Oleh Yoseph Stenly Agung Jemparut
Anggota PMKRI Surabaya St. Lukas
Bisnis tidak akan terlepas dari untung rugi. Bisnis adalah kegiatan untuk menghasilkan keuntungan. Dalam bisnis, semua bisa diperhitungkan sebagai materi yang memiliki harga ekonomis dan bisa diperdagangkan. Sementara Tuhan adalah suatu entitas misteri alam semesta yang tak terselami oleh pengetahuan manusia. Tuhan hanya menjadi realitas yang bisa diyakini dan dimaknai lewat wahyu dari kitab suci.
Lantas, apa hubungan realitas transenden dengan bisnis yang merupakan realitas manusiawi? Banyak agamawan yang menjelma menjadi orang-orang berduit berkat perdagangan Tuhan. Berapa seorang ustad, dai, atau kiai dibayar untuk ceramah di televisi? Berapa harga yang dipatok oleh seorang pendeta untuk khotbah inspirasi iman? Bagaimana seorang pendeta bisa mempunyai mobil mewah?
Berceramah tentang Tuhan, mendirikan gereja-gereja baru atas nama kemuliaan Tuhan, rupanya menjadi tren bisnis yang memiliki banyak peminat, khususnya di Indonesia. Religiositas masyarakat Indonesia rupanya banyak dilihat sebagai peluang usaha oleh sebagian orang. Komunitas-komunitas religius dibetuk tidak lebih dari sekadar untuk mencari relasi dan memperluas bisnis. Memang Tuhan mahabaik dan mahamurah sehingga membiarkan diri-Nya dihargai dengan setumpuk emas dan kertas buatan tangan manusia. Maka, tidak mengherankan seribu kata-kata bijak dari kaum agamawan tidak mempan untuk menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan moral dan akhlak.
Setiap wahyu yang diterjemahkan dan dimaknai memiliki harganya tersendiri, yaitu kepuasan pendengar. Umat mulai memposisikan diri sebagai stakeholder yang memiliki tingkat kepuasan mengenai Tuhan. Orang kaya hanya mau mendengar khotbah yang bisa memberi semangat untuk menambah kekayaan dan membenarkan sikap tamak dan rakus.
Orang miskin hanya mau mendengar khotbah penghiburan yang membuat mereka tetap menikmati kemiskinan sebagai takdir. Sementara para pemuka agama sibuk dengan konsep-konsep teologi dan menyesuaikannya dengan pesanan dan harapan kosumen. Konsep Tuhan bukan untuk memberikan pencerahan kepada umat, tapi dijadikan komoditas unggulan yang setara dengan minyak mentah dan batangan emas.
Maka, tidak jarang kebenaran menjadi mahal bagi bangsa yang begitu besar ini dan terlalu murahahan untuk diperbincangkan dan dijadikan pedoman yang hidup dan menjiwai setiap dinamika iman. Tidak perlu heran ketika dalam ilmu ekonomi muncul suatu mazhab baru, yaitu ekonomi religius di mana hubungan antara umat dan para pemimpin umat memiliki pola hubungan pasar. Hal ini juga yang menyebabkan kebenaran itu sendiri bisa menjadi selalu relatif, memiliki toleransi, dan mudah disiasati.
Nas-nas dalam kitab suci dijadikan layaknya undang-undang yang antara satu pasal dengan pasal yang lainnya bisa saling tumpang tindih. Dan, orang-orang yang sedikit paham tentang kitab suci mulai berspekulasi menciptakan kebenaran-kebenaran baru yang seolah-olah berakar pada kitab suci itu sendiri.
Di lain pihak muncul pula ilmu perbandingan agama yang sepertinya bertujuan mengungkapkan keunggulan keyakinan yang dimiliki dan berusaha meruntuhkan keyakinan yang lain tanpa bersifat objektif sebagai ilmu pengetahuan yang netral. Lalu, bagaimana dengan kita, orang katolik?
Kita harus mengakui bahwa Gereja kita yang suci dan kudus tidak pernah menjadikan Tuhan sebagai komoditas. Dogma-dogma iman yang kita miliki tidak pernah menjadi hasil pesanan siapa pun, bahkan cendrung secara radikal menilai zaman dan mengkritisi berbagai aspek yang menyampingkan kemanusiaan sebagai anugerah terindah dari Tuhan. Tidak jarang Gereja mengkritisi dirinya sendiri.
Melalui Ajaran Sosial Gereja (ASG), Gereja Katolik secara jujur dan terbuka menilai dunia dan perubahannya dengan berpedoman pada Injil suci tanpa melakukan berbagai perbandingan sebagai wujud pembelaan diri dari rasa takut kehilangan kepercayaan umat. Gereja Katolik sadar akan posisinya bukan hanya sebagai komunitas suci yang dipersatukan Roh Kudus, tetapi juga sebagai sebuah lembaga yang secara penuh menyadari realitas dunia yang sebenarnya.
Dalam ASG pula, kita semua bisa memahami bahwa Sri Paus dan Bapa Uskup sebagai gembala umat selalu berusaha menerjemahkan dan membahasakan bahasa Tuhan ke dalam bahasa yang bisa dipahami manusia pada zaman ini. Hal ini dubuat bukan untuk memenuhi tuntutan zaman, tapi lebih pada mejelaskan posisi kasih dan karunia Allah di tengah kebenaran-kebenaran semu yang sering mengarah pada kesesatan.
Hal ini tentu dilatarbelakangi oleh sikap permenungan yang begitu mendalam dan relasi begitu kuat dengan Allah Yang Maha Hidup, sehingga menghasilkan pembaharuan secara terus-menerus dan tidak pernah kehilangan jati dirinya meski berada di tengah-tengah dunia yang semakin materialistik.
Pro Ecclesia et Patria! (*)
Friday, November 14, 2014
16 Seminaris Garum Jalani Perutusan
Sabtu, 2 Agustus 2014, di Kapel Seminari Menengah St. Vincentius a Paulo Garum (Seminari Garum), Blitar, diadakan Misa Perutusan para seminaris tingkat IV (akhir). Para seminaris yang memiliki nama pelindung Angkatan Santo Thomas Aquino ini berjumlah 16 orang. Misa dipimpin oleh Rektor Seminari Garum RD Aloysius Hans Kurniawan bersama lima imam lain yang bertugas di Seminari Garum sebagai konselebran, yaitu RP FX Mistrianto CM, RP Antonius Kurniawan CM, RD FX Satriyo Widyatmoko, RD Antonius PuriAnggoro, dan RD EP Suryandoko.
Dalam homilinya, Romo Hans menyatakan bahwa para seminaris, selagi masih muda dan sebagai seorang calon imam, diutus untuk menjadi pewarta kebaikan. Homili dilanjutkan dengan upacara pemberkatan dan penerimaan jubah kepada seminaris tingkat IV. Setelah menerima jubah, para seminaris tingkat IV mengenakan jubah, kemudian berarak menuju ke depan altar diiringi dengan lagu-lagu perutusan, lalu diperciki dengan air suci.
Keenam belas seminaris tingkat IV ini menjalani pastoral di stasi dan sekolah Katolik yang berada di wilayah tiga paroki dan satu kuasi, yaitu Paroki St. Yusuf dan Paroki St. Maria, Blitar; Paroki St. Petrus-Paulus, Wlingi; dan Kuasi St. Fransiskus Asisi, Resapombo. RD Hans juga mengungkapkan bahwa diharapkan dengan seremoni seperti ini, seminaris semakin termotivasi untuk mengembangkan panggilan menjadi imam. (Alfredo Yakobus Silver Lodo)
16 Seminaris Tingkat IV yang Diutus
1. Gabriel Rionaldi Wijaya Emar (asal Paroki St. Maria Assumpta, Kupang, NTT)
2. Ricardo Gerry HeruCornelis (St. Maria, Blitar).
3. Aloysius Himawan Sasono (Sakramen Maha Kudus, Surabaya).
4. Basillius Gerardus Evam Dwibala (St. Paulus, Nganjuk).
5. Alexander Jesse Andy Firdaus (Ratu Rosari, Malang)
6. Vincentius Agsuko Wiguna (St. Mikael, Surabaya).
7. Rosarius Lobo (St. Antonius Padua, Ampenan, NTB).
8. Michael Charlie Sudardjono (St. Paulus, Juanda, Sidoarjo).
9. Vincentius Ferdi Bayuaji (St. Willibrordus, Cepu, Jateng).
10. Timothy Stevanus Tappi (St. Yohanes, Bintuni, Papua Barat)
11. Kristoforus Krisna Setiawan (Sakramen Maha Kudus, Surabaya)
12. Benediktus Denny Aditya (Roh Kudus, Surabaya).
13. Alfredo Yakobus Silver Lodo (St. Maria Annuntiata, Sidoarjo)
14. Steve Vanlee Wuwungan (St. Yohanes, Bintuni, Papua Barat)
15. Gabriel Galli Leo (St. Yusuf, Surabaya)
16. Yohanes Aji Palmoko (St. Mateus, Pare).
HUT Ke-42 Santa Maria Ponorogo
Persaudaraan Sejati!
Itulah tema Hari Jadi Ke-42 Paroki Santa Maria Ponorogo (15 Agustus 1972-2014). Persaudaraan menjadi kata kunci dalam merayakan ulang tahun ini. Dengan mengganggap orang lain sebagai saudara, kita mampu membuka diri terhadap kebutuhan sesama, menerima orang lain apa adanya, terlebih yang namanya jelek, dan saling memaafkan bila jatuh dalam kelalaian.
Sebagaimana Tuhan Yesus mengajar para murid, "Kamu adalah saudara-saudara-Ku" (bdk. Yoh 15:15). Tema Persaudaraan Sejati mewarnai serangkaian acara yang digelar selama 15 hari penuh (1-15 Agustus 2014). Mulai dari rekoleksi umat, donor darah, doa Rosario di masing-masing lingkungan, tirakatan (mocopatan), ziarah makam para tokoh pendahulu Gereja Katolik Ponorogo, hingga jalan santai. Dan, tanggal 15 Agustus sebagai puncak Hari Paroki yang ditandai dengan Misa Syukur Konselebrasi. Usai misa, diadakan potong tumpeng dan makan bersama diiringi hiburan campursari.
Seluruh umat dari berbagai stasi ikut berpartisipasi merayakannya. Stasi Sampung, Ringin Putih, Slahung dan sekitarnya, Stasi Pulung, bahkan stasi yang terjauh, Stasi Pacitan (80 kilometer dari Ponorogo). Segala kegiatan diikuti oleh semua usia: balita, anak-anak, OMK, generasi muda, sampai usia lanjut. Mereka ikut jalan santai dan menyanyi campursari.
Diagendakan untuk tahun depan acara-acaranya lebih pada pengembangan bakat-minat, talenta, yang berguna untuk pelayanan pastoral. Misalnya: lomba membaca Kitab Suci, menyanyikan Mazmur, dirigen, organis, merangkai bunga, misdinar, dan berkhotbah bagi asisten imam. (*)
Seminar Jurnalistik dan Komunikasi di Paroki Stefanus
Dewasa ini banyak paroki mencoba menerbitkan media atau warta paroki. Ada yang berupa majalah dengan tampilan luks dan elegan, ada yang lumayan, dan ada yang sekadar ada. Namun, sudah menjadi rahasia umum, dalam perjalanan, banyak media paroki "dibredeli" sendiri alias tidak terbit lagi. Ada yang tetap eksis dan ada lagi yang terbitnya senen-kemis.
Tentu, alasan klasik adalah pendanaan. Namun, masalah dana bukanlah satu-satu alasan yang mendasar. Buktinya, ada paroki yang dananya banyak, tetapi media paroki terbitnya senen-kemis. Sebenarnya, masalah yang paling mendasar bukanlah dana, tetapi SDM atau siapa yang mau mengelola? Bagaimana SDM-nya?
Untuk itulah, pada 12 Juli 2014 lalu, Paroki Stefanus, Tandes, Surabaya, mengadakan seminar jurnalistik dan komunikasi di Balai Paroki dengan menghadirkan dua pembicara: Errol Jonathans, pakar komunikasi yang juga CEO Radio Suara Surabaya, serta Agnes Swetta Pandia, Kepala Biro Kompas JawaTimur dan wartawan senior.
Menurut Ketua DPP Bidang Kerasulan Khusus, Agustinus Rianta, sasaran seminar ini adalah para Rekat, OMK, dan umat yang berminat dengan dunia wartawan. "Saya bersyukur karena Rekat, OMK dan umat yang mengikuti seminar ini sebanyak 35 orang. Kami berharap teman-teman Komsos Paroki Stefanus bisa menindaklanjuti kegiatan ini kepada peserta, apa itu dengan pelatihan jurnalistik atau apalah, yang penting, ada kegiatan untuk meningkatkan kecerdasan mereka. Semoga para peserta nanti bisa menjadi wartawan paroki yang andal," tutur Rianta.
Sementara Pastor Paroki St Stefanus, Romo Paulus GustiPurnomo, Pr, seusai seminar mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mencetak SDM paroki dan membantu terbitnya media paroki baru nanti. "Kalau kita tidak siapkan SDM-nya dulu, nantinya majalah kadang terbit kadang tidak. Percumaitu. Makanya, saya berterima kasih kepada Pak Errol dan Ibu Etta yang bersedia untuk menjadi pembicara sekaligus memberi motivasi kepada kaum muda di paroki kami. Saya berharap para pewarta sudah siap membantu kelancaran terbitnya majalahini," tutur Romo Gusti berharap.
(herman yos kiwanuka)
Tentu, alasan klasik adalah pendanaan. Namun, masalah dana bukanlah satu-satu alasan yang mendasar. Buktinya, ada paroki yang dananya banyak, tetapi media paroki terbitnya senen-kemis. Sebenarnya, masalah yang paling mendasar bukanlah dana, tetapi SDM atau siapa yang mau mengelola? Bagaimana SDM-nya?
Untuk itulah, pada 12 Juli 2014 lalu, Paroki Stefanus, Tandes, Surabaya, mengadakan seminar jurnalistik dan komunikasi di Balai Paroki dengan menghadirkan dua pembicara: Errol Jonathans, pakar komunikasi yang juga CEO Radio Suara Surabaya, serta Agnes Swetta Pandia, Kepala Biro Kompas JawaTimur dan wartawan senior.
Menurut Ketua DPP Bidang Kerasulan Khusus, Agustinus Rianta, sasaran seminar ini adalah para Rekat, OMK, dan umat yang berminat dengan dunia wartawan. "Saya bersyukur karena Rekat, OMK dan umat yang mengikuti seminar ini sebanyak 35 orang. Kami berharap teman-teman Komsos Paroki Stefanus bisa menindaklanjuti kegiatan ini kepada peserta, apa itu dengan pelatihan jurnalistik atau apalah, yang penting, ada kegiatan untuk meningkatkan kecerdasan mereka. Semoga para peserta nanti bisa menjadi wartawan paroki yang andal," tutur Rianta.
Sementara Pastor Paroki St Stefanus, Romo Paulus GustiPurnomo, Pr, seusai seminar mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mencetak SDM paroki dan membantu terbitnya media paroki baru nanti. "Kalau kita tidak siapkan SDM-nya dulu, nantinya majalah kadang terbit kadang tidak. Percumaitu. Makanya, saya berterima kasih kepada Pak Errol dan Ibu Etta yang bersedia untuk menjadi pembicara sekaligus memberi motivasi kepada kaum muda di paroki kami. Saya berharap para pewarta sudah siap membantu kelancaran terbitnya majalahini," tutur Romo Gusti berharap.
(herman yos kiwanuka)
Pendampingan Pembina Keluarga oleh Kemenag Jatim
Salah satu usaha yang dilakukan Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur pada tahun anggaran 2014 adalah menyelenggarakan pendampingan pembina keluarga bahagia dan sejahtera yang ada di paroki-paroki di Keuskupan Surabaya dan Keuskupan Malang Malang. Pembimbing Masyarakat Katolik, Kemenag Jatim, Robertus Angkowo, bersama jajarannya melihat adanya budaya global yang menimbulkan perubahan nilai-nilai dalam kehidupan keluarga. Mulai soal gender, kesakralan perkawinan, tanggung jawab, kesopanan, dan sebagainya. Globalisasi itu bisa menggoyahkan keutuhan keluarga Katolik.
Karena itulah, Pembimas Katolik mengadakan pembinaan bagi pembina keluarga Katolik di paroki-paroki se-Jawa Timur. Ada 36 pasutri Katolik yang diundang mengikuti pembinaan di Hotel Inna, Tretes, Pasuruan, pada 21-23 Agustus 2014. Pembimas menghadirkan narasumber RD Agustinus Tri Budi Utomo (Vikjend Keuskupan Surabaya), RP Elenterius Bon, SVD, dan dr. Wahyu Lulus Ariyanto (RKZ Surabaya).
Romo Didik, panggilan Romo Vikjend, menyajikan Arah Pastoral Gereja Katolik dalam pembinaan keluarga. Sebagai pijakan, Romo Didik mengungkapkan hasil riset Komisi Keluarga 2007. Hasil riset itu menyebutkan ada lima penyebab konflik dalam keluarga. Pertama, pribadi pasangan, termasuk pemahaman, dan penghayatan mereka atas makna cinta. Kedua, ekonomi atau keuangan. Ketiga, hadirnya pihak ketiga: PIL/WIL, keluarga besar: mertua, ipar, dsb. Keempat,anak. Kelima, beda suku, budaya, agama, status sosial, pendidikan, dsb.
Selaras dengan Arah Dasar Keuskupan Surabaya 2010-2019, cita-cita Ardas dan prioritas program pastoral keluarga, Romo Didik menjelaskan bahwa program pembinaan keluarga ditujukan kepada kelompok pranikah, keluarga muda, keluarga, dan lansia. Pembinaan keluarga Katolik diarahkan kepada dua aspek: intern dan ekstern. Intern adalah pembinaan secara individu, agar masing-masing pribadi mencapai kedewasaan emosi, pemahaman, dan kerohanian. Kemudian pembinaan secara intern juga diarahkan untuk keluarga yang mengharapkan terbangunnya komunikasi yang sehat dan terjaminnya pendidikan anak.
Sedangkan aspek ekstern menyangkut pemahaman dan pembinaan untuk lingkungan keluarga, lingkungan rumah, pergaulan, pekerjaan, dan pendidikan. Arah pembinaan ini diselaraskan dengan arah pembinaan keluarga oleh pemerintah melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana. Dimensi pembinaan keluarga yang dilakukan Keuskupan Surabaya adalah dimensi pengetahuan, emosi, rohani, dan keterampilan.
Untuk dimensi pengetahuan, disampaikan pemahaman hakikat dan tujuan, pengetahuan manajemen keluarga dan kesetaraan pria dan wanita. Pada dimensi emosi, pembinaan diarahkan pada pemahaman kepribadian manusia (psikologi), pencapaian pendewasaan diri dan kepiawaian mengolah perasaan. Untuk dimensi rohani, dilakukan melalui retret, liturgi, dan sakramen, doa dan devosi keluarga.
Dan, yang terakhir, dimensi keterampilan pembinaan keluarga diarahkan pada penguasaan teknik komunikasi, manajemen ekonomi rumah tangga, resolusi konflik, penanganan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Sementara itu, Romo Elementius Bon SVD lebih mengajak para pasutri untuk berefleksi: Mengapa mencintai dan bagaimana tetap mencintai. Cinta suami istri adalah manifestasi cinta Allah. Karena manusia adalah gambar dan rupa Allah - mengasihi dan saling mengasihi. Seorang laki-laki yang mengambil seorang perempuan sebagai istri dan seorang perempuan yang menjadikan laki sebagai suami dipanggil untuk mengasihi dia seperti Allah.
Romo Elen menjelasnkan bahwa faktor yang menentukan kebahagiaan keluarga adalah KASIH, bukan fisik. Kasih merupakan hubungan dari hati ke hati dan dari jiwa ke jiwa. Tubuh tanpa jiwa adalah materi. Antara tubuh dan jiwa terdapat hubungan erat. Tubuh adalah ekspresi jiwa. "Tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?"
Keluarga bahagia adalah keluarga yang dihiasi oleh senyum yang menawan, mata yang bersinar dari kata yang mesra atau sentuhan tangan yang lembut dapat mengarah pada pelukan yang menggairahkan dan cumbuan merupakan pemenuhan akhir dalam kebersamaan.
Selalu perlu disadari bahwa Tubuh adalah jiwa yang kelihatan. Daya tarik terhadap lawan jenis adalah sesuatu yang alami, namun itu tidak bisa dijadikan alasan pasti untuk menikah atau membangun keluarga. Langkah perkawinan itu adalah benar untuk orang Kristen jika dijamin bahwa perkawinan akan mengarahkannya lebih dekat kepada Yesus. Dan, bahwa keduanya akan melayani Yesus bersama-sama dengan lebih penuh daripada hanya sendirian. Perkawinan untuk seorang Kristen bukan semata-mata untuk memuaskan fisik dan keinginan emosionalnya.
Saran dari Romo Elen untuk pasutri: "Jika kamu berpikir tentang keterikatan jiwa orang lain pada hidupmu melalui perkawinan, belajarlah untuk mengasihi, belajarlah membuka hati, belajarlah memikirkan kepentingan orang lain."
Pada sesi ketiga, di hadapan 36 pasutri, dr. Wahyu Lulus Ariyanto memberikan materi seksualitas dalam keluarga. Masukan yang sangat penting dari dr Ari: bila para pembina pasutri mendampingi pasangan muda yang menghadapi konflik akibat seksualitas perlu dijelaskan apa sebenarnya tujuan dari seksualitas. Seksualitas dalam keluarga adalah untuk reproduksi dan rekreasi. Bila ada pasangan yang sudah lama menikah, namun belum juga memperoleh keturunan, kepadanya disarankan agar memeriksakan kesehatan sperma bagi suami dan USG transvaginal bagi istri.
Hindari sikap saling menuduh pasangannya. Dan, saat hubungan intim suami istri itu dimaksudkan sebagai rekreasi, pasangan suami istri haruslah saling memahami kondisi masing-masing. Jangan sampai satu pihak terlalu dominan atau egois. Banyak persoalan yang muncul dalam keluarga diakibatkan oleh hubungan seksual.
Untuk menuju keluarga Katolik bahagia dan sejahtera, dasar utamanya adalah saling mengasihi, saling menerima pasangan seperti apa danya, saling mempercayai dan dapat dipercaya serta setia satu sama lain. Hal-hal inilah yang harus selalu dibangun di tengah situasi dunia yang semakin banyak godaan yang menyerang. Dalam acara pembinaan itu, penghayatan akan nilai-nilai di atas juga dilakukan dengan acara outbond.
Semoga keluarga-keluarga Katolik mengalami kebahagiaan dan kesejahteraan. (Anton Suliyanto)
Karena itulah, Pembimas Katolik mengadakan pembinaan bagi pembina keluarga Katolik di paroki-paroki se-Jawa Timur. Ada 36 pasutri Katolik yang diundang mengikuti pembinaan di Hotel Inna, Tretes, Pasuruan, pada 21-23 Agustus 2014. Pembimas menghadirkan narasumber RD Agustinus Tri Budi Utomo (Vikjend Keuskupan Surabaya), RP Elenterius Bon, SVD, dan dr. Wahyu Lulus Ariyanto (RKZ Surabaya).
Romo Didik, panggilan Romo Vikjend, menyajikan Arah Pastoral Gereja Katolik dalam pembinaan keluarga. Sebagai pijakan, Romo Didik mengungkapkan hasil riset Komisi Keluarga 2007. Hasil riset itu menyebutkan ada lima penyebab konflik dalam keluarga. Pertama, pribadi pasangan, termasuk pemahaman, dan penghayatan mereka atas makna cinta. Kedua, ekonomi atau keuangan. Ketiga, hadirnya pihak ketiga: PIL/WIL, keluarga besar: mertua, ipar, dsb. Keempat,anak. Kelima, beda suku, budaya, agama, status sosial, pendidikan, dsb.
Selaras dengan Arah Dasar Keuskupan Surabaya 2010-2019, cita-cita Ardas dan prioritas program pastoral keluarga, Romo Didik menjelaskan bahwa program pembinaan keluarga ditujukan kepada kelompok pranikah, keluarga muda, keluarga, dan lansia. Pembinaan keluarga Katolik diarahkan kepada dua aspek: intern dan ekstern. Intern adalah pembinaan secara individu, agar masing-masing pribadi mencapai kedewasaan emosi, pemahaman, dan kerohanian. Kemudian pembinaan secara intern juga diarahkan untuk keluarga yang mengharapkan terbangunnya komunikasi yang sehat dan terjaminnya pendidikan anak.
Sedangkan aspek ekstern menyangkut pemahaman dan pembinaan untuk lingkungan keluarga, lingkungan rumah, pergaulan, pekerjaan, dan pendidikan. Arah pembinaan ini diselaraskan dengan arah pembinaan keluarga oleh pemerintah melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana. Dimensi pembinaan keluarga yang dilakukan Keuskupan Surabaya adalah dimensi pengetahuan, emosi, rohani, dan keterampilan.
Untuk dimensi pengetahuan, disampaikan pemahaman hakikat dan tujuan, pengetahuan manajemen keluarga dan kesetaraan pria dan wanita. Pada dimensi emosi, pembinaan diarahkan pada pemahaman kepribadian manusia (psikologi), pencapaian pendewasaan diri dan kepiawaian mengolah perasaan. Untuk dimensi rohani, dilakukan melalui retret, liturgi, dan sakramen, doa dan devosi keluarga.
Dan, yang terakhir, dimensi keterampilan pembinaan keluarga diarahkan pada penguasaan teknik komunikasi, manajemen ekonomi rumah tangga, resolusi konflik, penanganan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Sementara itu, Romo Elementius Bon SVD lebih mengajak para pasutri untuk berefleksi: Mengapa mencintai dan bagaimana tetap mencintai. Cinta suami istri adalah manifestasi cinta Allah. Karena manusia adalah gambar dan rupa Allah - mengasihi dan saling mengasihi. Seorang laki-laki yang mengambil seorang perempuan sebagai istri dan seorang perempuan yang menjadikan laki sebagai suami dipanggil untuk mengasihi dia seperti Allah.
Romo Elen menjelasnkan bahwa faktor yang menentukan kebahagiaan keluarga adalah KASIH, bukan fisik. Kasih merupakan hubungan dari hati ke hati dan dari jiwa ke jiwa. Tubuh tanpa jiwa adalah materi. Antara tubuh dan jiwa terdapat hubungan erat. Tubuh adalah ekspresi jiwa. "Tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?"
Keluarga bahagia adalah keluarga yang dihiasi oleh senyum yang menawan, mata yang bersinar dari kata yang mesra atau sentuhan tangan yang lembut dapat mengarah pada pelukan yang menggairahkan dan cumbuan merupakan pemenuhan akhir dalam kebersamaan.
Selalu perlu disadari bahwa Tubuh adalah jiwa yang kelihatan. Daya tarik terhadap lawan jenis adalah sesuatu yang alami, namun itu tidak bisa dijadikan alasan pasti untuk menikah atau membangun keluarga. Langkah perkawinan itu adalah benar untuk orang Kristen jika dijamin bahwa perkawinan akan mengarahkannya lebih dekat kepada Yesus. Dan, bahwa keduanya akan melayani Yesus bersama-sama dengan lebih penuh daripada hanya sendirian. Perkawinan untuk seorang Kristen bukan semata-mata untuk memuaskan fisik dan keinginan emosionalnya.
Saran dari Romo Elen untuk pasutri: "Jika kamu berpikir tentang keterikatan jiwa orang lain pada hidupmu melalui perkawinan, belajarlah untuk mengasihi, belajarlah membuka hati, belajarlah memikirkan kepentingan orang lain."
Pada sesi ketiga, di hadapan 36 pasutri, dr. Wahyu Lulus Ariyanto memberikan materi seksualitas dalam keluarga. Masukan yang sangat penting dari dr Ari: bila para pembina pasutri mendampingi pasangan muda yang menghadapi konflik akibat seksualitas perlu dijelaskan apa sebenarnya tujuan dari seksualitas. Seksualitas dalam keluarga adalah untuk reproduksi dan rekreasi. Bila ada pasangan yang sudah lama menikah, namun belum juga memperoleh keturunan, kepadanya disarankan agar memeriksakan kesehatan sperma bagi suami dan USG transvaginal bagi istri.
Hindari sikap saling menuduh pasangannya. Dan, saat hubungan intim suami istri itu dimaksudkan sebagai rekreasi, pasangan suami istri haruslah saling memahami kondisi masing-masing. Jangan sampai satu pihak terlalu dominan atau egois. Banyak persoalan yang muncul dalam keluarga diakibatkan oleh hubungan seksual.
Untuk menuju keluarga Katolik bahagia dan sejahtera, dasar utamanya adalah saling mengasihi, saling menerima pasangan seperti apa danya, saling mempercayai dan dapat dipercaya serta setia satu sama lain. Hal-hal inilah yang harus selalu dibangun di tengah situasi dunia yang semakin banyak godaan yang menyerang. Dalam acara pembinaan itu, penghayatan akan nilai-nilai di atas juga dilakukan dengan acara outbond.
Semoga keluarga-keluarga Katolik mengalami kebahagiaan dan kesejahteraan. (Anton Suliyanto)
Mural Nasionalisme di SMAK Frateran Surabaya
Bangsa Indonesia bisa meraih kemerdekaan berkat persatuan dan kesatuan seluruh rakyat tanpa memandang suku, ras, maupun agama. Tanpa itu tidak mungkin Indonesia dapat merdeka. Saat ini bangsa Indonesia sudah meraih kemerdekaannya di usia 69 tahun. Tentu saja, selain menghargai jasa para pahlawan yang telah gugur lewat upacara, di berbagai tempat ada macam-macam lomba khas Hari Kemerdekaan seperti panjat pinang, balap karung, makan kerupuk, dan lain-lain.
SMAK Frateran, Surabaya, tentu tak ketinggalan dalam merayakan kemerdekaan Indonesia. Berbagai lomba diadakan untuk mengisi kegiatan siswa di Hari Kemerdekaan. Namun, ada salah satu lomba unik yang jarang diadakan di sekolah-sekolah lain. Lomba tersebut adalah mural atau melukis di dinding. Tema lomba mural juga selaras dengan kemerdekaan Indonesia, yaitu multikulturalisme. Lomba ini terbilang cukup jarang untuk tujuh belasan. Apalagi, tembok di Jalan Niaga Dalam dan Kepanjen sudah mulai pudar catnya sejak lomba mural lima tahun yang lalu.
Lomba ini diikuti oleh seluruh siswa mulai dari kelas 10 sampai kelas 12. Acara berlangsung dari tanggal 14 Agustus sampai 16 Agustus 2014 dengan memakai tembok yang ada di sekitar SMAK Frateran, yaitu Jalan Niaga Dalam dan Jalan Kepanjen. Masing-Masing kelas wajib mengirimkan tujuh orang untuk mengecat di tembok yang sudah disediakan tersebut.
Sebelum lomba berlangsung, diadakan seleksi untuk memilih 22 kelas yang terpilih untuk mengikuti lomba dengan pembuatan sketsa di kertas gambar. Pembuatan sketsa berlangsung pada 7-11 Agustus 2014. Tentu saja tiap kelas mewujudkan ide-ide menarik mereka lewat karya di kertas gambar tersebut
Setelah proses seleksi dan pengumuman 22 kelas yang masuk lomba, tiap kelas harus menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk mengecat. Karena mengecat di tembok yang ukurannya kurang lebih dua meter, tak heran ada kelas yang membawa tangga dari rumah. Ada juga yang mengangkat kursi di kelas masing-masing.
Tidak disangka, cuaca yang panas menjadi kendala dalam pembuatan mural. Meskipun ada beberapa tempat mural yang dingin karena terbantu pohon, namun kebanyakan mengalami cuaca panas, terutama di Jalan Niaga Dalam. Masih ada kendala-kendala lainnya, mulai dari kehabisan bahan maupun kekurangan orang karena cuaca yang cukup panas.
Namun, cuaca panas tersebut tidak menghalangi mereka dalam menyelesaikan karyanya. Ada juga ide-ide tertentu dalam mengatasi cuaca panas mulai dari memakai payung sampai membuat tenda. Semua demi menunjukkan hasil terbaik, tidak hanya di kalangan sekolah namun juga masyarakat.
Dalam lomba mural ini terdapat tiga juri yang menilai, yaitu Bapak Antonius Haritono selaku guru seni rupa, yang dibantu oleh Bapak Victor Helmi dan Bapak Aloisius Rabata. Tidak lengkap jika lomba tidak ada juara. Juara 1 diraih oleh Kelas 12 IPS 2, Juara 2 diraih oleh kelas 12 Science, dan juara favorit diraih oleh 11 Science.
Frater M. Adriano BHK selaku Kepala SMAK Frateran ketika melihat karya mural SMAK Frateran mengaku senang dan puas. "Semua karya siswa bagus dan memiliki arti masing-masing di setiap karya. Daripada dinding dicorat-coret lebih baik digunakan untuk karya. Selain bagus dilihat sekolah, juga di kalangan masyarakat sekitar," tambahnya. (Eric Soejatno)
SMAK Frateran, Surabaya, tentu tak ketinggalan dalam merayakan kemerdekaan Indonesia. Berbagai lomba diadakan untuk mengisi kegiatan siswa di Hari Kemerdekaan. Namun, ada salah satu lomba unik yang jarang diadakan di sekolah-sekolah lain. Lomba tersebut adalah mural atau melukis di dinding. Tema lomba mural juga selaras dengan kemerdekaan Indonesia, yaitu multikulturalisme. Lomba ini terbilang cukup jarang untuk tujuh belasan. Apalagi, tembok di Jalan Niaga Dalam dan Kepanjen sudah mulai pudar catnya sejak lomba mural lima tahun yang lalu.
Lomba ini diikuti oleh seluruh siswa mulai dari kelas 10 sampai kelas 12. Acara berlangsung dari tanggal 14 Agustus sampai 16 Agustus 2014 dengan memakai tembok yang ada di sekitar SMAK Frateran, yaitu Jalan Niaga Dalam dan Jalan Kepanjen. Masing-Masing kelas wajib mengirimkan tujuh orang untuk mengecat di tembok yang sudah disediakan tersebut.
Sebelum lomba berlangsung, diadakan seleksi untuk memilih 22 kelas yang terpilih untuk mengikuti lomba dengan pembuatan sketsa di kertas gambar. Pembuatan sketsa berlangsung pada 7-11 Agustus 2014. Tentu saja tiap kelas mewujudkan ide-ide menarik mereka lewat karya di kertas gambar tersebut
Setelah proses seleksi dan pengumuman 22 kelas yang masuk lomba, tiap kelas harus menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk mengecat. Karena mengecat di tembok yang ukurannya kurang lebih dua meter, tak heran ada kelas yang membawa tangga dari rumah. Ada juga yang mengangkat kursi di kelas masing-masing.
Tidak disangka, cuaca yang panas menjadi kendala dalam pembuatan mural. Meskipun ada beberapa tempat mural yang dingin karena terbantu pohon, namun kebanyakan mengalami cuaca panas, terutama di Jalan Niaga Dalam. Masih ada kendala-kendala lainnya, mulai dari kehabisan bahan maupun kekurangan orang karena cuaca yang cukup panas.
Namun, cuaca panas tersebut tidak menghalangi mereka dalam menyelesaikan karyanya. Ada juga ide-ide tertentu dalam mengatasi cuaca panas mulai dari memakai payung sampai membuat tenda. Semua demi menunjukkan hasil terbaik, tidak hanya di kalangan sekolah namun juga masyarakat.
Dalam lomba mural ini terdapat tiga juri yang menilai, yaitu Bapak Antonius Haritono selaku guru seni rupa, yang dibantu oleh Bapak Victor Helmi dan Bapak Aloisius Rabata. Tidak lengkap jika lomba tidak ada juara. Juara 1 diraih oleh Kelas 12 IPS 2, Juara 2 diraih oleh kelas 12 Science, dan juara favorit diraih oleh 11 Science.
Frater M. Adriano BHK selaku Kepala SMAK Frateran ketika melihat karya mural SMAK Frateran mengaku senang dan puas. "Semua karya siswa bagus dan memiliki arti masing-masing di setiap karya. Daripada dinding dicorat-coret lebih baik digunakan untuk karya. Selain bagus dilihat sekolah, juga di kalangan masyarakat sekitar," tambahnya. (Eric Soejatno)
Wednesday, November 12, 2014
Rekoleksi Dominikan Awam di Lereng Gunung Welirang
Celaket, sebuah tempat rekreasi yang terkenal dengan udara dingin,
sejuk, letaknya di sebuah lereng dan
diapiti tiga gunung, masing-masing Gunung Welirang, Gunung Arjuno dan Gunung
Penanggungan, di wilayah Kabupaten Mojokerto. Di tempat inilah, umat Katolik
Redemptor Mundi, yang tergabung dalam
kelompok Dominikan Awam, sebuah kelompok kategorial yang ingin meneladani St
Dominikus, pendiri Ordo Pewarta (OP), mengadakan rekoleksi di Biara Susteran OCD.
Siang itu, Sabtu (22/9/2014), sebanyak 51 orang anggota Dominikan Awam
dibawah ketuanya, Wilhelmus Welem Hemfri Elim Kusuma, meluncur ke Celaket.
Suasana penuh persaudaraan diperlihatkan para Dominikan Awam selama di Celaket.
Udara dingin ternyata tidak menciutkan nyali para Dominikan Awam untuk
mengikuti acara rekoleksi. Sore itu, para Dominikan Awam mengawali dengan doa
pembukaan, dilanjutkan dengan rekoleksi dengan pembawa materi pertama, Romo
Andreas Kurniawan OP. Minggu pagi, diawali dengan doa bersama di ruangan
pertemuan, dilanjutkan dengan siraman rohani dari Romo Nilo Lardizabal OP,
dilanjutkan dengan misa pada pukul 11.30.
Romo Andreas Kurniawan, OP di depan para Dominikan Awam lebih dulu
menanyani beberapa umat, mengapa tertarik gabung dalam Dominikan Awam? Ada yang
menjawab, karena tertarik dengan keteladanan St Dominikus, ada yang mengatakan
ingin lebih mendalami Dominikan Awam, ada pula yang mengatakan karena banyak
teman.
Menurut Romo Andre, dalam organisasi Dominikan Awam atau Ordo Pewarta,
yang dia tertarik adalah adanya persaudaraan dan kegembiraan. Pengalaman
pribadi, lanjut Romo Andre, ketika masih frater, semua frater dilatih cuci
piring bersama dan pekerjaan lainnya dilakukan secara bersama-sama.
“Coba kalau
kerja sendirian, pasti malas tapi kalau kita kerja bersama-sama lain rasanya.
Itulah yang saya katakan muncul rasa persaudaraan. Saya waktu masih frater,
selaku pinjam catatan Romo Nilo untuk menyalin kembali dan menurut saya
bahagianya kalau kita bersaudara,” tutur Romo Andre.
Ditambahkan, dalam kebersamaan,
atau persaudaraan tentu di situ ada kegembiraan. “Kadang kita berada di tengah
kegelisahan, tentu di situ ada rahmat,” katanya.
Romo Nilo dalam sesi berikutnya (Minggu pagi) mengatakan, setiap orang
tentu punya tujuan, setiap organisasi
yang didirikan tentu ada tujuannya, demikian pula dengan Dominikan Awam.
Tujuannya antara lain: Vision, Unifier,
Enjoy Life. Vision tujuannya kita lebih dekat dengan Tuhan.
Unifer
maksudnya, penyatuan, namun membutuhkan
jiwa yang sabar dengan siapa saja. Sedangkan Enjoy life maksudnya
sebagai manusia apalagi Dominikan Awam harus menikmati hidup. Dia meningatkan,
sebagai Dominikan Awam, harus bergembira karena kita berada dalam sebuah tali
persaudaraan.
Acara Bakar Jagung
Tali persaudaraan tidak hanya sekadar diucap atau sebagai simbol dalam
Dominikan Awam. Namun selama di Celaket, hubungan persaudaraan itu rasanya
lebih dipererat, sehingga suasannya sangat kekeluargaan. Organisasi ini tidak
melihat suku, daerah tetapi hanya melihat sebuah perbedaan kalau dipersatukan
akan menjadi indah.
Suasana guyub, akrab dan penuh persaudaan muncul di Bumi Celaket.
Apalagi saat makan bersama entah pagi, siang atau malam, masih-masing Dominikan
Awam, bisa bersabar, bercakap-cakap satu dengan yang lain, tukar menukar
informasi.
Yang lebih terasa pada Sabtu mulai pukul 09.30 hingga pukul 12.00 adalah
acara makan jagung bakar bersama. Bu Lanny dan beberapa ibu sibuk membakar
jagung, sementara ibu-ibu lain melayani minuman ronde, dan roti bakar.
Tiba-tiba Pak Gumoul dan Pak Anggoro bersama Pak Welem, Pak Sonny dan para ibu-ibu
mengambil dua gitar dan bernyanyi bersama. Puluhan lagu-lagu klasik dinyanyikan
membuat suasana di Susteran OCD yang awalnya dingin menyengat, dan sepi, bisa
hilang.
(herman yos kiwanuka)
Subscribe to:
Posts (Atom)