Sunday, December 7, 2014

Misa Syukuran 45 Tahun Paroki Blora

Akhir-akhir ini, kota Blora dilanda kekeringan air. Air sulit didapatkan. Hujan tak kunjung turun. Banyak tanaman menjadi layu. Tanah nampak kering dan gersang, membuat udara semakin panas untuk dinikmati. Namun, situasi ini tidak lalu membuat hati dan semangat umat Paroki Santo Pius X Blora ikut menjadi kering dan layu. Rasa sukacita tetap nampak dan aura keceriaan tidak bisa disembunyikan. Sebagian besar umat datang ke gereja dengan wajah bahagia karena tepat pada hari Kamis 16 Oktober 2014 umat Paroki Santo Pius X Blora merayakan HUT Gereja Paroki yang ke-45.
 
Sore itu, tepat pukul 16.30, dimulailah seluruh rangkaian acara syukur ini. Acara diawali dengan doa Rosario bersama seluruh umat, kemudian dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Agustinus Sugiyanto CM selaku Pastor Kepala Paroki dan didampingi oleh Romo Antonius Iwan Setyabudi selaku pastor rekan di Paroki St. Pius X, Blora.
 
Dalam kesempatan homili, Romo Sugiyanto mengajak umat untuk merenungkan perikop Matius 20:1-16, di mana semua orang dipanggil untuk bekerja di kebun anggur Tuhan, dan tidak ada seorang pun yang dibiarkan-Nya menganggur saja. Artinya, seluruh umat paroki diajak untuk mau ambil bagian dalam pewartaan Injil dan pelayanan terhadap Gereja.
 
Sudah 45 tahun gereja paroki ini berdiri, jika seandainya masih ada yang belum terlibat dalam karya paroki dan pelayanan, Romo Sugiyanto mengajak umat untuk ikut ambil bagian, jangan hanya menjadi umat yang pasif dan 'menganggur' saja. Seluruh umat diberi kesempatan untuk bekerja dan ambil bagian dalam karya pelayanan di kebun anggur Tuhan. 
 
Selesai Perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Pastor Kepala Paroki. Tumpeng dibuat menyerupai bahtera, seperti halnya bangunan gereja paroki yang juga mirip bahtera. Harapannya, Gereja Paroki ini akan terus mampu berlayar mengarungi samudera kehidupan untuk mengantar seluruh umat  menuju pelabuhan Kerajaan Surga. Tumpeng spesial ini diberikan kepada pasutri Bapak Suparlan yang menjadi sesepuh umat sekaligus saksi hidup perjalanan paroki ini.
 
Sebagai tanda bahwa HUT Gereja Paroki juga menjadi HUT seluruh umat, maka seluruh umat yang hadir diajak ikut serta santap malam bersama di aula paroki dan dihibur oleh OMK Band. Sebuah peristiwa yang luar biasa indah, semua umat bersukacita. Perayaan HUT Paroki juga menjadi perayaan HUT seluruh umat di Paroki Santo Pius X, Blora. (RD Antonius Iwan Setyabudi)
 

Paroki Resapombo, Blitar, Diresmikan Uskup Surabaya


Minggu, 5 Oktober 2014, Uskup Surabaya Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono meresmikan Paroki Santo Fransiskus Asisi, Resapombo, Blitar. Semula paroki ini sebagai kuasi dan menjadi salah satu stasi dari Paroki Santo Petrus-Paulus, Wlingi, Kabupaten Blitar. Kini resmi menjadi paroki dan berada di bawah Kevikepan Blitar.
 
Peresmian paroki baru di Keuskupan Surabaya ini diawali dengan perayaan ekaristi yang dipimpin Mgrs. Sutikno selaku selebran utama dengan didampingi RD Tri Budi Utomo (Vikjen Keuskupan Surabaya), RD Warno (Kepala Paroki Wlingi), RD Petrus Katiran (Kepala Paroki St Fransiskus Asisi Resapombo), dan RD Soni Apri Untoro Nugroho (romo rekan Paroki Resapombo). Misa yang diikuti umat Paroki Resapombo dan umat dari paroki lain membuat gedung gereja penuh sesak. Bahkan, halaman belakang dan samping pun dipenuhi umat yang dengan setia mengikuti misa dengan khusuk.
 
Nampak sekali kegembiraan umat dengan cara melibatkan diri secara sukarela untuk menyukseskan peresmian paroki ini. Para tamu disambut oleh penerima tamu yang berpakaian adat Jawa. Misa memakai bahasa Jawa dan diiringi oleh gamelan yang dibawakan oleh umat paroki serta Orang Muda Katolik  (OMK) yang tergabung dalam Gamelan Community. Rata-rata adalah  anak anak kelas 1 dan 2 SMA. Mereka terbentuk sejak SD.
 
Dalam homilinya, Monsinyur Tikno mengajak seluruh umat Paroki Resapombo untuk bersyukur atas terbentuknya paroki baru yang sebelumnya adalah kuasi. Dengan diresmikannya Resapombo menjadi paroki, maka kedudukannya sejajar dengan paroki-paroki lain di Keuskupan Surabaya. Mengajak umat untuk bersatu dan guyub membangun  paroki dengan meneladan hidup St Fransiskus Asisi yang dipakai sebagai nama pelindung paroki serta Romo Lugano sebagai perintis berdirinya paroki.
 
 Pada kesempatan ini dilakukan pula upacara pelantikan pengurus DPP dan BGKP serta Asisten Imam. Mgr Tikno juga memperkenalkan  RD Petrus Katiran sebagai Kepala Paroki Resapombo dan RD Soni Apri Untoro Nugroho sebagai romo rekan.
 
Setelah misa usai, umat diajak untuk menyaksikan beberapa acara yang  dihadiri pejabat setempat. Di antaranya, Robertus Angkowo, Kabinmas Katolik Jatim, T. Endro Sujatmiko, Kepala Penyelenggara Katolik Kemenag Kabupaten Blitar,  Rijanto, Wakil Bupati Blitar , Hari Margono, selaku Camat Doko, AKP Sapto Rahmadi selaku Kapolsek Doko, Kapten Chudori selaku Danramil 0808/13 Doko dan Tekat Mundofar selaku Kepala Desa Resapombo. 

Wakil Bupati Blitar Rijanto mengatakan bahwa penduduk Resapombo adalah penduduk yang terdiri dari beberapa macam agama dan semuanya mampu saling bekerja sama. Umat Paroki Resapombo mampu membaur dan bekerja sama dengan umat beragama lain dalam  membangun desa. Wakil Bupati Blitar mengharapkan bahwa suasana guyub seperti selama ini akan selalu terbangun sehingga tercipta kerukunan antarumat beragama. 
 
Romo Mateus Suwarno selalu Kepala Paroki Santo Petrus-Paulus,  Wlingi, juga memberikan sambutan. Setelah itu Mgr Tikno berkenan memberi sambutan dan sekaligus melakukan penandatanganan prasasti peresmian. Acara dimeriahkan dengan beberapa tari yang ditampilkan umat dari masing-masing stasi dan lingkungan. OMK Resapombo tidak mau kalah tampil dengan band mereka.
 
Selamat kepada umat dan semoga semakin guyub dan misioner sesuai dengan cita-cita ARDAS Keuskupan Surabaya. (*)

Romo Lugano Rintis Paroki Resapombo, Blitar, Sejak 1967

Berdirinya Paroki Resapombo yang sebelumnya berada di wilayah Paroki St Petrus-Paulus Wlingi, Blitar, tidak dapat dipisahkan dari RD Fransisco Lugano pada 1967. Saat itu pemerintah RI menginstruksikan bahwa semua warga negara Indonesia wajib memeluk agama.  Kehadiran RD Lugano untuk memperkenalkan iman Katolik di Resapombo dan sekitarnya. RD Lugano menemui Kepala Desa Resapombo yaitu bapak Boiman  dan kemudian mengumpulkan semua kepala dusun (kamituwa) di Resapombo untuk diajak bermusyawarah menjadi satu dalam agama Katolik.
 
Saat itu penduduk yang mayoritas anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) merasa belum memiliki agama yang kuat. "Waktu itu warga masih ngambang, masih bingung mau memiliki kepercayaan apa," kata Suwarno, pengurus BGKP Paroki Resapombo.
 
Suwarno sendiri masih ingat kedatangan RD Lugano ke Desa Respombo. Romo asal Italia ini bersahaja, ramah, dan tidak membeda-bedakan satu dengan yang lainnya. Ini sangat mempengaruhi sudut pandang umat sehingga mereka akhirnya bersatu untuk mengimani iman Katolik. Selain itu, tata cara dalam agama Katolik juga lebih mudah. "Lebih nasional" jelas Suwarno.
 
Kehadiran RD Lugano dalam pengajaran iman Katolik dibantu oleh seorang penerjemah, yaitu Bapak Sudiarto dari Kenongo, Wlingi. Sudiarto sendiri sudah memeluk agama Katolik semenjak zaman Belanda. Pada tahun 1972 muncul beberapa pengajar agama Katolik di Resapombo, yaitu Bambang J. Heri, Petrus BA, Darmo Guru, yang dibantu oleh Petrus Subandi, Paulus Mul Meseran, Katiran, Gimun, Mulya Utomo dan Warsito. Pada perkembangannya, muncul baptisan pertama pada 1968 sebanyak 50 orang dan pernikahan pertama sebanyak 15 pasangan.
 
Pada tahun 1972 jumlah umat di Resapombo 748 jiwa yang terdiri dari 157 KK. Jika melihat perkembangan umat, RD Soni menjelaskan bahwa perkembangan umat bisa ditilik dari dua sisi. Sisi pertama adalah dilihat dari perkembangan umat pada awal pewartaan hingga saat ini mengalami penurunan. Dahulu dari enam dusun, lima dusun di antaranya menjadi stasi. Bahkan, Kepala Dusun adalah pemeluk agama Katolik. Namun, dalam perkembangannya, karena kurangnya gembala yang membimbing umat, maka  umat Katolik kurang berkembang pesat.

Namun, di sisi lain secara grafik umat, baptis dewasa mengalami perkembangan, juga pembaharuan Katolik.  Saat ini jumlah umat sebanyak 1.673 jiwa yang terdiri dari 573 KK yang tersebar di wilayah Pusat (Resapombo) sebanyak 189 KK (549 jiwa), Stasi Salamrejo sebanyak 127 KK (392 jiwa), Stasi Purworejo sebanyak 92 KK (276 jiwa), Stasi Bambang sebanyak 27 KK (81 jiwa), Stasi Tulungrejo sebanyak 30 KK (75 jiwa), Stasi Wonorejo sebanyak 28 KK (80 jiwa), Stasi Sumberbendo sebanyak 17 KK (50 jiwa), Stasi Banjarsari sebanyak 22 KK (59 jiwa), Stasi Cungkup sebanyak 41 KK (111 jiwa).
                         
Sebelum memiliki gedung gereja, peribadatan dilakukan di rumah-rumah umat. Rumah pertama yang ditempati adalah rumah Karto Kabul yang beragama Hindu namun memiliki anak yang beragama Katolik, yaitu Y Suwarno. "Dulu kalau misa sering berpindah-pindah. Bahkan rumah saya juga dipakai untuk misa. Saya sendiri dinikahkan romo di rumah saya ini," cerita Suwarno.
 
Pada tahun1974 RD Lugano membeli tanah dari Wagiran untuk dibangun gereja yang dimulai pembangunannya pada tanggal 27 November 1978 dan kemudian diberi nama Gereja St Yohanes sebagai penghormatan terhadap nama baptis Kepala Desa Resapombo Yohanes Boiman. Namun, pada tahun 1989 gedung gereja dibongkar dan dibangun gedung gereja joglo. Tahun 2006 pembangunan gedung gereja dilakukan kembali dan tanggal 4 Oktober 2009 diresmikan oleh Uskup Surabaya Mgr V. Sutikno Wisaksono.
 
Pada tanggal 4 Oktober 2011 diresmikan sebagai kuasi paroki oleh Vikjen Keuskupan Surabaya, RD Agustinus Tri Budi Utomo dan nama pelindung  menjadi Santo Fransiskus Asisi sebagai bentuk penghormatan kepada RD Francesco Lugano yang merupakan perintis Gereja Resapombo. Perubahan nama ini atas usul RD Matheus Suwarno. Pada tanggal 20 september 2014 stasi bertambah tiga lagi sehingga keseluruhan stasi adalah Stasi St Petrus Purworejo, Stasi Santa Maria Salamrejo, Stasi St Paulus Bambang, Stasi St Antonius Tulungrejo, Stasi St Gabriel Wonorejo, Stasi Corpus Christi Sumberbendo, Stasi Aloysius Banjarsari, Stasi St Fransiskus Xaverius Cungkup.

Pada tanggal 5 Oktober 2014 Mgr V. Sutikno secara resmi mengubah kuasi menjadi paroki. (*)

Paroki Resapombo, Blitar, Menatap Masa Depan

Sebagai umat yang berasal dari stasi dan kemudian sekarang menjadi paroki, Romo Soni meminta umat Paroki Santo Fransisikus Asisi, Resapombo, Blitar, perlu menciptakan rasa hidup berparoki.  Membangun rasa sensus parokius. Paroki ini sekian lama berstatus stasi, di mana umat sudah terbiasa mandiri, baik dari peribadatan, tata kelola, keuangan, dan sebagainya.
 
"Tim katekese untuk rekoleksi datang ke setiap lingkungan untuk menumbuhkan bahwa aku adalah bagian dari paroki," jelas RD Soni selaku romo rekan di Paroki Resapombo. Sebagai kuasi, struktur organisasi sudah ada namun sebagai paroki, gerakan ini sedang dimulai.

Pemberdayaan pada dewan dan membentuk tim kerja. Meski hidup berdampingan dengan umat dari agama lain, umat Katolik Resapombo selalu berusaha aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. "Orang-orang di sini senang memilih orang Katolik. Orang Katolik memiliki semangat, memberi contoh dan tidak hanya omong," jelas Thomas, seksi pendidikan Paroki Resapombo.
 
Kearifan lokal masih nampak kental. Misalnya, pada bulan Suro, atau pada hari besar masing-masing agama, penduduk saling mengunjungi satu sama lain. Umat Katolik selalu berperan aktif baik dalam kegiatan bermasyarakat misalnya ketika warga mengadakan kerja bakti ataupun membuat rumah penduduk secara gotong royong maka umat Katolik tidak tinggal diam dan selalu siap membantu. Orang Muda Katolik pun aktif berperan serta, misalnya mengikuti gerak jalan, berpartisipasi dalam kegiatan bazaar, karnaval di kecamatan.
 
Selain kegiatan dalam masyarakat, umat juga mengembangkan kegiatan internal sendiri. Wanita Katolik mengadakan pertemuan rutin pada hari Senin, Seksi Sosial yang bekerjasama dengan PSE Keuskupan Surabaya memberdayakan umat dengan menanam pisang dan memelihara kambing secara bergulir. "Rencana ada pembicaraan dengan pengurus DPP untuk usaha jamur karena tempat cocok dan pemasaran bagus," kata Romo Katiran mengenai rencana ke depan kegiatan umat di paroki.
 
Selain kegiatan secara fisik, Romo Katiran dan Romo Soni juga selalu mendorong umat untuk mengembangkan sisi rohani. Setiap hari di paroki selalu diadakan misa harian dan setiap Jumat pertama setelah misa diadakan salve dan Jumat pada minggu-minggu berikutnya ada adorasi pribadi. Ada pula misa malam Jumat Kliwon di Sendang Purwoasih Stasi Salamrejo pada pukul 19.00.
 
"Ada misa wilayah dengan pertimbangan supaya umat satu dengan yang lain lebih dekat sekaligus romo bisa melakukan kunjungan ke rumah umat. Romo berinteraksi dengan umat, mengadakan dialog guna mengetahui permasalahan umat. Setelah misa  dilakukan sarasehan. Romo datang secara bergantian," jelas Romo Katiran.
 
Di sisi lain, romo juga melihat perkembangan kegiatan yang dilakukan oleh tim katekese. Adanya  rekoleksi umat (pembinaan umat), KKS yang mengadakan pertemuan 2 minggu sekali untuk semua orang yang ditunjuk sebagai  pemberi renungan. Mereka diberi bekal belajar Kitab Suci dan  teknik homilitika.  Selain itu juga ada tim calon baptis dan komuni pertama. Umat sungguh-sungguh diajak untuk menghayati iman dalam suatu gerakan yang dinamis.
 
Ada beberapa rencana strategis yang dikembangkan untuk pemberdayaan umat, yaitu:
 
(1) Pematangan Program Kerja Paroki,
(2) Memperkuat kinerja pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP),
(3) Rekoleksi umat lingkungan dan stasi,
(4) Katekese umat,

(5) Menghidupkan kelompok-kelompok (kategorial) yang ada misalnya mendampingi kelompik WKRI ranting sebagai pendamping rohani, menghidupkan kelompok Legio Maria,
(6) Aneka bentuk persiapan bagi para penerima sakramen,
(7) Perayaan ekaristi yang semarak,
(8) Peningkatan ekonomi umat.
 
Sedangkan pengembangan sarana-prasarana adalah dengan pembangunan gereja dan aula, pengadaam sarana-sarana peribadatan, melengkapi beberapa fasilitas yang belum ada.
 
Dengan visi paroki "sebagai persekutuan murid-murid Kristus yang semakin dewasa dalam iman, guyub, penuh pelayanan missioner dan mandiri" serta misi paroki "katekese umat yang berkelanjutan, penguatan pengurus paroki dalam setiap jenjangnya (lingkungan, stasi, DPP) dan menghidupkan timkerja-tim kerja pastoral", semoga umat dapat bertumbuh dalam iman sesuai dengan cita-cita arah dasar Keuskupan Surabaya.

Proficiat bagi seluruh umat Paroki St Fransiskus Asisi Resapombo! (*)

Forum Pelangi di Paroki Algonz Jalin Kebersamaan

Dua pekan setelah Idul Adha, Seksi Kerasulan Awam Paroki St. Aloysius Gonzaga, Surabaya, Forum Komunikasi Masyarakat Pelangi mengadakan acara makan malam bersama lintas agama. Menunya sate dan gule kambing.
 
Forum Komunikasi Masyarakat Pelangi (FKMP) selama 13 tahun menjalin komunikasi dengan warga muslim di wilayah Paroki Algonz. Setiap tahun forum ini menggagas acara bagi-bagi takjil, buka puasa bersama, menyembelih hewan kurban, hingga mengundang Ibu Sinta Nuriyah, istri mendiang Gus Dur.
 
Kebersamaan juga terlihat dari pertemuan dan arisan tiap hari Rabu kedua. FKMP ingin menunjukkan bahwa perbedaan agama bukanlah halangan untuk membangun persaudaraan sejati di tengah masyarakat.
 
Mengapa disebut masyarakat pelangi? Toni dari Seksi Kerawan Algonz menjelaskan, forum ini memang ibarat pelangi yang memiliki warna berbeda tapi indah. Ada anggota yang Islam, Katolik, Protestan, Jawa, Tionghoa, Flores, Batak, dan sebagainya. "Tapi semuanya guyub, rukun satu sama lain, dan saling menghargai, ujar Toni.
 
 
Andreas Erick Lega

Catatan Romo Sumarno dari Kepulauan Tanimbar, Maluku

Oleh RD I.Y. Sumarno
 

Jumat, 3 Oktober 2014. Sekitar pukul 14.30 WIT tiba di Bandara Tanimbar, peserta Munas Unio Indonesia disambut masyarakat/umat yang besar jumlahnya. Mereka mengantar kami masing-masing ke tempat live-in. Saya bersama RD Gregorius dari Atambua mendapat tempat di Stasi Wowonda, Paroki Maria Bintang Laut, Tanimbar.
 
Setelah tiba di Stasi Wowonda, pukul 15.30, kami berdua disambut umat, diberi upacara dan pengalungan syal. Kemudian semua umat menari sambil menggandengan tangan kami masing-masing. Sepanjang jalan sekitar tiga kilometer kami bergandengan tangan dan menari: maju dua langkah dan mundur tiga langkah, tari Wayase. Setelah sampai di gereja kami istirahat sejenak.
 
Saya mendapat tempat di keluarga Bapak Romroman. Saya dijemput Bapak Romroman berserta ibu. Setelah tiba di rumah, disambut dua anak laki-laki: Justin dan Marco plus bibinya.
 
Sekitar pukul 18.00 kami Misa Jumat Pertama setelah mandi dan makan 10 menit. Misa lancar dilanjutkan Doa Rosario dan ditutup dengan pendalaman iman. Ada dua tempat di Gereja, saya yang memberi pendalaman iman dan RD Gregorius di tempat lain. Kami sudah lelah tapi kami senang dengan acara yang padat.
 
Sabtu, 4 Oktober 2014. Misa kudus pukul 06.00 meski umat sedikit karena tidak biasa misa harian kami tetap misa. Setelah sarapan kami berkunjung ke empat sekolah yang ada di Wowonda. SMP Negeri-Katolik (Nekat), SD Nekat, TK Katolik, dan PAUD. Ada yang menarik saat kunjungan di SMK Nekat. Kami diminta memberkati seluruh ruangan karena sering terjadi siswa kesurupan. Semua guru dan kepala sekolah serta rombongan umat yang menyertai kami berkumpul dan berdoa.
 
Setelah selesai doa, kami memerciki  dengan air suci semua yang hadir dan ruangan. Siang hari jam 12.30 selesai kunjungan.
 
Pukul 13.00 kami rekreasi bersama di pantai. Semua rukun (10 rukun/lingkungan) naik kapal kecil menuju tempat rekreasi. Saya juga naik perahu. Setelah sampai di pantai kami diminta berkenalan dengan penghuni pantai. Kami bersama beberapa tua-tua ke dalam hutan dan di sana ada sumber air dan saya diminta minum air yang diambil dari tempurung kelapa. Kami berdua minum dan bahkan saya cuci muka. Biar awet muda.

Umat dan anak-anak, tua-muda semua bergembira, mandi di pantai, bermain bola. Setelah cukup lalu kami makan siang. Kami diberi piring dan diminta berkeliling ke 10 rukun yang duduk berkelompok-kelompok. Sambil berkeliling kami mencicipi makanan yang dibawa mereka masing-masing. Wah, sangat kenyang, perut seperti mau meletus. Setelah makan masih dilanjutkan acara lomba lari tiap-tiap rukun, foto-foto tiap rukun atau perorangan.
 
Sekitar pukul 16.00 kami semua pulang dengan berjalan kaki, sekitar 3 kilometer naik dan turun gunung kecil. Rencana semula berangkat naik perahu, pulang juga perahu. Tapi air laut kering dan kalau nunggu pasang bisa jam 18.00 atau 19.00. Wah, kemalaman. Maka, diputuskan jalan kaki saja bersama-sama. Capek belum pulih sekarang harus jalan kaki lagi.
 
Ada undangan di balai desa untuk semua warga. Acara Malam Minggu, Berdansa Ria. Setelah makan malam di rukun atas dengan menu daging babi dan ubi dimasak di atas batu yang membara dan ditutup dengan daun pisang, kurang lebih 3-4 jam, semua makanan sudah masak. Kami mencicipi dan betul wuenaaak tenan... disertakan minum tuwak (sepi tipis-tipis). 

Sekitar jam 20.00 kami menuju ke balai desa untuk acara malam Minggu. Acara dansa OMK sampai jam 02.00 lalu kami semua OMK istirahat.
 
Minggu, 5 Oktober 2014. Misa Kudus bersama umat semua di gereja dengan konfigurasi adat budaya plus tarian dan persembahan. Misa berjalan meriah selama 2,5 jam. Tampak perpaduan budaya tari dan menyanyi oleh rombongan penari. Bagus, rapi, dan kompak.

Ada yang aneh, umat hadir 900 orang tapi tidak ada asisten imam. Jadi, kami berdua membagi komuni sampai kejang-kejang tangan kami. Tidak hemat waktu. Tapi umat punya alasan. Mereka tidak puas menerima komuni dari tangan umat/asisten imam dan harus dari tangan romo.
 
Pukul 13.00 kami siap-siap bersama-sama rombongan umat ke alun-alun/lapangan Saumlaki. Di sana berkumpul semua umat dari semua paroki di Tanimbar. Jalanan Kota Saumlaki penuh sesak oleh konvoi umat beserta kendaraan yang dibawa, suara bising oleh kendaraan dan bunyi genderang dan nyanyian umat di atas kendaraan tanpa atap (terbuka).  

Setelah mendekati Lapangan Saumlaki kami semua turun dari kendaraan dan berjalan ke Aula Besar milik Wisma Unio, konon dibangun oleh dana pemerintah setempat. Kami para imam bersiap-siap di aula tersebut, sambil minum ringan.
 
Mendekati pukul 17.00 rombongan penari dan Patung Kristus Raja diarak dengan tandu menuju lapangan. Para imam mengikuti di belakang rombongan penari. Misa akbar dengan konselebran utama Uskup Timika Mgr John Saklil didampingi Ketua Unindo dan Pastor Kepala Paroki Saumlaki. Imam yang hadir 42 romo diosesan dan umat kira-kira 10.000 umat. Setelah misa ada makan malam bersama bupati, kepolisian, undangan VVIP pemerintahan dll di Wisma Unio, aula besar. Dan umat makan di tenda-tenda yang ada.
 
Sekitar jam 20.00 pulang ke Wowonda. Tapi masih menunggu satu acara: perpisahan dengan umat. Jam 22.00 acara perpisahan digelar. Tarian dan minum untuk semua umat yang hadir. Kami doa terus, moga tetap sehat dan kuat. Acara selesai jam 02.00 kami pulang tapi umat/OMK masih terus dansa ria sampai jam 03.00.
 
Senin, 6 Oktober 2014. Setelah sarapan pagi kami siap-siap kembali ke Bandara Tanimbar menuju Ambon. Tapi kami harus pamitan, dengan tiap-tiap ketua rukun/lingkungan yang akan datang ke tempat kami menginap. Di balai bengong sambil minum, makan ringan, ngobrol dan foto bersama, kami berpamitan dengan mereka.

Setelah dibuka dengan doa bareng, jam 13.00 rombongan berangkat ke bandara. Konvoi arak-arakan mulai bergerak menuju bandara. Tiba di bandara, rombongan kami umat Wowonda terus menari tak kunjung berhenti, seakan tak rela kami berpisah. Sekitar 200 orang menggelora larut dalam nyanyian dan tarian.

Pukul 15.00 pesawat tiba dan kami para imam terbang kembali ke Ambon. Sayonara umat Wowonda dll, KepulauanTanimbar. Sekitar jam 17.15 kami tiba di Ambon (2 jam 15 menit). (*)

Keberanian di Tengah Metropolitan

Oleh Felix Juno
Formandi Seminari Tinggi Providentia Dei
 
Kotaku menyajikan berbagai drama kehidupan manusia yang dinamis. Metropolis. Ia menampakkan diri sebagai sebuah medan proses untuk mengalami ini dan itu. Suka-duka-kegembiraan-kegelisahan hidup. Di sanalah kau temukan pria berdasi menikmati espresso di sebuah kedai kopi, perempuan paruh baya dan putri kecilnya di bilik tripleks, pemuda dan gadisnya memasuki XXI.
Pria renta tertidur di sebuah becak, bocah-bocah berseragam putih-merah, putih-biru, putih-abu-abu, dan bocah-bocah tanpa busana di sebuah kali, berangkat dalam kemacetan pulang dalam kondisi yang sama, keluarga-keluarga menikmati weekend di taman kota. Keluarga-keluarga muda gali lobang tutup lobang demi susu formula, deretan etalase emas dan deretan pengepul besi tua, kawasan rintisan city-town bersanding rawa-rawa, para pemilik dompet berselera pasar tumpah dan produk KW, kumandang Adzan dan pujian Mazmur terbumbung bersama, dan masih banyak lagi yang bisa kau temukan di sana.
Beberapa waktu yang lalu kami pulang dan tiba-tiba berteriak, "Audacia! Kami adalah para Pemberani!"
Pantaslah jika cibiran penentang arogansi terdengar dan nyinyir atas stempel kenekatan beberapa sudut kota kami yang diduga melekat pada diri kami terungkap. Mungkin pula ada dugaan bahwa kelimpahan materi membuat kami berani melakukan langkah ini. Ini bukan soal pembelaan diri atas hal itu. Ketahuilah bahwa di usia lima tahun ini, kami sedang belajar melangkah. Butuh keberanian untuk melakukannya. Keluar dari zona kelembaman dan maju menghidupi realitas.
Kami sudah pernah hidup di lokus yang lain. Hanya saja, kami ingin mengalami proses yang lain. Apakah hanya karena ingin? Apakah itu tidak terlalu angkuh? Mengapa punya keinginan seperti itu? Bukankah pengalaman dan perjumpaan langsung akan memberikan bekal yang baik bagi kami untuk menjalankan panggilan kami esok hari. Hadir lebih dekat, mengenal lebih intim, mengalami lebih intens, dan menyapa dalam keterlibatan aktif dengan Gereja lokal adalah sebuah kerinduan yang hendak kami obati: saling menjadi berkat sebagai Gereja. Di sebuah kota metropolis ini.
***
Pada mulanya adalah Audacia (Keberanian) untuk dibentuk. Memang tak dapat kuanalogikan sebagai bayi yang baru saja keluar dari rahim ibunya. Namun, kami memang harus mengalami berbagai bentuk adaptasi dan merintis proses pembelajaran. Langkah pertama yang kami lakukan adalah mengatur irama langkah hidup kami. Konsistensi menjadi salah satu kekhasan dalam kehidupan kami. Konsistensi itu kami hayati dengan semangat keseimbangan.
Ketika keseimbangan hidup terjaga, keseimbangan kualitas hidup kami pun perlahan-lahan terbentuk. Itu tujuannya dan ada banyak jalan menuju ke sana. Kami membangun irama itu dan berusaha setia menghidupinya. Kami yang merintisnya, maka kami punya tanggung jawab untuk mengembangkannya. Untuk bertanggung jawab, untuk dipercaya, untuk peka terhadap gejala ketidakseimbangan yang mungkin terjadi, kami butuh keberanian; berani terbuka dan bersikap kritis.
Ada yang mengatakan bahwa Keberanian adalah suatu rahmat. Apakah itu cuma-cuma? Ataukah itu buah dari sebuah perjuangan? Kita letakkan keberanian sebagai sebuah keutamaan. Audacia yang kami hayati bukan kenekatan yang mencerminkan sikap reaktif, gegabah, dan ceroboh. Keberanian ini bukanlah rasionalisasi yang jauh dari sikap reflektif. Ia tentu berseberangan dengan sikap pengecut. Ia berada di tengah antara sikap pengecut dan kenekatan. Berada pada posisi ekstrem berarti tak memahami horizonnya, realitas dan esensinya. Pendek kata, ia tak bijaksana. Berani itu bijaksana.
Beberapa langkah selanjutnya tantangannya semakin nyata. Beberapa dari kami sudah menatap dan menetap di metropolis. Sembari menanti rumah baru, keluarga ini harus mulai menghidupi semangat Non Scholae sed Vitae Discimus. Dunia pendidikan menyuguhkan proses dan pengalaman yang mendorong kami untuk mampu bereksplorasi seluas-luasnya, seluas realitas yang ada. Di situ kami mulai belajar untuk setia menggali, belajar untuk berani menelisik, menggugat, mengajukan pandangan kritis termasuk atas kehidupan pribadi kami, dan mempertanggungjawabkan disposisi yang telah diambil.
Di usia balita, tradisi baik yang pernah kami alami, kami coba bangkitkan di rumah baru kami. Tradisi baru pun kami bangun secara perlahan sebagai bentuk usaha untuk menghayati semangat Audacia dengan karakter khas keluarga ini. Setiap dari kami dipanggil untuk berani memaknai setiap dinamika khas rumah ini. Setiap anggota keluarga juga mulai mematangkan dimensi-dimensi tertentu dalam dirinya dengan lebih serius dan terfokus. Dengan begitu, kami dibentuk menjadi pribadi yang berani untuk hidup secara otentik, apa adanya, dan sederhana.

***
 
Manusia-manusialah yang menjalani proses ini. Sesuai dengan personalitasnya masing-masing, mereka bereksistensi sebagai individu mandiri dan anggota komunitas. Ada dari mereka yang beranggapan bahwa hidup ini adalah perjuangan. Pun ada yang yakin bahwa hidup ini adalah anugerah yang patut selalu dijalani dan disyukuri. Bahkan ada yang berpikir bahwa hidup ini absurd: indah, penuh tantangan, tangisan, menggembirakan, misterius, mendadak dan tak terduga, dapat diisi dengan rencana indah namun kadang tampak sebagai keterlemparan (kebetulan), sederhana namun ribet juga dijalani. Dengan semangat Audacia, pilih salah satu: bunuh diri atau berpengharapan.
Keberanian manusia adalah keberanian yang bisa bersifat rasional, emosional,  dan bahkan spiritual. Ketika karya ini dimulai dan dijalani, kami gunakan akal budi kami sehingga karya ini rasional. Kami gunakan hati kami agar karya ini menyapa setiap hati yang ada di sekitar kami. Kami menjadi berani karena kami tahu apa yang harus kami lakukan karena itu benar. Kami menjadi berani karena punya hati yang menghendaki apa yang baik. Namun, kami juga menjalani karya ini dengan iman. keberanian kami karena iman adalah keberanian untuk mempercayakan karya ini pada penyelenggaraan Ilahi (Providentia Divina). Kami belajar untuk hidup dalam semangat keberanian karena Tuhan lah yang menyelenggarakan hidup kami. Kadang perjalanannya menjadi sulit dipahami dengan rasio. Tak jarang pula perjalanan ini disisipi oleh hal-hal tak terduga di luar kehendak kita. Kalau sudah begitu, terus berjuang dengan rasio dan hati serta berpengharapan pada Sang Penyelenggara tetap jadi pilihan. Bukan lalu bunuh diri-menyerah kalah.
Seorang imam perintis karya ini pernah berujar, "Providentia Dei telah berjalan. Tugasmu sekarang kudu wani, kudu gelem repot!"
Bolehlah engkau beriman: rencana Tuhan melebihi rencanaku, Penyelenggaraan Tuhan terjadi dalam hidupku, hidupku di tangan-Mu Tuhan. Terus nek wes ngono kowe arep ngopo?
Iman yang hidup, pengharapan yang hidup, adalah iman dan pengharapan yang nyata dalam kasih yang hidup. Kasih yang hidup itu dihayati dan dihidupi dalam pengorbanan. Berani berkorban bagi kebaikan bersama, demi komunitas. Berani berkorban itu berani keluar dari zona nyaman untuk mengambil inisiative action. Berani berkorban itu mau mengkomunikasikan diri, terbuka bagi dan kepada orang lain. Bukan lagi aku yang mendominasi segalanya. Tapi aku yang mau bekerjasama dengan sesama.
"Ecce ancila Domini. Fiat mihi secundum verbum Tuum." Pemilik spirit itulah yang menjadi pelindung perjalanan kami. Beliau adalah sosok pemberani: berpengharapan pada Tuhan dan penuh pengorbanan. Pun St. Yohanes Maria Vianney yang menjadi teladan kami: seorang imam diosesan yang penuh iman, harapan, dan kasih. Semoga kami mewarisi semangat mereka.
Keberanian menuntun kami untuk melangkah kepada semangat menghadirkan diri dalam doa dan karya. Dan ini adalah sebuah proses belajar. Kami harus juga berani bersikap rendah hati. Kami berusaha dan belajar berani ini dan itu. Namun, jika tanpa kerendahan hati menyadari situasi batas diri dan belajar berpaut kepada Sang Penyelenggara, maka ini semua hanya sementara.
Seminari Tinggi Providentia Dei memang baru genap berusia lima tahun dan berada di dalam rencana-Nya tentu ada jaminan akan sebuah perjalanan yang unpredictable. Dan itu akan menjadi perjalanan yang asyik. (*)