uskup Surabaya


Minggu, 5 Oktober 2014, Uskup Surabaya Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono meresmikan Paroki Santo Fransiskus Asisi, Resapombo, Blitar. Semula paroki ini sebagai kuasi dan menjadi salah satu stasi dari Paroki Santo Petrus-Paulus, Wlingi, Kabupaten Blitar. Kini resmi menjadi paroki dan berada di bawah Kevikepan Blitar.
 
Peresmian paroki baru di Keuskupan Surabaya ini diawali dengan perayaan ekaristi yang dipimpin Mgrs. Sutikno selaku selebran utama dengan didampingi RD Tri Budi Utomo (Vikjen Keuskupan Surabaya), RD Warno (Kepala Paroki Wlingi), RD Petrus Katiran (Kepala Paroki St Fransiskus Asisi Resapombo), dan RD Soni Apri Untoro Nugroho (romo rekan Paroki Resapombo). Misa yang diikuti umat Paroki Resapombo dan umat dari paroki lain membuat gedung gereja penuh sesak. Bahkan, halaman belakang dan samping pun dipenuhi umat yang dengan setia mengikuti misa dengan khusuk.
 
Nampak sekali kegembiraan umat dengan cara melibatkan diri secara sukarela untuk menyukseskan peresmian paroki ini. Para tamu disambut oleh penerima tamu yang berpakaian adat Jawa. Misa memakai bahasa Jawa dan diiringi oleh gamelan yang dibawakan oleh umat paroki serta Orang Muda Katolik  (OMK) yang tergabung dalam Gamelan Community. Rata-rata adalah  anak anak kelas 1 dan 2 SMA. Mereka terbentuk sejak SD.
 
Dalam homilinya, Monsinyur Tikno mengajak seluruh umat Paroki Resapombo untuk bersyukur atas terbentuknya paroki baru yang sebelumnya adalah kuasi. Dengan diresmikannya Resapombo menjadi paroki, maka kedudukannya sejajar dengan paroki-paroki lain di Keuskupan Surabaya. Mengajak umat untuk bersatu dan guyub membangun  paroki dengan meneladan hidup St Fransiskus Asisi yang dipakai sebagai nama pelindung paroki serta Romo Lugano sebagai perintis berdirinya paroki.
 
 Pada kesempatan ini dilakukan pula upacara pelantikan pengurus DPP dan BGKP serta Asisten Imam. Mgr Tikno juga memperkenalkan  RD Petrus Katiran sebagai Kepala Paroki Resapombo dan RD Soni Apri Untoro Nugroho sebagai romo rekan.
 
Setelah misa usai, umat diajak untuk menyaksikan beberapa acara yang  dihadiri pejabat setempat. Di antaranya, Robertus Angkowo, Kabinmas Katolik Jatim, T. Endro Sujatmiko, Kepala Penyelenggara Katolik Kemenag Kabupaten Blitar,  Rijanto, Wakil Bupati Blitar , Hari Margono, selaku Camat Doko, AKP Sapto Rahmadi selaku Kapolsek Doko, Kapten Chudori selaku Danramil 0808/13 Doko dan Tekat Mundofar selaku Kepala Desa Resapombo. 

Wakil Bupati Blitar Rijanto mengatakan bahwa penduduk Resapombo adalah penduduk yang terdiri dari beberapa macam agama dan semuanya mampu saling bekerja sama. Umat Paroki Resapombo mampu membaur dan bekerja sama dengan umat beragama lain dalam  membangun desa. Wakil Bupati Blitar mengharapkan bahwa suasana guyub seperti selama ini akan selalu terbangun sehingga tercipta kerukunan antarumat beragama. 
 
Romo Mateus Suwarno selalu Kepala Paroki Santo Petrus-Paulus,  Wlingi, juga memberikan sambutan. Setelah itu Mgr Tikno berkenan memberi sambutan dan sekaligus melakukan penandatanganan prasasti peresmian. Acara dimeriahkan dengan beberapa tari yang ditampilkan umat dari masing-masing stasi dan lingkungan. OMK Resapombo tidak mau kalah tampil dengan band mereka.
 
Selamat kepada umat dan semoga semakin guyub dan misioner sesuai dengan cita-cita ARDAS Keuskupan Surabaya. (*)