Oleh RD Illidius Y. Sumarno
Pada umumnya masyarakat mengenal Ambon sebagai daerah konflik, daerah bertikai antar umat beragama, khususnya Islam dan Protestan. Melihat komposisi penduduk memang pemeluk Islam sebanding dengan Protestan plus Katolik: jumlah yang sama banyaknya, temperamental yang sama, dan masih banyak penduduk berpenghasilan rendah. Kondisi ekonomi lagi-lagi menjadi biang keladi konflik. Konflik horizontal sudah selesai 15 tahun lalu (meletus tahun 1999). Namun menghapus citra buruk tidak semudah membalik telapak tangan.
Pasca konflik muncul pengkotak-kotak daerah: daerah sana mayoritas Islam, daerah lain Protestan. Ini semacam bom waktu. Api dalam sekam. Bila ada provokator memulai maka sangat mungkin meletus lagi. Maka, usaha terus-menerus diadakan dialog antar pemimpin agama dan masyarakat bawah. Kerja sama yang harmonis terus dilakukan guna membangun hidup rukun "kitorang basudara".
Beberapa event penting di Ambon dilakukan bersama-sama, bahu membahu. MTQ se-Indonesia di Ambon disiapkan oleh semua orang, semua agama ikut serta mensukseskan. Pertemuan para dosen se-Indonesia diadakan di Ambon. Munas XI para pastor se-Indonesia digelar di Islamic Center. Para kamula muda Islam menyiapkannya, selain panitia munas. Semua ini guna menyampaikan kepada dunia dan Indonesia bahwa Ambon sudah damai. Datanglah ke Ambon dan ber-acara-lah.
Jasa umat Katolik sangat terasa untuk menjadi penengah dalam konflik, terlebih jasa Mgr P.C. Mandagi. Beliau dibilang 'Sang Penyelamat' Ambon. Ketika pemerintah sudah tak tahu apa yang harus dibuat, Mgr Mandagi turun tangan. Dengan berani dan bertaruh nyawa melerai bila ada kelompok ingin saling membunuh.
"Kita ini manusia, bukan binatang. Kita semua sama-sama kehilangan sanak keluarga, apa masih ingin menambah kehilangan nyawa keluarga? Ayo saling mengampuni, saling melupakan. Kita semua bersaudara, harus saling mengasihi"
Teriakan Nabi Ambon ini didengarkan oleh semua pihak. Maka, terjadilah saling mengampuni dan berdamai kelompok yang berselisih. Jasa besar ini dihargai oleh pemerintah dengan rasa hormat dan segan terhadap Gereja Katolik. Ada orang Katolik yang duduk di pemerintahan dan melihat bahwa ada dana untuk pengembangan rohani pemeluk agama, maka keuskupan/gereja mengajukan fasilitas kendaraan sehingga Mgr Mandagi mendapat mobil dinas plat merah.
Wakil Uskup (Vikjen) juga mendapat mobil plat merah satu-satu. Untuk keperluan Munas XI ini pemerintah juga memberikan donasi besar kepada keuskupan. Termasuk di dalamnya pengamanan yang super mewah dan pentupan jalan-jalan protokol, pengawalan dengan mobil dan motor polisi serta lima bus pengangkut peserta munas.
Gereja dan negara/pemerintah harus berdandengan tangan secara harmonis, jujur, dan terbuka dalam mengamankan Ambon, dan Maluku secara umum. Inilah misioner gereja yang konkret dan dapat dirasakan oleh masyarakat. Seharusnya hal ini menjadi contoh untuk dilanjutkan di keuskupan peserta munas masing-masing. Berani dan siap ambil risiko apa pun, termasuk nyawa, bila harus tampil menjadi penengah di daerah konflik.
Gereja jangan tiarap, tak mau tahu, atau menghindar dari persoalan aktual masyarakat. Gereja Katolik tak boleh sembunyi di menara gading, tembok tinggi pastoran dan pura-pura berdoa di gereja yang megah dengan menara-menara yang menjulang ke langit itu. Gereja harus berani berbuat!!
BUDAYA DAN IMAN
Semua orang tahu bahwa orang Ambon adalah jago-jagonya tarik suara. Sejak lahir sudah pandai menyanyi. Demikian juga menari adalah bawahan sejak lahir. Menyanyi dan menari adalah milik Ambon, umumnya Maluku. Seperti kami alami sendiri. Ketila live-in di Wowonda-Tanimbar, kami diajak menari dan menyanyi. Semakin kami ikut larut dalam nyanyian dan tarian mereka semakin semangat. Seakan api yang disiram premium, makin berkobar-kobar. Bagi mereka, kami diterima secara lahir dan batin bila ikut menyanyi dan menari. Inilah budaya yang dibawa sejak lahir.
Di dalam liturgi kami merasakan bahwa para penari dan pembawa persembahan terlibat secara batin seakan membawa persembahan dan menari untuk Tuhan. Melihat cara mereka memberikan persembahan sambil menari-nari. Dan kami pun menerima persembahan sambil bergoyang sedikit, perasaan hati umat sangat gembira. Ini komentar mereka. Iman dan budaya bergandengan tangan. Pakaian dan perangkat perang para penari memperlihatkan bagaimana mereka ingin menghalau segala godaan yang datang bila menghalang-halangi persembahan mereka kepada Tuhan.
Di Jawa juga punya budaya dan iman, tapi apakah bisa ditampakan dalam liturgi. Selama ini gamelan dan tarian sebagai pengiring pembukaan dan persembahan hanya di paroki desa. Tarian hanya sekadar ditempelkan dan bukan bermakna yang lebih dalam, yakni penjaga iman, penghalau godaan setan atau roh jahat.
Seperti kami ungkap di atas bahwa panitia begitu antusias menyambut kedalatangan kami. Kami disambut mulai dari bandara Ambon oleh puluhan panitia plus Mgr Mandagi juga ikut menyambut. Tanpa berlama-lama setelah upacara pengalungan syal, kami rombongan langsung diantar ke bus dan meluncur ke Keuskupan. Setelah tiba dijamu dengan makan minum yang melimpah. Tas dan kopor sudah diletakkan di depan kamar kami masing-masing oleh para petugas. Kerja cepat dan tepat.
Para petugas dari panitia memberi arahan atau pengumuman secara jelas dan mudah dimengerti sehingga acara sangat lancar. Buku pedoman dan buku acara serta agenda liturgy sudah dibagikan sehingga memperlancar kami, para peserta dalam mengikuti acara demi acara. Totalitas panitia patut diacungi jempol.
Ketika kami live-in, umat begitu antusia menyambut kedatangan kami di bandara. Ribuan umat berjubel menyaksikan upacara menerimaan dan pengalungan syal dan jamuan minum di ruang VIP Bandara Tanimbar. Kemudian masing-masing pastor diantar dengan konvoi kendaraan roda 4 dan roda 2 beratus-ratus ke tempat live-in masing-masing. Setelah tiba di tempat live-in disambut dengan tarian dan nyanyian. Semua orang ikut menyanyi karena lagunya sudah dikenal sejak kecil. Semua orang tampak gembira dan sukacita.
Acara demi acara para pastor dilibatkan. Tidak ada waktu tersisa bahkan acara digelar sampai dini hari (jam 02.00 bahkan 03.00). Kami sangat terkejut dengan acara yang super padat. Capek luar-dalam tak kami rasakan demi kebahagiaan umat.
Totalitas panitia dan umat Keuskupan Amboina banyak pastor memujinya. Sungguh besar kesadaran umat untuk ambil bagian dalam mensukseskan Munas XI. Peran Mgr Mandagi memberi perintah dan kepercayaan kepada panitia dan umat untuk bekerja sebaik-baiknya. Dana dari Keuskupan, pemerintah, dan umat serta donatur dan peserta Munas (Keuskupan dan Unio masing-masing) ikut memperlancar gerak acara demi acara. Dan, tak kalah penting, totalitas para petugas kepolisian sangat terasa ketika mengawal perjalanan peserta Munas dari tempat satu ke tempat lain.
Dukungan pemerintah daerah, Gubernur Maluku, dan para pejabat, juga Bapak Wali Kota Ambon dan jajarannya sangat besar. Kerja sama semua pihak, Gereja, dan pemerintah sangat dibutuhkan demi suksesnya munas ini. Semoga totalitas tersebut menjadi pembelajaran kita bila hendak menggelar event tingkat nasional seperti Munas. "Pekerjaan seberat apa pun bila dikerjakan bersama pasti terasa ringan." Syalom!
Ponorogo, 17 Oktober 2014
Friday, December 5, 2014
Rumah Singgah Jadi Biara Suster TMM
Tahun 1998 Susteran TMM (Tarekat Maria Mediatrix), yang berpusat dan berkarya di Maluku, Keuskupun Ambonina, mulai mengembangkan karyanya di Surabaya. Pada awalnya biara Susteran TMM hanya berupa rumah singgah sederhana bagi para suster yang kuliah di Surabaya atau suster yang transit. Karena itu, para suster TMM yang ada di Surabaya selalu silih berganti.
Meskipun begitu, para suster TMM selalu ikut ambil bagian dalam pelayanan di Paroki Santo Stefanus, Manukan, Surabaya.
Dari sebuah rumah singgah inilah, karya suster TMM terus berkembang. Para suster tidak saja membantu berpastoral di paroki, tetapi juga membantu umat dan masyarakat yang bekerja dan membutuhkan penitipan anaknya selama bekerja. Lambat laun jumlah anak yang dititipkan semakin banyak. Dan, kini susteran TMM bukan saja sebagai TPA (Tempat Penitipan Anak), tetapi juga telah menampung beberapa anak yang berasal dari Indonesia Timur, sehingga juga menjadi sebuah panti asuhan.
Begitulah. Dari sebuah rumah singgah yang sederhana menjadi TPA dan panti asuhan, apakah cukup memadai dan layak bagi penghuninya. Maklum, bangunan sederhana di Jalan Manukan Lor II/43, Tandes, Surabaya, ini bila musim hujan sering kebanjiran. Genangan air bukan saja di halaman rumah, air juga masuk ke dalam ruangan. Berangkat dari keprihatinan ini, maka suster TMM bersama beberapa umat baik dari Paroki St. Stefanus dan beberapa paroki ingin melakukan renovasi bangunan yang ada.
Panitia kecil telah terbentuk. Begitu pula persetujuan dari Kepala Biara TMM Sr. Margarethis Kelen TMM, restu dari Pastor Kepala Paroki St. Stefanus RD Paulus Gusti Purnomo, juga Bapa Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono. Maka, tahap demi tahap rencana renovasi bangunan rumah biara susteran TMM mulai dilaksanakan.
Peletakan batu pertama yang diawali dengan perayaan ekaristi dipersembahkan oleh Vikep Surabaya Barat RD Prima Novianto berselebran dengan Romo Kepala Paroki St. Stefanus RD Paulus Gusti Purnomo pada 30 Juni 2014. Misa yang dimulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 10.15 itu dilanjutkan dengan acara pemberkatan dan peletakan batu pertama.
Kemudian sambutan-sambutan serta ramah-tamah para undangan. Hadir dalam perayaan ekaristi umat Paroki St. Stefanus serta para simpatisan dari luar paroki.
Semoga pembangunan ini dapat berjalan dengan baik dan lancar sesuai harapan, serta indah pada waktunya. Bagi pembaca JUBILEUM yang tergerak dan ingin membantu karya para suster TMM baik berupa bahan bangunan atau dana dapat menghubungi Suster Teressa Da Costa TMM di HP 081 31654 2518 atau dapat langsung transfer ke BCA Cabang Tandes nomor rekening 6170274529 atas nama Suster Teressa Da Costa.
Dukungan doa yang terus-menerus juga sangat dibutuhkan oleh para suster dan panitia pembangunan. (Rubby)
Meskipun begitu, para suster TMM selalu ikut ambil bagian dalam pelayanan di Paroki Santo Stefanus, Manukan, Surabaya.
Dari sebuah rumah singgah inilah, karya suster TMM terus berkembang. Para suster tidak saja membantu berpastoral di paroki, tetapi juga membantu umat dan masyarakat yang bekerja dan membutuhkan penitipan anaknya selama bekerja. Lambat laun jumlah anak yang dititipkan semakin banyak. Dan, kini susteran TMM bukan saja sebagai TPA (Tempat Penitipan Anak), tetapi juga telah menampung beberapa anak yang berasal dari Indonesia Timur, sehingga juga menjadi sebuah panti asuhan.
Begitulah. Dari sebuah rumah singgah yang sederhana menjadi TPA dan panti asuhan, apakah cukup memadai dan layak bagi penghuninya. Maklum, bangunan sederhana di Jalan Manukan Lor II/43, Tandes, Surabaya, ini bila musim hujan sering kebanjiran. Genangan air bukan saja di halaman rumah, air juga masuk ke dalam ruangan. Berangkat dari keprihatinan ini, maka suster TMM bersama beberapa umat baik dari Paroki St. Stefanus dan beberapa paroki ingin melakukan renovasi bangunan yang ada.
Panitia kecil telah terbentuk. Begitu pula persetujuan dari Kepala Biara TMM Sr. Margarethis Kelen TMM, restu dari Pastor Kepala Paroki St. Stefanus RD Paulus Gusti Purnomo, juga Bapa Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono. Maka, tahap demi tahap rencana renovasi bangunan rumah biara susteran TMM mulai dilaksanakan.
Peletakan batu pertama yang diawali dengan perayaan ekaristi dipersembahkan oleh Vikep Surabaya Barat RD Prima Novianto berselebran dengan Romo Kepala Paroki St. Stefanus RD Paulus Gusti Purnomo pada 30 Juni 2014. Misa yang dimulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 10.15 itu dilanjutkan dengan acara pemberkatan dan peletakan batu pertama.
Kemudian sambutan-sambutan serta ramah-tamah para undangan. Hadir dalam perayaan ekaristi umat Paroki St. Stefanus serta para simpatisan dari luar paroki.
Semoga pembangunan ini dapat berjalan dengan baik dan lancar sesuai harapan, serta indah pada waktunya. Bagi pembaca JUBILEUM yang tergerak dan ingin membantu karya para suster TMM baik berupa bahan bangunan atau dana dapat menghubungi Suster Teressa Da Costa TMM di HP 081 31654 2518 atau dapat langsung transfer ke BCA Cabang Tandes nomor rekening 6170274529 atas nama Suster Teressa Da Costa.
Dukungan doa yang terus-menerus juga sangat dibutuhkan oleh para suster dan panitia pembangunan. (Rubby)
Satu Abad Ursulin di Madiun
Oleh Romo John Tondowidjojo CM
Menelusuri 100 tahun Misi Pewartaan Ordo Santa Ursula di Madiun saya teringat kata-kata dalam 1 Tesalonika 5:18: in Omnibus gratias agite.. (dalam bahasa Indonesia: dalam segala hal bersyukurlah!). Seluruh isi kata-kata tersebut tidak lain merupakan ucapan syukur saya atas berkembangnya Ordo Santa Ursula yang memasuki kurun waktu 100 tahun di Madiun. Mengingat saya alumnus Sekolah Ursulin di Madiun, maka saya sudah harusnya turut bersyukur akan pencapaian HUT 100 tahun itu.
Refleksi perjalanan sejarah 100 tahun Ordo Santa Ursula (Suster Ursulin sapaan akrab mereka) berkarya di Madiun, membawa saya kembali kepada permenungan atas perjalanan rohani yang panjang. Saya harus berhenti sejenak, meniti kembali langkah-langkah sejarah tersebut. Dalam perjalanan rohani tersebut kadang saya harus menoleh, melihat jejak langkah itu, kadang mulus dan indah, namun sering pula ada sedikit gejolak yang membuat saya harus menghela napas agak dalam. Semua catatan sejarah karya para Suster Ursulin itu saya sadari dan saya anggap sebagai suatu pengalaman rohani yang sangat berharga. Semua itu patut direfleksikan dan disyukuri bagi semua umat beriman di Madiun.
Banyak orang mengetahui bahwa Suster Ursulin berhasil dalam karya pendidikan di mana-mana, termasuk di Madiun. Tapi banyak yang tidak tahu bahwa setiap pencapaian keberhasilan adalah buah-buah pergulatan batin. Perjuangan menyeimbangkan aksi-refleksi, komitmen bersama, dan tunduk pada penyelenggaraan Ilahi. Inilah yang membuat Suster Ursulin berani mengambil keputusan besar pengubah sejarah: berkarya di Madiun dan mempertahankannya ketika kondisi memburuk sekalipun.
Coba bayangkan, apa jadinya jika saat dibutuhkan, Suster Ursulin tidak mau datang berkarya ke Madiun? Tentu karya pendidikan dan pastoral untuk masyarakat Madiun tidak mungkin terbantu dan menjadi seperti sekarang ini.
Embrio karya para Suster Ursulin di Madiun bermula pada tahun 1904 dan tak lepas dari peran Pastor BG Schweitz SJ. Pastor paroki itu berkeliling dan membawa anak-anak telantar ke Madiun. Mereka ditempatkan di dekat pastoran dan diurus oleh dua ibu Katolik, yaitu Ny. CH van Zwieten, SY dan Ny. B. D'Haenens. Lalu, Pastor BG Schweitz SJ menceritakan mereka dan menawarkan karya panti asuhan itu kepada komunitas Suster Ordo St. Ursula (OSU) Cabang Malang dan Biara Pusat di Keuskupan Surabaya, yang kala itu berada di Jalan Kepanjen, Surabaya.
Para Suster Ursulin penuh dengan pergulatan batin lebih dahulu untuk memutuskan tawaran tersebut. Suster Pimpinan, Mère Angèle Flecken OSU, bermusyawarah dan berdoa bersama komunitas untuk memikirkan sungguh-sungguh apakah berkarya di Madiun adalah pilihan tepat dan apa saja langkah mereka selanjutnya. Komunitas Pusat Ursulin memikirkan sudah saatnya karya Ursulin tidak hanya di Jalan Kepanjen, melainkan juga harus diperluas di tempat dan kota lainnya. Selain karya di bidang sosial dan kegerejaan lainnya, karya panti asuhan melengkapi lahan karya di bidang pendidikan para Suster Ursulin.
Kehadiran suster sebagai warga biara dengan doa dan mati-raga dalam komunitas memberikan warna kehidupan iman yang juga perlu dirasakan oleh semua pihak, juga oleh mereka di luar gereja. Akhirnya, mereka mengambil keputusan penting yang membawa akibat sampai hari ini. Komunitas Kepanjen merelakan enam suster pergi ke kota Madiun untuk mengambil alih pemeliharaan anak-anak piatu di Madiun. Mereka itu adalah Mère Agnes Cohill OSU, Mère Edmunda Hafkenscheid OSU, Mère Suzanne Sanders OSU, Mère. Josepha Wilberts OSU, Mère Paula Leefers OSU, dan Mère Bernarda Steenbruggen OSU.
Kedatangan mereka di Madiun dari stasiun naik dokar (karena barang bawaan banyak sekali) dan lantunan "Te Deum" dari suara emas Pastor BG Schweitz SJ menjadi tonggak sejarah menandai awal karya para Suster Ursulin di Madiun, pada tanggal 17 Juli 1914. Para suster bekerja secara sistematis dan terencana.
Pembagian tugas dilakukan keesokan harinya. Mère Edmunda OSU berusaha menyiapkan ruang untuk membuka TKK Mère Agnes dan Mère Suzanne Sanders OSU akan mengurus anak-anak piatu. Mère Paula OSU diminta mengurus rumah tangga di biara dan membantu di panti asuhan. Mère Bernarda OSU akan menjadi kepala dapur. Mère Josephs OSU memberi pelajaran piano.
Nampak semua telah terencana dengan rapi. Semua optimis. Ternyata semuanya tidak semudah yang diharapkan. Para suster berharap dengan piano, sumbangan dari Komunitas Malang, membantu mereka dapat mencari nafkah sendiri. Taman Kanak-Kanak dengan 6 murid pertama baru terwujud sebulan setelahnya. Murid les piano tidak pernah ada. Memasak menjadi sulit karena anglo dan tungku tidak memadai. Makanan yang disajikannya selalu habis tanpa sisa, uang makin menipis dan harus berhemat.
Itu hanya sebagian dari tantangan awal yang harus Suster Ursulin hadapi ketika memulai karya di Madiun. Kalau iman mereka tidak kuat, pasti mereka tidak bisa bertahan lama di Madiun dan mereka segera lari kembali ke Surabaya.
Lalu, bagaimana dengan panti asuhan? Setahun lebih para suster cukup prihatin dan banyak berkorban untuk mempertahankan pengelolaan rumah panti asuhan. Keadaan baru membaik ketika Mère melibatkan pastor paroki yang baru untuk merenovasinya. Rumah panti asuhan baru bisa direnovasi berkat Romo H. Mulder SJ, yang menggantikan Romo B. Schweitz SJ tahun 1915. Romo H. Mulder SJ dengan mengadakan lotre di kalangan orang Belanda untuk membantu panti asuhan. Uang terkumpul 60.000 Gulden.
Dalam kondisi finansial yang tidak mendukung dan hanya berbekal keyakinan akan karya Tuhan dan komitmen sebelumnya Suster Ursulin mengambil langkah berani. Mereka menanamkan tonggak sejarah pendidikan di Madiun dengan mendirikan Fröbelschool (TKK), membuka ELS (Europeesche Lagere School/SR berbahasa Belanda) dan HIS (Hollandsche Inlandsche School/SR Berbahasa Jawa, Sekolah Rendah untuk pribumi). Mereka berhasil mematahkan tantangan dan meraih mimpi, dan hasilnya dalam waktu singkat keyakinan itu mempengaruhi masyarakat Madiun yang berbondong-bondong memasukkan anaknya bersekolah di sekolah Ursulin.
Marilah kita membayangkan, jika hanya mengandalkan semua serba tersedia dan akan bertindak jika semua kondusif, mungkin sekolah Santo Bernardus tidak akan pernah berdiri dan berhasil merebut hati masyarakat seperti sekarang ini.
Sementara para suster dan panti asuhan mengalami macam-macam kesukaran, tetapi pembangunan dan perbaikan gedung tetap diteruskan. Sejak tahun 1914 mereka telah menyelenggarakan TKK untuk anak anak yang berbahasa Belanda. Pada tahun 1922 mereka membuka TKK kedua, khusus untuk anak asli Jawa. Jumlah anak Jawa segera bertambah sampai lebih dari 65 anak. Ini tak lepas dari jasa Mère Hildegard Borckmann OSU yang kembali ke Noordwijk untuk mencari dana. Sepulang dari Noordwijk pada tahun 1924 Mère Hildegard Borckmann OSU memimpin panti asuhan dan TKK di Madiun.
Keadaan sudah semakin membaik. Pada tanggal 6 Juli 1924 akhirnya diadakan serah terima panti asuhan dari Yayasan Paroki kepada para suster Ursulin. Tanggal 31 Juli 1924 mulai membangun gedung sekolah dengan mulai memasang fondasi. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Mgr. AP van Velsen SJ pada 20 September 1924.
Berkarya Bersama Para Romo Lazaris (CM)
Jangan bangga diri jika sukses seorang diri. Orang sukses sejati adalah orang yang berhasil membuat orang lain sukses dan bekerja sama dengannya. Ketika memperoleh dukungan dari kerja sama itulah kesuksesan menjadi langgeng. Semangat keterbukaan dan semangat kerja sama secara sinergis membuat Suster Ursulin berhasil dalam arti sesungguhnya, bukan hanya dalam bidang pendidikan (ketika bekerja sama dengan para Bruder CSA), tapi juga ketika harus beradaptasi dengan mitra baru: termasuk dengan para Romo Lazaris (CM) yang menggantikan era kepemimpinan para Romo Jesuit (SJ).
Pada awal tahun 1928 di bawah Prefektorat Apostolik Surabaya, Stasi Madiun digembalakan oleh romo-romo Lazaris (CM). Saat perpindahan kegembalaan di Madiun sudah ada gereja dan pastoran, sebuah Sekolah Eropa Hollands Indische School, dan sebuah rumah yatim piatu yang dikelola suster-suster Ursulin. Menurut catatan, pada 2 Januari 1928 Romo Lazaris pertama yang bekerja di Madiun saat itu ialah Romo Martinus Hermanus Kock CM, romo kepala, dan Romo C. Klamer CM sebagai romo pembantu.
Bekerja bersama para Romo Lazaris (CM), banyak hal yang telah dilaksanakan, namun kehangatan dan keeratan dalam berkarya datang pula badai yang baru. Badai itu ditandai dengan kedatangan serdadu Jepang ke Madiun. Memang menjadi pahlawan dalam waktu singkat dan dalam kondisi normal, jauh lebih mudah daripada dalam kondisi sebaliknya. Himpitan dan tekanan yang dialami para suster Ursulin ketika zaman Jepang justru menegaskan kuatnya semangat konsistensi dan daya juang mereka - yang mayoritas Belanda.
Bagaimanapun mereka berhasil memaknai berbagai situasi mencekam dan tragedi situasi menjadi peristiwa Iman dan makna Salib yang harus ditanggung menjadi kesaksian luar biasa. Apalagi dalam situasi terjepit baik para suster yang di kamp sebagai tawanan perang maupun yang di luar, sama-sama melupakan diri sendiri dan masih mengedepankan perjuang untuk orang lain.
Yang di kamp tawanan siaga merawat dan membantu anak dan ibu-ibu yang larut dalam pemberontakan dan ketidakmengertian akan peristiwa iman. Yang berada di luar Kamp Madiun, selain berjuang untuk hidup dalam kondisi kekurangan, masih peduli kepada nasib penduduk dan anak-anak putri asrama dari ancaman rekrutmen menjadi jugounfu (pelacur) tentara Jepang.
Hanya lima suster Eropa non-Belanda yang tidak diinternir, yaitu Mère Josepha Becker OSU (Jerman), Mère Jeanne Lebeaud OSU, Mère Gabriel Appel OSU, Mère Pia de Lorm OSU (Perancis), dan Mère Fidelis Kirschstein OSU (Indo-Belanda). Mereka tinggal dengan 26 anak asuhan di Jalan Jawa. Umat Katolik pun diperintahkan untuk memakai gereja Protestan di Jalan Jawa, Madiun. Kondisi rumah di Jalan Jawa yang djadikan biara yang sekaligus panti asuhan makin rusak dan sangat menyedihkan. Keadaan sangat sulit sehingga para suster dan anak-anak panti asuhan terpaksa makan seadanya, itu pun dengan menjual barang-barang yang ada.
Kendati demikian, para suster tetap melakukan pelayanan dan membantu Romo Dwidjosoesanto, Pr, satu-satunya pastor yang tersisa, menyelenggarakan misa dan pelayanan pastoral untuk umat Madiun dan sekitarnya.
Memasuki Masa Kemerdekaan Republik Indonesia
Jika bagi orang lain, kegagalan adalah akhir dari segalanya dan putus asa, namun lain bagi para Suster Ursulin Madiun yang berkali-kali dicabut dari zona nyaman dan dipaksa duduk di kursi panas. Dalam situasi yang kurang mengenakkan, sekaligus berbahaya, mereka sering diusir dari biaranya demi alasan apa pun dan sempat terpaksa tidak bisa berkarya lagi di Madiun (bubar).
Semua ini terbukti tak mudah untuk mengembalikannya, termasuk pengalaman kesulitan untuk kembali ke Madiun, meskipun mereka menginginkannya. Karena keyakinan akan panggilan dan karya Tuhan, mereka tidak pernah putus asa, satu per satu perjuangan mereka membuahkan hasil. Para suster tidak hanya berhasil kembali ke Madiun, melainlkan juga membangun kesuksesan bertahap mulai dari nol. Rupanya mereka berguru dari Guru Sejati, yang berkali-kali jatuh memanggul salib, tapi setiap kali bangun untuk menuntaskan karya dan perutusan-Nya.
Pada masa menjadi interniran tentara Jepang, para suster selalu berpindah-pindah, dari satu kamp ke kamp yang lain dengan penuh penderitaan, dan akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 perang benar-benar telah dihentikan oleh Proklamasi Republik Indonesia. Namun, para suster tidak berani meninggalkan kamp sampai tanggal 5 Desember 1945 demi keamanan sendiri.
Setelah perang selesai dan merdeka, komunitas Madiun hanya dihuni 4 orang Mère dan 26 anak. Keamanan para suster asing sering terancam. Ada pula desakan Tentara Indonesia. Mereka membutuhkan bruderan dan susteran untuk markas. Maka, Mei 1946 para suster dan anak-anak itu pun dipindahkan ke Jalan Celaket 55, Malang.
Akhirnya, komunitas Suster Ursulin Madiun bubar. Setelah empat tahun komunitas para suster bubar dan tidak ada kegiatan, maka pada 31 Januari 1949 Mère Gabriel Appel OSU, Mère Ignatio Sosrosentono OSU, dan Mère Christine OSU datang ke Madiun. Para Suster Ursulin tersebut kembali ke Madiun untuk meneruskan karyanya, terutama di bidang pendidikan sekolah.
Memasuki tahun 1959, di Jalan Wilis dibuka asrama baru khusus untuk 30 mahasiswi pindahan dari Kediri yang kuliah di Fakultas Pendidikan (sebelumnya Kursus B-1 Ilmu Mendidik, tanggal 21 Agustus 1957 didirikan oleh Romo Prof. Dr. Paul Janssen CM). Berkat kerja sama yang baik antara para pastor CM, para Suster Ursulin di Madiun dan IKIP Sanata Dharma Yogyakarta, berdirilah IKIP Widya Mandala yang diresmikan pada tanggal 20 September 1960 oleh Mgr. Drs. J.A.M. Klooster CM.
Ketika semuanya menjadi makin mudah dan kemajuan dunia modern membuka peluang-peluang untuk bereksplorasi, apakah Suster Ursulin terbuai oleh rasa aman dan terjebak dalam zona nyaman? Terbukti tidak! Suster Ursulin tetap berjuang agar karya pastoral dan pendidikan yang menjadi spesialisasi mereka, selalu berkenan dan makin dirasakan di hati masyarakat Madiun. Suster tidak ragu bekerja sama dengan pihak mana pun, juga tak sayang untuk berinvestasi demi mengimbangi kemajuan teknologi dan zaman.
Keterbukaan, selalu mengikuti zaman, dan mencari terobosan-terobosan baru menjadikan karya-karya Suster Ursulin tinggal landas, menjadi juara, dan disatukan dengan karya penyelenggarakan Allah sendiri. Itulah sebabnya Suster Ursulin menjadi sepesialis dan berkontribusi untuk semua tingkat karya pendidikan di Madiun: TK, SD, SMP, SGA (nantinya menjadi SPG), PGSLP, dan bahkan universitas Widya Mandala Madiun. Keberadaan dan kesuksesan semua lembaga pendidikan itu tak lepas dan tidak bisa dipisahkan dari kontribusi para Suster Ursulin Madiun. Fondasi pendidikan di Madiun berakar dalam perjalanan sejarah 100 tahun karya Suster Ursulin di Madiun.
Memasuki tahun 1984 seluruh Umat Katolik di Indonesia merayakan 450 tahun Gereja Katolik di Indonesia. Di Keuskupan Surabaya kegiatan 450 tahun Gereja Katolik di Indonesia yang diketuai oleh Romo John Tondowidjojo, CM. Puncak acara liturgis diselenggarakan di Stadion Gelora 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya, pada 20 Juni 1984. Turut serta dalam perayaan liturgi di Stadion Tambaksari komunitas para Suster Ursulin dari Madiun. Satu tahun setelah seluruh umat Katolik di Indonesia merayakan 450 tahun keberadaan Gereja Katolik di Indonesia disusul pula oleh para Suster Ursulin merayakan 450 tahun keberadaan OSU.
Tahun 1985 merupakan tahun bersejarah bagi Ordo St. Ursula. Usia Ursulin genap 450 tahun keberadaannya, merupakan Tahun Rahmat Tuhan bagi seluruh anggotanya. Ketika usia tahun keberadaan para Suster Ursulin di dunia ke-450 tidak menjadikan mereka berbangga dan terlena akan kebesaran komunitas, tetapi semua itu menjadi pemicu mereka untuk berkembang sesuai tuntutan zaman. Tahun berganti tahun, ternyata karya para Suster Ursulin di Madiun tidak tergerus zaman, namun justru berkembang bersama gerak kemajuan zaman.
Perjalanan panjang para Suster Ursulin di Madiun bersama umat Katolik di Madiun mengalami dinamika yang unik. Mengingat para Suster Ursulin di Madiun berkembang pesat sampai menuju seratus tahun tidak dapat lepas dari peran Gereja dalam masyarakat. Dalam perjalan waktu para Suster Ursulin bersama umat Katolik Madiun juga mengalami enam kali masa kepemimpinan Gereja Katolik, yaitu bersama (1) Mgr. Dr. Th. de Backere CM; (2) Mgr. Dr. M. Verhoeks CM; (3) Mgr. Drs. J.A.M Klooster CM; (4) Mgr. A.J. Dibjokaryono, Pr; (5) Mgr. J. Hadiwikarta, Pr; (6) Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Pr, sejak hari Jumat Pahing 29 Juni 2007.
Memasuki tahun 2014 para Suster Ursulin di Madiun di bawah kepemimpinan Sr. Irma Titi Pawarto, OSU, merayakan 100 tahun Ursulin berkarya di Madiun. Dengan bertambahnya usia tidak menjadikan para Suster Ursulin, khususnya di Madiun terlena dengan segala kebesaran dan keberhasilan Ordo St. Ursula, tetapi justru menjadikannya obor untuk menyalakan semangat baru di era kecanggihan teknologi.
Dengan demikian, semua itu sesuai dengan penghayatan yang didambakan oleh Bunda Santa Angela Merici yang tertulis dalam nasihatnya yang terakhir: “Hiduplah dalam keserasian, bersatu, sehati, sekehendak, terikat satu sama lain, dengan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling bersabar dalam Yesus Kristus”. Betapa indah pesan tersebut, menyejukkan, dan penuh pengharapan demi masa depan yang sesungguhnya.
Karya para Suster Ursulin di Madiun adalah bukti keberhasilan dan hasil konsistensi mereka dalam mengembangkan sayap karya pendidikan secara padu, sekaligus keterbukaan mereka dalam kerja sama dengan berbagai pihak. Setiap perjuangan mereka membuktikan kepedulian serta konsistensi para Suster Ursulin terhadap pendidikan bermutu bagi masyarakat Madiun. Maka, tidak mengherankan jika perjalanan 100 tahun karya Suster Ursulin di Madiun mampu membangkitkan inspirasi dari dan optimisme terhadap karya Ursulin di masa mendatang, juga bagi setiap orang yang peduli dan terlibat di dalam karya mereka.
Saya meyakini dan merangkum perjalanan 100 tahun karya Suster Ursulin di Madiun dalam satu ungkapan kalimat dalam 1 Korintus 3:6: Ego plantavi, Apollo rigavit; sed Deum incrementum dedit“ (Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan).
Menelusuri 100 tahun Misi Pewartaan Ordo Santa Ursula di Madiun saya teringat kata-kata dalam 1 Tesalonika 5:18: in Omnibus gratias agite.. (dalam bahasa Indonesia: dalam segala hal bersyukurlah!). Seluruh isi kata-kata tersebut tidak lain merupakan ucapan syukur saya atas berkembangnya Ordo Santa Ursula yang memasuki kurun waktu 100 tahun di Madiun. Mengingat saya alumnus Sekolah Ursulin di Madiun, maka saya sudah harusnya turut bersyukur akan pencapaian HUT 100 tahun itu.
Refleksi perjalanan sejarah 100 tahun Ordo Santa Ursula (Suster Ursulin sapaan akrab mereka) berkarya di Madiun, membawa saya kembali kepada permenungan atas perjalanan rohani yang panjang. Saya harus berhenti sejenak, meniti kembali langkah-langkah sejarah tersebut. Dalam perjalanan rohani tersebut kadang saya harus menoleh, melihat jejak langkah itu, kadang mulus dan indah, namun sering pula ada sedikit gejolak yang membuat saya harus menghela napas agak dalam. Semua catatan sejarah karya para Suster Ursulin itu saya sadari dan saya anggap sebagai suatu pengalaman rohani yang sangat berharga. Semua itu patut direfleksikan dan disyukuri bagi semua umat beriman di Madiun.
Banyak orang mengetahui bahwa Suster Ursulin berhasil dalam karya pendidikan di mana-mana, termasuk di Madiun. Tapi banyak yang tidak tahu bahwa setiap pencapaian keberhasilan adalah buah-buah pergulatan batin. Perjuangan menyeimbangkan aksi-refleksi, komitmen bersama, dan tunduk pada penyelenggaraan Ilahi. Inilah yang membuat Suster Ursulin berani mengambil keputusan besar pengubah sejarah: berkarya di Madiun dan mempertahankannya ketika kondisi memburuk sekalipun.
Coba bayangkan, apa jadinya jika saat dibutuhkan, Suster Ursulin tidak mau datang berkarya ke Madiun? Tentu karya pendidikan dan pastoral untuk masyarakat Madiun tidak mungkin terbantu dan menjadi seperti sekarang ini.
Embrio karya para Suster Ursulin di Madiun bermula pada tahun 1904 dan tak lepas dari peran Pastor BG Schweitz SJ. Pastor paroki itu berkeliling dan membawa anak-anak telantar ke Madiun. Mereka ditempatkan di dekat pastoran dan diurus oleh dua ibu Katolik, yaitu Ny. CH van Zwieten, SY dan Ny. B. D'Haenens. Lalu, Pastor BG Schweitz SJ menceritakan mereka dan menawarkan karya panti asuhan itu kepada komunitas Suster Ordo St. Ursula (OSU) Cabang Malang dan Biara Pusat di Keuskupan Surabaya, yang kala itu berada di Jalan Kepanjen, Surabaya.
Para Suster Ursulin penuh dengan pergulatan batin lebih dahulu untuk memutuskan tawaran tersebut. Suster Pimpinan, Mère Angèle Flecken OSU, bermusyawarah dan berdoa bersama komunitas untuk memikirkan sungguh-sungguh apakah berkarya di Madiun adalah pilihan tepat dan apa saja langkah mereka selanjutnya. Komunitas Pusat Ursulin memikirkan sudah saatnya karya Ursulin tidak hanya di Jalan Kepanjen, melainkan juga harus diperluas di tempat dan kota lainnya. Selain karya di bidang sosial dan kegerejaan lainnya, karya panti asuhan melengkapi lahan karya di bidang pendidikan para Suster Ursulin.
Kehadiran suster sebagai warga biara dengan doa dan mati-raga dalam komunitas memberikan warna kehidupan iman yang juga perlu dirasakan oleh semua pihak, juga oleh mereka di luar gereja. Akhirnya, mereka mengambil keputusan penting yang membawa akibat sampai hari ini. Komunitas Kepanjen merelakan enam suster pergi ke kota Madiun untuk mengambil alih pemeliharaan anak-anak piatu di Madiun. Mereka itu adalah Mère Agnes Cohill OSU, Mère Edmunda Hafkenscheid OSU, Mère Suzanne Sanders OSU, Mère. Josepha Wilberts OSU, Mère Paula Leefers OSU, dan Mère Bernarda Steenbruggen OSU.
Kedatangan mereka di Madiun dari stasiun naik dokar (karena barang bawaan banyak sekali) dan lantunan "Te Deum" dari suara emas Pastor BG Schweitz SJ menjadi tonggak sejarah menandai awal karya para Suster Ursulin di Madiun, pada tanggal 17 Juli 1914. Para suster bekerja secara sistematis dan terencana.
Pembagian tugas dilakukan keesokan harinya. Mère Edmunda OSU berusaha menyiapkan ruang untuk membuka TKK Mère Agnes dan Mère Suzanne Sanders OSU akan mengurus anak-anak piatu. Mère Paula OSU diminta mengurus rumah tangga di biara dan membantu di panti asuhan. Mère Bernarda OSU akan menjadi kepala dapur. Mère Josephs OSU memberi pelajaran piano.
Nampak semua telah terencana dengan rapi. Semua optimis. Ternyata semuanya tidak semudah yang diharapkan. Para suster berharap dengan piano, sumbangan dari Komunitas Malang, membantu mereka dapat mencari nafkah sendiri. Taman Kanak-Kanak dengan 6 murid pertama baru terwujud sebulan setelahnya. Murid les piano tidak pernah ada. Memasak menjadi sulit karena anglo dan tungku tidak memadai. Makanan yang disajikannya selalu habis tanpa sisa, uang makin menipis dan harus berhemat.
Itu hanya sebagian dari tantangan awal yang harus Suster Ursulin hadapi ketika memulai karya di Madiun. Kalau iman mereka tidak kuat, pasti mereka tidak bisa bertahan lama di Madiun dan mereka segera lari kembali ke Surabaya.
Lalu, bagaimana dengan panti asuhan? Setahun lebih para suster cukup prihatin dan banyak berkorban untuk mempertahankan pengelolaan rumah panti asuhan. Keadaan baru membaik ketika Mère melibatkan pastor paroki yang baru untuk merenovasinya. Rumah panti asuhan baru bisa direnovasi berkat Romo H. Mulder SJ, yang menggantikan Romo B. Schweitz SJ tahun 1915. Romo H. Mulder SJ dengan mengadakan lotre di kalangan orang Belanda untuk membantu panti asuhan. Uang terkumpul 60.000 Gulden.
Dalam kondisi finansial yang tidak mendukung dan hanya berbekal keyakinan akan karya Tuhan dan komitmen sebelumnya Suster Ursulin mengambil langkah berani. Mereka menanamkan tonggak sejarah pendidikan di Madiun dengan mendirikan Fröbelschool (TKK), membuka ELS (Europeesche Lagere School/SR berbahasa Belanda) dan HIS (Hollandsche Inlandsche School/SR Berbahasa Jawa, Sekolah Rendah untuk pribumi). Mereka berhasil mematahkan tantangan dan meraih mimpi, dan hasilnya dalam waktu singkat keyakinan itu mempengaruhi masyarakat Madiun yang berbondong-bondong memasukkan anaknya bersekolah di sekolah Ursulin.
Marilah kita membayangkan, jika hanya mengandalkan semua serba tersedia dan akan bertindak jika semua kondusif, mungkin sekolah Santo Bernardus tidak akan pernah berdiri dan berhasil merebut hati masyarakat seperti sekarang ini.
Sementara para suster dan panti asuhan mengalami macam-macam kesukaran, tetapi pembangunan dan perbaikan gedung tetap diteruskan. Sejak tahun 1914 mereka telah menyelenggarakan TKK untuk anak anak yang berbahasa Belanda. Pada tahun 1922 mereka membuka TKK kedua, khusus untuk anak asli Jawa. Jumlah anak Jawa segera bertambah sampai lebih dari 65 anak. Ini tak lepas dari jasa Mère Hildegard Borckmann OSU yang kembali ke Noordwijk untuk mencari dana. Sepulang dari Noordwijk pada tahun 1924 Mère Hildegard Borckmann OSU memimpin panti asuhan dan TKK di Madiun.
Keadaan sudah semakin membaik. Pada tanggal 6 Juli 1924 akhirnya diadakan serah terima panti asuhan dari Yayasan Paroki kepada para suster Ursulin. Tanggal 31 Juli 1924 mulai membangun gedung sekolah dengan mulai memasang fondasi. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Mgr. AP van Velsen SJ pada 20 September 1924.
Berkarya Bersama Para Romo Lazaris (CM)
Jangan bangga diri jika sukses seorang diri. Orang sukses sejati adalah orang yang berhasil membuat orang lain sukses dan bekerja sama dengannya. Ketika memperoleh dukungan dari kerja sama itulah kesuksesan menjadi langgeng. Semangat keterbukaan dan semangat kerja sama secara sinergis membuat Suster Ursulin berhasil dalam arti sesungguhnya, bukan hanya dalam bidang pendidikan (ketika bekerja sama dengan para Bruder CSA), tapi juga ketika harus beradaptasi dengan mitra baru: termasuk dengan para Romo Lazaris (CM) yang menggantikan era kepemimpinan para Romo Jesuit (SJ).
Pada awal tahun 1928 di bawah Prefektorat Apostolik Surabaya, Stasi Madiun digembalakan oleh romo-romo Lazaris (CM). Saat perpindahan kegembalaan di Madiun sudah ada gereja dan pastoran, sebuah Sekolah Eropa Hollands Indische School, dan sebuah rumah yatim piatu yang dikelola suster-suster Ursulin. Menurut catatan, pada 2 Januari 1928 Romo Lazaris pertama yang bekerja di Madiun saat itu ialah Romo Martinus Hermanus Kock CM, romo kepala, dan Romo C. Klamer CM sebagai romo pembantu.
Bekerja bersama para Romo Lazaris (CM), banyak hal yang telah dilaksanakan, namun kehangatan dan keeratan dalam berkarya datang pula badai yang baru. Badai itu ditandai dengan kedatangan serdadu Jepang ke Madiun. Memang menjadi pahlawan dalam waktu singkat dan dalam kondisi normal, jauh lebih mudah daripada dalam kondisi sebaliknya. Himpitan dan tekanan yang dialami para suster Ursulin ketika zaman Jepang justru menegaskan kuatnya semangat konsistensi dan daya juang mereka - yang mayoritas Belanda.
Bagaimanapun mereka berhasil memaknai berbagai situasi mencekam dan tragedi situasi menjadi peristiwa Iman dan makna Salib yang harus ditanggung menjadi kesaksian luar biasa. Apalagi dalam situasi terjepit baik para suster yang di kamp sebagai tawanan perang maupun yang di luar, sama-sama melupakan diri sendiri dan masih mengedepankan perjuang untuk orang lain.
Yang di kamp tawanan siaga merawat dan membantu anak dan ibu-ibu yang larut dalam pemberontakan dan ketidakmengertian akan peristiwa iman. Yang berada di luar Kamp Madiun, selain berjuang untuk hidup dalam kondisi kekurangan, masih peduli kepada nasib penduduk dan anak-anak putri asrama dari ancaman rekrutmen menjadi jugounfu (pelacur) tentara Jepang.
Hanya lima suster Eropa non-Belanda yang tidak diinternir, yaitu Mère Josepha Becker OSU (Jerman), Mère Jeanne Lebeaud OSU, Mère Gabriel Appel OSU, Mère Pia de Lorm OSU (Perancis), dan Mère Fidelis Kirschstein OSU (Indo-Belanda). Mereka tinggal dengan 26 anak asuhan di Jalan Jawa. Umat Katolik pun diperintahkan untuk memakai gereja Protestan di Jalan Jawa, Madiun. Kondisi rumah di Jalan Jawa yang djadikan biara yang sekaligus panti asuhan makin rusak dan sangat menyedihkan. Keadaan sangat sulit sehingga para suster dan anak-anak panti asuhan terpaksa makan seadanya, itu pun dengan menjual barang-barang yang ada.
Kendati demikian, para suster tetap melakukan pelayanan dan membantu Romo Dwidjosoesanto, Pr, satu-satunya pastor yang tersisa, menyelenggarakan misa dan pelayanan pastoral untuk umat Madiun dan sekitarnya.
Memasuki Masa Kemerdekaan Republik Indonesia
Jika bagi orang lain, kegagalan adalah akhir dari segalanya dan putus asa, namun lain bagi para Suster Ursulin Madiun yang berkali-kali dicabut dari zona nyaman dan dipaksa duduk di kursi panas. Dalam situasi yang kurang mengenakkan, sekaligus berbahaya, mereka sering diusir dari biaranya demi alasan apa pun dan sempat terpaksa tidak bisa berkarya lagi di Madiun (bubar).
Semua ini terbukti tak mudah untuk mengembalikannya, termasuk pengalaman kesulitan untuk kembali ke Madiun, meskipun mereka menginginkannya. Karena keyakinan akan panggilan dan karya Tuhan, mereka tidak pernah putus asa, satu per satu perjuangan mereka membuahkan hasil. Para suster tidak hanya berhasil kembali ke Madiun, melainlkan juga membangun kesuksesan bertahap mulai dari nol. Rupanya mereka berguru dari Guru Sejati, yang berkali-kali jatuh memanggul salib, tapi setiap kali bangun untuk menuntaskan karya dan perutusan-Nya.
Pada masa menjadi interniran tentara Jepang, para suster selalu berpindah-pindah, dari satu kamp ke kamp yang lain dengan penuh penderitaan, dan akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 perang benar-benar telah dihentikan oleh Proklamasi Republik Indonesia. Namun, para suster tidak berani meninggalkan kamp sampai tanggal 5 Desember 1945 demi keamanan sendiri.
Setelah perang selesai dan merdeka, komunitas Madiun hanya dihuni 4 orang Mère dan 26 anak. Keamanan para suster asing sering terancam. Ada pula desakan Tentara Indonesia. Mereka membutuhkan bruderan dan susteran untuk markas. Maka, Mei 1946 para suster dan anak-anak itu pun dipindahkan ke Jalan Celaket 55, Malang.
Akhirnya, komunitas Suster Ursulin Madiun bubar. Setelah empat tahun komunitas para suster bubar dan tidak ada kegiatan, maka pada 31 Januari 1949 Mère Gabriel Appel OSU, Mère Ignatio Sosrosentono OSU, dan Mère Christine OSU datang ke Madiun. Para Suster Ursulin tersebut kembali ke Madiun untuk meneruskan karyanya, terutama di bidang pendidikan sekolah.
Memasuki tahun 1959, di Jalan Wilis dibuka asrama baru khusus untuk 30 mahasiswi pindahan dari Kediri yang kuliah di Fakultas Pendidikan (sebelumnya Kursus B-1 Ilmu Mendidik, tanggal 21 Agustus 1957 didirikan oleh Romo Prof. Dr. Paul Janssen CM). Berkat kerja sama yang baik antara para pastor CM, para Suster Ursulin di Madiun dan IKIP Sanata Dharma Yogyakarta, berdirilah IKIP Widya Mandala yang diresmikan pada tanggal 20 September 1960 oleh Mgr. Drs. J.A.M. Klooster CM.
Ketika semuanya menjadi makin mudah dan kemajuan dunia modern membuka peluang-peluang untuk bereksplorasi, apakah Suster Ursulin terbuai oleh rasa aman dan terjebak dalam zona nyaman? Terbukti tidak! Suster Ursulin tetap berjuang agar karya pastoral dan pendidikan yang menjadi spesialisasi mereka, selalu berkenan dan makin dirasakan di hati masyarakat Madiun. Suster tidak ragu bekerja sama dengan pihak mana pun, juga tak sayang untuk berinvestasi demi mengimbangi kemajuan teknologi dan zaman.
Keterbukaan, selalu mengikuti zaman, dan mencari terobosan-terobosan baru menjadikan karya-karya Suster Ursulin tinggal landas, menjadi juara, dan disatukan dengan karya penyelenggarakan Allah sendiri. Itulah sebabnya Suster Ursulin menjadi sepesialis dan berkontribusi untuk semua tingkat karya pendidikan di Madiun: TK, SD, SMP, SGA (nantinya menjadi SPG), PGSLP, dan bahkan universitas Widya Mandala Madiun. Keberadaan dan kesuksesan semua lembaga pendidikan itu tak lepas dan tidak bisa dipisahkan dari kontribusi para Suster Ursulin Madiun. Fondasi pendidikan di Madiun berakar dalam perjalanan sejarah 100 tahun karya Suster Ursulin di Madiun.
Memasuki tahun 1984 seluruh Umat Katolik di Indonesia merayakan 450 tahun Gereja Katolik di Indonesia. Di Keuskupan Surabaya kegiatan 450 tahun Gereja Katolik di Indonesia yang diketuai oleh Romo John Tondowidjojo, CM. Puncak acara liturgis diselenggarakan di Stadion Gelora 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya, pada 20 Juni 1984. Turut serta dalam perayaan liturgi di Stadion Tambaksari komunitas para Suster Ursulin dari Madiun. Satu tahun setelah seluruh umat Katolik di Indonesia merayakan 450 tahun keberadaan Gereja Katolik di Indonesia disusul pula oleh para Suster Ursulin merayakan 450 tahun keberadaan OSU.
Tahun 1985 merupakan tahun bersejarah bagi Ordo St. Ursula. Usia Ursulin genap 450 tahun keberadaannya, merupakan Tahun Rahmat Tuhan bagi seluruh anggotanya. Ketika usia tahun keberadaan para Suster Ursulin di dunia ke-450 tidak menjadikan mereka berbangga dan terlena akan kebesaran komunitas, tetapi semua itu menjadi pemicu mereka untuk berkembang sesuai tuntutan zaman. Tahun berganti tahun, ternyata karya para Suster Ursulin di Madiun tidak tergerus zaman, namun justru berkembang bersama gerak kemajuan zaman.
Perjalanan panjang para Suster Ursulin di Madiun bersama umat Katolik di Madiun mengalami dinamika yang unik. Mengingat para Suster Ursulin di Madiun berkembang pesat sampai menuju seratus tahun tidak dapat lepas dari peran Gereja dalam masyarakat. Dalam perjalan waktu para Suster Ursulin bersama umat Katolik Madiun juga mengalami enam kali masa kepemimpinan Gereja Katolik, yaitu bersama (1) Mgr. Dr. Th. de Backere CM; (2) Mgr. Dr. M. Verhoeks CM; (3) Mgr. Drs. J.A.M Klooster CM; (4) Mgr. A.J. Dibjokaryono, Pr; (5) Mgr. J. Hadiwikarta, Pr; (6) Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Pr, sejak hari Jumat Pahing 29 Juni 2007.
Memasuki tahun 2014 para Suster Ursulin di Madiun di bawah kepemimpinan Sr. Irma Titi Pawarto, OSU, merayakan 100 tahun Ursulin berkarya di Madiun. Dengan bertambahnya usia tidak menjadikan para Suster Ursulin, khususnya di Madiun terlena dengan segala kebesaran dan keberhasilan Ordo St. Ursula, tetapi justru menjadikannya obor untuk menyalakan semangat baru di era kecanggihan teknologi.
Dengan demikian, semua itu sesuai dengan penghayatan yang didambakan oleh Bunda Santa Angela Merici yang tertulis dalam nasihatnya yang terakhir: “Hiduplah dalam keserasian, bersatu, sehati, sekehendak, terikat satu sama lain, dengan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling bersabar dalam Yesus Kristus”. Betapa indah pesan tersebut, menyejukkan, dan penuh pengharapan demi masa depan yang sesungguhnya.
Karya para Suster Ursulin di Madiun adalah bukti keberhasilan dan hasil konsistensi mereka dalam mengembangkan sayap karya pendidikan secara padu, sekaligus keterbukaan mereka dalam kerja sama dengan berbagai pihak. Setiap perjuangan mereka membuktikan kepedulian serta konsistensi para Suster Ursulin terhadap pendidikan bermutu bagi masyarakat Madiun. Maka, tidak mengherankan jika perjalanan 100 tahun karya Suster Ursulin di Madiun mampu membangkitkan inspirasi dari dan optimisme terhadap karya Ursulin di masa mendatang, juga bagi setiap orang yang peduli dan terlibat di dalam karya mereka.
Saya meyakini dan merangkum perjalanan 100 tahun karya Suster Ursulin di Madiun dalam satu ungkapan kalimat dalam 1 Korintus 3:6: Ego plantavi, Apollo rigavit; sed Deum incrementum dedit“ (Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan).
Monday, December 1, 2014
Para Frater Menemukan Oase Panggilan
Mengenal, mendalami, serta melihat situasi sekitar adalah hal yang wajar bagi siapa pun yang menempati sebuah lokasi baru. Namun, bagaimana jadinya jika seseorang harus mengenal dirinya sendiri? Padahal, tubuh, dan jiwa seseorang telah menjadi satu ketika semua itu dilahirkan?
Masa pengenalan akan lingkungan, saling mengenal antarpribadi ini, para frater menyebutnya dengan masa monsolidasi. Masa di mana para frater dari masing-masing keuskupan dipertemukan di Wisma Keuskupan Surabaya untuk mengadakan Safari Panorama Keuskupan Surabaya, hingga tiga bulan pertama di Seminari Tinggi Tahun Orientasi Rohani.
Budaya, bahasa, yang berbeda menjadi tantangan para frater dalam tahap konsolidasi ini. Akan tetapi, semua tantangan itu bisa disikapi dengan baik oleh para frater. Hingga akhirnya para frater pun harus kembali melihat langkah awal, motivasi sebelum memutuskan jalan yang panjang ini. Seluruh kegiatan pada masa konsolidasi ini ditutup dengan retret yang diadakan di Dharmaningsih dengan pembimbing RP Anton Rosari SVD.
Senin, 3 November 2014, pukul 14.00 WIB, para frater berangkat dari Seminari Tinggi Tahun Rohani menuju Dharmaningsih. Di sana para frater disambut hangat oleh Suster Abdi Roh Kudus (SSpS). Hari ini juga dimulai sesi pertama, di mana para frater diajak untuk mengenal apa itu retret dan sebagainya. Retret: Lahir Kembali. Peralihan, dari manusia lama menjadi Manusia Baru. Kurang lebih, begitulah Romo Anton memberi penjelasan awal kepada para frater.
Pengalaman demi pengalaman Romo Anton menjalani panggilan hidupnya sangat membantu para frater dalam menghayati retret kali ini. Mulai dari melihat pengalaman, pengalaman akan Allah, melihat konflik dan penyelesaiannya, melihat Roh Kudus yang bekerja, hingga bisa menemukan diri . Ternyata, setiap pengalaman yang kita dapatkan setiap hari adalah pengalaman akan Allah sendiri jika kita bisa melihatnya dari sudut pandang iman. Semua pengalaman yang awalnya biasa itu akan menjadi pengalaman yang sungguh luar biasa, karena Allah ada di dalamnya.
Retret yang berjalan selama lima hari ini sangat membantu para frater untuk mengenal diri dan melihat rencana Allah yang ada dalam hidup mereka. Terkadang dalam menjalani panggilan ini, para frater dihadapkan dalam disposisi batin yang tidak menentu. Pasang dan surut dalam menjalani panggilan sering dialami oleh para frater. Namun, Romo Anton mengajak para frater untuk tetap bertahan pada gurun pasir yang panjang. Karena suatu saat dalam perjalanan yang panjang itu, para frater akan menemukan sebuah oase dalam perjalanan menapaki gurun pasir tersebut.
Semoga dengan retret penutupan masa konsolidasi ini, para frater dapat mengambil sikap dalam panggilannya. Perjalanan yang panjang, rintangan yang bertubi-tubi akan menjadi sahabat dalam perjalanan hidup panggilan. Melengkapi diri dengan senjata rohani (doa, ekaristi, meditasi, lectio divina) akan membantu dalam menemukan oase panggilan, titik di mana para frater akan mendapatkan penyegaran, penghiburan, dan sukacita yang tentunya dari Allah sendiri. Semangat Frater!!
(Yustinus Fendi HS)
Pengalaman akan mengenal situasi, kondisi, serta lingkungan baru telah dijalani oleh para Frater Tahun Rohani. Berasal dari berbagai daerah: Surabaya, Blitar, Madiun, Klepu, Mojokerto, Pare, Lombok, bahkan ada pula yang dari Sanggau, Kalimantan Barat, harus beradaptasi di lingkungan dan komunitas baru di Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Dari dua keuskupan yang berbeda, 10 dari Keuskupan Surabaya dan 5 dari Keuskupan Sanggau, Kalimantan Barat, harus berjuang untuk beradaptasi dengan lingkungan dan komunitas barunya.
Masa pengenalan akan lingkungan, saling mengenal antarpribadi ini, para frater menyebutnya dengan masa monsolidasi. Masa di mana para frater dari masing-masing keuskupan dipertemukan di Wisma Keuskupan Surabaya untuk mengadakan Safari Panorama Keuskupan Surabaya, hingga tiga bulan pertama di Seminari Tinggi Tahun Orientasi Rohani.
Budaya, bahasa, yang berbeda menjadi tantangan para frater dalam tahap konsolidasi ini. Akan tetapi, semua tantangan itu bisa disikapi dengan baik oleh para frater. Hingga akhirnya para frater pun harus kembali melihat langkah awal, motivasi sebelum memutuskan jalan yang panjang ini. Seluruh kegiatan pada masa konsolidasi ini ditutup dengan retret yang diadakan di Dharmaningsih dengan pembimbing RP Anton Rosari SVD.
Senin, 3 November 2014, pukul 14.00 WIB, para frater berangkat dari Seminari Tinggi Tahun Rohani menuju Dharmaningsih. Di sana para frater disambut hangat oleh Suster Abdi Roh Kudus (SSpS). Hari ini juga dimulai sesi pertama, di mana para frater diajak untuk mengenal apa itu retret dan sebagainya. Retret: Lahir Kembali. Peralihan, dari manusia lama menjadi Manusia Baru. Kurang lebih, begitulah Romo Anton memberi penjelasan awal kepada para frater.
Pengalaman demi pengalaman Romo Anton menjalani panggilan hidupnya sangat membantu para frater dalam menghayati retret kali ini. Mulai dari melihat pengalaman, pengalaman akan Allah, melihat konflik dan penyelesaiannya, melihat Roh Kudus yang bekerja, hingga bisa menemukan diri . Ternyata, setiap pengalaman yang kita dapatkan setiap hari adalah pengalaman akan Allah sendiri jika kita bisa melihatnya dari sudut pandang iman. Semua pengalaman yang awalnya biasa itu akan menjadi pengalaman yang sungguh luar biasa, karena Allah ada di dalamnya.
Retret yang berjalan selama lima hari ini sangat membantu para frater untuk mengenal diri dan melihat rencana Allah yang ada dalam hidup mereka. Terkadang dalam menjalani panggilan ini, para frater dihadapkan dalam disposisi batin yang tidak menentu. Pasang dan surut dalam menjalani panggilan sering dialami oleh para frater. Namun, Romo Anton mengajak para frater untuk tetap bertahan pada gurun pasir yang panjang. Karena suatu saat dalam perjalanan yang panjang itu, para frater akan menemukan sebuah oase dalam perjalanan menapaki gurun pasir tersebut.
Semoga dengan retret penutupan masa konsolidasi ini, para frater dapat mengambil sikap dalam panggilannya. Perjalanan yang panjang, rintangan yang bertubi-tubi akan menjadi sahabat dalam perjalanan hidup panggilan. Melengkapi diri dengan senjata rohani (doa, ekaristi, meditasi, lectio divina) akan membantu dalam menemukan oase panggilan, titik di mana para frater akan mendapatkan penyegaran, penghiburan, dan sukacita yang tentunya dari Allah sendiri. Semangat Frater!!
(Yustinus Fendi HS)
Saturday, November 29, 2014
In Memoriam Romo Emile Victor Bieler, CM
Keluarga besar Kongregasi Misi (CM) Provinsi Indonesia berdukacita dan merasa kehilangan salah satu konfrater terbaiknya. Romo Emile Victor Bieler, CM telah berpulang ke rumah Bapa di Surga, Rabu, 19 November 2014, di RS Panti Nirmala, Malang.
Romo yang selalu segar dan sehat ini baru pulang dari memberi retret romo-romo CM di Taiwan. Hanya sepekan sebelum wafatnya ia merasa sesak yang ternyata serangan jantung. Namun, beberapa hari kemudian dia sudah segar kembali, tapi ternyata pagi itu rupanya dia mendapat serangan fatal yang membawa kematiannya.
Jenazahnya disemayamkan di Seminari Tinggi CM, Langsep, Malang. Kamis, 20 November 2014, Misa Requiem di Gereja VAP Langsep dengan konselebran utama Romo Provinsial CM, Romo Robertus Wijanarko, CM. Homili disampaikan oleh Romo PM Handoko, CM. Uskup Malang Mgr. HJS Pandojoputro juga hadir, demikian pula imam berbagai tarekat dan diosesan yang pernah menjadi muridnya. Selanjutnya, jenazah dibawa menuju ke tempat peristirahatan terakhir di Pemakaman Romo-Romo CM dan Suster PK Griya Martani, Puhsarang, Kediri.
Romo Emile Victor Bieler, CM atau akrab disapa Romo Bieler, CM dilahirkan pada 13 Juni 1929. Kaul Kekal di Haiden Panningen, Belanda, 1952. Tahbisan Imamat, 15 Desember 1957. Romo Bieler, CM dikenal sebagai sosok imam yang sederhana, teguh, setia, memiliki semangat misi hingga akhir hayatnya. Kata-katanya lugas dan menantang, penuh persahabatan dengan para muridnya di STFT, rekan-rekan imamatnya, para suster dan para romo CM di seluruh dunia.
Beliau mempersembahkan hidupnya sebagai dosen, asisten jenderal CM dan sebagai misionaris vinsensian sejati. Masa hidup Romo Bieler nyaris identik dengan hidup yang dipersembahkan untuk pembinaan para calon imam dari berbagai kongregasi, keuskupan di Indonesia dan Solomon Islands.
Tahun 1958- 1959 Dosen Filsafat di Garum Blitar. Tahun 1959-1960 Dosen Filsafat di Eastwood, Sidney, Australia. Tahun 1966-1970 Rektor dan Dosen Seminari Tinggi CM (St. Joseph, Kediri). Tahun 1970-1972 Rektor dan Dosen Seminari Tinggi CM, Malang. Tahun 1972-1974 Dosen STFT Widya Sasana Malang, dan Seminari Garum. Tahun 1980-1981 Kepala Sekolah SMAK St. Louis I.
Tahun 1985-1987 Rektor Seminari Tinggi CM, Rektor STFT Widya Sasana Malang dan dosen STFT Fajar Timur, Abepura, Jayapura. Tahun 1987-1990 Rektor STFT Fajar Timur, Abepura. Tahun 1990-1992 Sekretaris Jenderal CM dilanjutkan 1992-2004 Asisten General CM di Roma. Tahun 2004-2013 Misi di Salomon Island sebagai dosen filsafat dan pembina seminari.
Tahun 2013 Formator dan Animator Vinsensian untuk CM Provinsi Indonesia dan KEVIN (Keluarga Vinsensian). Tahun 2014 Pembina Seminarium Internum Malang.
"Romo Bieler telah mengajar filsafat, teologi, bahkan Kitab Suci, Bahasa Inggris, Yunani, Latin, dll. Tetapi terutama dia telah mengajar dengan hidupnya, kesederhanaannya, dan cintanya. Dia salah satu idola bagi para muridnya. Kecerdasan dan kesucian telah menjadi begitu manusiawi dan sehari-hari dalam kesaksian hidupnya yang sederhana dan gembira. Dia sangat mencintai Santo Vinsensius dan banyak mempelajari surat surat dan konferensinya," kata Romo Armada Riyanto CM.
Romo Armada melanjutkan, "Terima kasih Romo Bieler, guru sekaligus sahabat. Kini, Engkau mengambilnya lagi. Di salah satu sharing-nya di STFT Malang, dia mendorong mahasiswa Malang untuk misi hingga juga ke Solomon Islands karena wilayah itu kerap dilupakan, bahkan juga kadang-kadang seperti "dilupakan" oleh Tuhan sendiri. Oh, semoga beliau menjadi pendoa bagi kami yang masih berjuang ini."
Selamat jalan, Romo Emile Victor Bieler, CM. Selamat jalan sang guru yang baik, sang inspirator, filsuf yang hidup, dan misionaris vinsensian sejati. RIP. (*)
Romo yang selalu segar dan sehat ini baru pulang dari memberi retret romo-romo CM di Taiwan. Hanya sepekan sebelum wafatnya ia merasa sesak yang ternyata serangan jantung. Namun, beberapa hari kemudian dia sudah segar kembali, tapi ternyata pagi itu rupanya dia mendapat serangan fatal yang membawa kematiannya.
Jenazahnya disemayamkan di Seminari Tinggi CM, Langsep, Malang. Kamis, 20 November 2014, Misa Requiem di Gereja VAP Langsep dengan konselebran utama Romo Provinsial CM, Romo Robertus Wijanarko, CM. Homili disampaikan oleh Romo PM Handoko, CM. Uskup Malang Mgr. HJS Pandojoputro juga hadir, demikian pula imam berbagai tarekat dan diosesan yang pernah menjadi muridnya. Selanjutnya, jenazah dibawa menuju ke tempat peristirahatan terakhir di Pemakaman Romo-Romo CM dan Suster PK Griya Martani, Puhsarang, Kediri.
Romo Emile Victor Bieler, CM atau akrab disapa Romo Bieler, CM dilahirkan pada 13 Juni 1929. Kaul Kekal di Haiden Panningen, Belanda, 1952. Tahbisan Imamat, 15 Desember 1957. Romo Bieler, CM dikenal sebagai sosok imam yang sederhana, teguh, setia, memiliki semangat misi hingga akhir hayatnya. Kata-katanya lugas dan menantang, penuh persahabatan dengan para muridnya di STFT, rekan-rekan imamatnya, para suster dan para romo CM di seluruh dunia.
Beliau mempersembahkan hidupnya sebagai dosen, asisten jenderal CM dan sebagai misionaris vinsensian sejati. Masa hidup Romo Bieler nyaris identik dengan hidup yang dipersembahkan untuk pembinaan para calon imam dari berbagai kongregasi, keuskupan di Indonesia dan Solomon Islands.
Tahun 1958- 1959 Dosen Filsafat di Garum Blitar. Tahun 1959-1960 Dosen Filsafat di Eastwood, Sidney, Australia. Tahun 1966-1970 Rektor dan Dosen Seminari Tinggi CM (St. Joseph, Kediri). Tahun 1970-1972 Rektor dan Dosen Seminari Tinggi CM, Malang. Tahun 1972-1974 Dosen STFT Widya Sasana Malang, dan Seminari Garum. Tahun 1980-1981 Kepala Sekolah SMAK St. Louis I.
Tahun 1985-1987 Rektor Seminari Tinggi CM, Rektor STFT Widya Sasana Malang dan dosen STFT Fajar Timur, Abepura, Jayapura. Tahun 1987-1990 Rektor STFT Fajar Timur, Abepura. Tahun 1990-1992 Sekretaris Jenderal CM dilanjutkan 1992-2004 Asisten General CM di Roma. Tahun 2004-2013 Misi di Salomon Island sebagai dosen filsafat dan pembina seminari.
Tahun 2013 Formator dan Animator Vinsensian untuk CM Provinsi Indonesia dan KEVIN (Keluarga Vinsensian). Tahun 2014 Pembina Seminarium Internum Malang.
"Romo Bieler telah mengajar filsafat, teologi, bahkan Kitab Suci, Bahasa Inggris, Yunani, Latin, dll. Tetapi terutama dia telah mengajar dengan hidupnya, kesederhanaannya, dan cintanya. Dia salah satu idola bagi para muridnya. Kecerdasan dan kesucian telah menjadi begitu manusiawi dan sehari-hari dalam kesaksian hidupnya yang sederhana dan gembira. Dia sangat mencintai Santo Vinsensius dan banyak mempelajari surat surat dan konferensinya," kata Romo Armada Riyanto CM.
Romo Armada melanjutkan, "Terima kasih Romo Bieler, guru sekaligus sahabat. Kini, Engkau mengambilnya lagi. Di salah satu sharing-nya di STFT Malang, dia mendorong mahasiswa Malang untuk misi hingga juga ke Solomon Islands karena wilayah itu kerap dilupakan, bahkan juga kadang-kadang seperti "dilupakan" oleh Tuhan sendiri. Oh, semoga beliau menjadi pendoa bagi kami yang masih berjuang ini."
Selamat jalan, Romo Emile Victor Bieler, CM. Selamat jalan sang guru yang baik, sang inspirator, filsuf yang hidup, dan misionaris vinsensian sejati. RIP. (*)
Sunday, November 23, 2014
Gebyar Tari di HUT Romo Tondo CM
Usia 80 tahun bukan halangan bagi Romo Prof. Dr. John Tondowidjojo Tondodiningrat, CM, untuk berkarya bagi gereja, nusa, dan bangsa. Imam Lazaris dan guru besar ilmu komunikasi yang akrab disapa Romo Tondo ini tetap aktif berkarya, melahirkan ide-ide kreatif yang patut diapresiasi. Salah satunya dengan menggelar Gebyar Tari Tradisional Nusantara 2014 di Gedung Kristus Raja, Surabaya. Pentas tari ini untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-80.
Acara dikemas dalam bentuk lomba unjuk kreativitas tari tradisional nusantara untuk pelajar Sekolah Dasar Katolik (SDK) di Kota Surabaya. Ada 12 SDK yang berpartisipasi, yaitu SDK St. Aloysius, SDK Stella Maris, SDK St. Theresia I, SDK St. Theresia II, SDK Yohanes Gabriel, SDK Caritas I, SDK St. Maria Regina, SDK St. Clara, SDK St. Angela, SDK St. Yusup Tropodo, SDK St. Xaverius, dan SDK St. Yosep.
Romo Tondo, yang masih kerabat dekat Raden Ajeng Kartini, pejuang emansipasi wanita Indonesia, mengajak semua peserta lomba berparade terlebih dahulu saat pembukaan sambil menyanyikan lagu-lagu daerah seperti Ampar-Ampar Pisang, Yamko Rambe Yamko. Selanjutnya, menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa.
Romo Tondo beperan sebagai dirigen. Gaya membiramanya sangat luwes. Hal ini tentu tidak mengherankan karena Romo Tondo ternyata pernah menempuh spesialisasi dalam bidang musik untuk Komposisi dan Dirigen dan Musik Liturgi di Venezia, Italia. Ia juga menulis buku teknik vokal dan dirigen.
Acara berlanjut ke unjuk kebolehan setiap peserta. Beragam tari tradisional ditampilkan seperti tari Jaipong, Merak, Jaran Kore, Boneka. Siswa-siswi SDK Santo Yusuf, Tropodo, menampilkan Tari Kolaborasi Nusantara dengan kolaborasi tiga jenis tarian, yaitu Ngapoteh dari Madura, Perang dari Pedalaman Dayak, dan Tari Indang Badinding dari Aceh. Ketiga tarian ini diiringi musik live angklung dan gamelan.
Tarian ini, menurut Ibu Lucy, pembina tari SDK Santo Yusuf Tropodo, diciptakan dengan tujuan meningkatkan persaudaraan, kesatuan, dan persatuan bangsa Indonesia. SDK St. Aloysius menampilkan tarian Egon Senterewe. Musik yang rancak dan dinamis khas Jawa Timur mengiringi anak-anak menari sejenis Jaranan. Tarian yang berkembang di daerah Kediri, Trenggalek, Tuluangagung, ini mengutamakan kreativitas gerak, kekayaan, dan kepadatan gerak. Tontonan yang menarik ini di daerahnya mulai ditinggalkan masyarakat seiring perkembangan zaman.
Para undangan, pengunjung, dan peserta lomba tari secara tidak langsung diajak mengenal dan menyaksikan keanekaragaman budaya Indonesia baik lewat iringan musik, lagu, dan tari-tarian yang dibawakan oleh para peserta. Hal ini sesuai dengan gagasan dan harapan Romo Tondo. Pastor senior ini prihatin karena di zaman modern ini seni tradisional makin pudar dan dilupakan orang, khususnya kalangan muda.
Romo Tondo ingin agar seni tradisional dapat dilestarikan kembali. Seni tradisional merupakan warisan, harta yang paling berharga untuk tetap dimiliki, dibanggakan, dan dikembangkan. Kegiatan ini juga diharapkan membantu pemerintah menumbuhkan rasa nasionalisme sejak dini dalam diri generasi muda.
"Saya mau, melalui perayaan ulang tahun ke-80 ini, menyumbangkan sesuatu yang berharga, yang mempunyai nilai untuk nusa dan bangsa saya melalui pentas seni budaya. Bisa paduan suara, tari tradisional, dan kesenian tradisional lainnya," ujar Romo Tondo. (Lana Sari)
Acara dikemas dalam bentuk lomba unjuk kreativitas tari tradisional nusantara untuk pelajar Sekolah Dasar Katolik (SDK) di Kota Surabaya. Ada 12 SDK yang berpartisipasi, yaitu SDK St. Aloysius, SDK Stella Maris, SDK St. Theresia I, SDK St. Theresia II, SDK Yohanes Gabriel, SDK Caritas I, SDK St. Maria Regina, SDK St. Clara, SDK St. Angela, SDK St. Yusup Tropodo, SDK St. Xaverius, dan SDK St. Yosep.
Romo Tondo, yang masih kerabat dekat Raden Ajeng Kartini, pejuang emansipasi wanita Indonesia, mengajak semua peserta lomba berparade terlebih dahulu saat pembukaan sambil menyanyikan lagu-lagu daerah seperti Ampar-Ampar Pisang, Yamko Rambe Yamko. Selanjutnya, menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa.
Romo Tondo beperan sebagai dirigen. Gaya membiramanya sangat luwes. Hal ini tentu tidak mengherankan karena Romo Tondo ternyata pernah menempuh spesialisasi dalam bidang musik untuk Komposisi dan Dirigen dan Musik Liturgi di Venezia, Italia. Ia juga menulis buku teknik vokal dan dirigen.
Acara berlanjut ke unjuk kebolehan setiap peserta. Beragam tari tradisional ditampilkan seperti tari Jaipong, Merak, Jaran Kore, Boneka. Siswa-siswi SDK Santo Yusuf, Tropodo, menampilkan Tari Kolaborasi Nusantara dengan kolaborasi tiga jenis tarian, yaitu Ngapoteh dari Madura, Perang dari Pedalaman Dayak, dan Tari Indang Badinding dari Aceh. Ketiga tarian ini diiringi musik live angklung dan gamelan.
Tarian ini, menurut Ibu Lucy, pembina tari SDK Santo Yusuf Tropodo, diciptakan dengan tujuan meningkatkan persaudaraan, kesatuan, dan persatuan bangsa Indonesia. SDK St. Aloysius menampilkan tarian Egon Senterewe. Musik yang rancak dan dinamis khas Jawa Timur mengiringi anak-anak menari sejenis Jaranan. Tarian yang berkembang di daerah Kediri, Trenggalek, Tuluangagung, ini mengutamakan kreativitas gerak, kekayaan, dan kepadatan gerak. Tontonan yang menarik ini di daerahnya mulai ditinggalkan masyarakat seiring perkembangan zaman.
Para undangan, pengunjung, dan peserta lomba tari secara tidak langsung diajak mengenal dan menyaksikan keanekaragaman budaya Indonesia baik lewat iringan musik, lagu, dan tari-tarian yang dibawakan oleh para peserta. Hal ini sesuai dengan gagasan dan harapan Romo Tondo. Pastor senior ini prihatin karena di zaman modern ini seni tradisional makin pudar dan dilupakan orang, khususnya kalangan muda.
Romo Tondo ingin agar seni tradisional dapat dilestarikan kembali. Seni tradisional merupakan warisan, harta yang paling berharga untuk tetap dimiliki, dibanggakan, dan dikembangkan. Kegiatan ini juga diharapkan membantu pemerintah menumbuhkan rasa nasionalisme sejak dini dalam diri generasi muda.
"Saya mau, melalui perayaan ulang tahun ke-80 ini, menyumbangkan sesuatu yang berharga, yang mempunyai nilai untuk nusa dan bangsa saya melalui pentas seni budaya. Bisa paduan suara, tari tradisional, dan kesenian tradisional lainnya," ujar Romo Tondo. (Lana Sari)
82 Tahun Paroki St. Willibrordus Cepu
Keceriaan terpancar dalam wajah umat yang hadir dalam perayaan sederhana penuh syukur dalam HUT ke-82 Paroki Santo Willibrordus, Cepu, Senin 15 September 2014. Acara dimulai dengan pemutaran film sejarah paroki. Meski sudah sempat diputar dua tahun sebelumnya, umat tidak bosan melihatnya. Film tersebut dimaknai bahwa benih tumbuh di tanah berminyak. Cepu memang dikenal sebagai ladang minyak yang mampu bertahan hingga sekarang.
Pastor kepala, RD Alexius Kurdo Irianto mengajak umat untuk merefleksikan bahwa umat yang hadir merupakan sisa yang kudus. Mengapa dan karena apa kita masih setia sampai hari ini? Acara ditutup dengan misa syukur bersama RD Siprianus Yitno, RD Antonius Iwan Setiabudi, RP Lukas, dengan konselebran utama RD Alexius Kurdo Irianto.
Dalam homilinya, Romo Kurdo menegaskan bahwa kesediaan untuk terlibat dalam perutusan Tuhan Yesus adalah kesediaan menderita bersama Tuhan Yesus sendiri. Ketika merenungkan Injil, ia membayangkan dan merasakan getar sabda Tuhan Yesus kepada kita semua.
"Umat-Ku, inilah Gereja-Ku. Dan Gereja-Ku, inilah umat-Ku. Mungkin sebagian di antara kita akan menjawab: Jangan saya, jangan saya, jangan saya... dengan berbagai macam alasan. Lalu, diberikan kepada siapa Gereja Tuhan Yesus ini jika tidak kepada umat-Nya?" urai Romo Kurdo. (Rosari)
Pastor kepala, RD Alexius Kurdo Irianto mengajak umat untuk merefleksikan bahwa umat yang hadir merupakan sisa yang kudus. Mengapa dan karena apa kita masih setia sampai hari ini? Acara ditutup dengan misa syukur bersama RD Siprianus Yitno, RD Antonius Iwan Setiabudi, RP Lukas, dengan konselebran utama RD Alexius Kurdo Irianto.
Dalam homilinya, Romo Kurdo menegaskan bahwa kesediaan untuk terlibat dalam perutusan Tuhan Yesus adalah kesediaan menderita bersama Tuhan Yesus sendiri. Ketika merenungkan Injil, ia membayangkan dan merasakan getar sabda Tuhan Yesus kepada kita semua.
"Umat-Ku, inilah Gereja-Ku. Dan Gereja-Ku, inilah umat-Ku. Mungkin sebagian di antara kita akan menjawab: Jangan saya, jangan saya, jangan saya... dengan berbagai macam alasan. Lalu, diberikan kepada siapa Gereja Tuhan Yesus ini jika tidak kepada umat-Nya?" urai Romo Kurdo. (Rosari)
Subscribe to:
Posts (Atom)