Sunday, December 7, 2014

Catatan Romo Sumarno dari Kepulauan Tanimbar, Maluku

Oleh RD I.Y. Sumarno
 

Jumat, 3 Oktober 2014. Sekitar pukul 14.30 WIT tiba di Bandara Tanimbar, peserta Munas Unio Indonesia disambut masyarakat/umat yang besar jumlahnya. Mereka mengantar kami masing-masing ke tempat live-in. Saya bersama RD Gregorius dari Atambua mendapat tempat di Stasi Wowonda, Paroki Maria Bintang Laut, Tanimbar.
 
Setelah tiba di Stasi Wowonda, pukul 15.30, kami berdua disambut umat, diberi upacara dan pengalungan syal. Kemudian semua umat menari sambil menggandengan tangan kami masing-masing. Sepanjang jalan sekitar tiga kilometer kami bergandengan tangan dan menari: maju dua langkah dan mundur tiga langkah, tari Wayase. Setelah sampai di gereja kami istirahat sejenak.
 
Saya mendapat tempat di keluarga Bapak Romroman. Saya dijemput Bapak Romroman berserta ibu. Setelah tiba di rumah, disambut dua anak laki-laki: Justin dan Marco plus bibinya.
 
Sekitar pukul 18.00 kami Misa Jumat Pertama setelah mandi dan makan 10 menit. Misa lancar dilanjutkan Doa Rosario dan ditutup dengan pendalaman iman. Ada dua tempat di Gereja, saya yang memberi pendalaman iman dan RD Gregorius di tempat lain. Kami sudah lelah tapi kami senang dengan acara yang padat.
 
Sabtu, 4 Oktober 2014. Misa kudus pukul 06.00 meski umat sedikit karena tidak biasa misa harian kami tetap misa. Setelah sarapan kami berkunjung ke empat sekolah yang ada di Wowonda. SMP Negeri-Katolik (Nekat), SD Nekat, TK Katolik, dan PAUD. Ada yang menarik saat kunjungan di SMK Nekat. Kami diminta memberkati seluruh ruangan karena sering terjadi siswa kesurupan. Semua guru dan kepala sekolah serta rombongan umat yang menyertai kami berkumpul dan berdoa.
 
Setelah selesai doa, kami memerciki  dengan air suci semua yang hadir dan ruangan. Siang hari jam 12.30 selesai kunjungan.
 
Pukul 13.00 kami rekreasi bersama di pantai. Semua rukun (10 rukun/lingkungan) naik kapal kecil menuju tempat rekreasi. Saya juga naik perahu. Setelah sampai di pantai kami diminta berkenalan dengan penghuni pantai. Kami bersama beberapa tua-tua ke dalam hutan dan di sana ada sumber air dan saya diminta minum air yang diambil dari tempurung kelapa. Kami berdua minum dan bahkan saya cuci muka. Biar awet muda.

Umat dan anak-anak, tua-muda semua bergembira, mandi di pantai, bermain bola. Setelah cukup lalu kami makan siang. Kami diberi piring dan diminta berkeliling ke 10 rukun yang duduk berkelompok-kelompok. Sambil berkeliling kami mencicipi makanan yang dibawa mereka masing-masing. Wah, sangat kenyang, perut seperti mau meletus. Setelah makan masih dilanjutkan acara lomba lari tiap-tiap rukun, foto-foto tiap rukun atau perorangan.
 
Sekitar pukul 16.00 kami semua pulang dengan berjalan kaki, sekitar 3 kilometer naik dan turun gunung kecil. Rencana semula berangkat naik perahu, pulang juga perahu. Tapi air laut kering dan kalau nunggu pasang bisa jam 18.00 atau 19.00. Wah, kemalaman. Maka, diputuskan jalan kaki saja bersama-sama. Capek belum pulih sekarang harus jalan kaki lagi.
 
Ada undangan di balai desa untuk semua warga. Acara Malam Minggu, Berdansa Ria. Setelah makan malam di rukun atas dengan menu daging babi dan ubi dimasak di atas batu yang membara dan ditutup dengan daun pisang, kurang lebih 3-4 jam, semua makanan sudah masak. Kami mencicipi dan betul wuenaaak tenan... disertakan minum tuwak (sepi tipis-tipis). 

Sekitar jam 20.00 kami menuju ke balai desa untuk acara malam Minggu. Acara dansa OMK sampai jam 02.00 lalu kami semua OMK istirahat.
 
Minggu, 5 Oktober 2014. Misa Kudus bersama umat semua di gereja dengan konfigurasi adat budaya plus tarian dan persembahan. Misa berjalan meriah selama 2,5 jam. Tampak perpaduan budaya tari dan menyanyi oleh rombongan penari. Bagus, rapi, dan kompak.

Ada yang aneh, umat hadir 900 orang tapi tidak ada asisten imam. Jadi, kami berdua membagi komuni sampai kejang-kejang tangan kami. Tidak hemat waktu. Tapi umat punya alasan. Mereka tidak puas menerima komuni dari tangan umat/asisten imam dan harus dari tangan romo.
 
Pukul 13.00 kami siap-siap bersama-sama rombongan umat ke alun-alun/lapangan Saumlaki. Di sana berkumpul semua umat dari semua paroki di Tanimbar. Jalanan Kota Saumlaki penuh sesak oleh konvoi umat beserta kendaraan yang dibawa, suara bising oleh kendaraan dan bunyi genderang dan nyanyian umat di atas kendaraan tanpa atap (terbuka).  

Setelah mendekati Lapangan Saumlaki kami semua turun dari kendaraan dan berjalan ke Aula Besar milik Wisma Unio, konon dibangun oleh dana pemerintah setempat. Kami para imam bersiap-siap di aula tersebut, sambil minum ringan.
 
Mendekati pukul 17.00 rombongan penari dan Patung Kristus Raja diarak dengan tandu menuju lapangan. Para imam mengikuti di belakang rombongan penari. Misa akbar dengan konselebran utama Uskup Timika Mgr John Saklil didampingi Ketua Unindo dan Pastor Kepala Paroki Saumlaki. Imam yang hadir 42 romo diosesan dan umat kira-kira 10.000 umat. Setelah misa ada makan malam bersama bupati, kepolisian, undangan VVIP pemerintahan dll di Wisma Unio, aula besar. Dan umat makan di tenda-tenda yang ada.
 
Sekitar jam 20.00 pulang ke Wowonda. Tapi masih menunggu satu acara: perpisahan dengan umat. Jam 22.00 acara perpisahan digelar. Tarian dan minum untuk semua umat yang hadir. Kami doa terus, moga tetap sehat dan kuat. Acara selesai jam 02.00 kami pulang tapi umat/OMK masih terus dansa ria sampai jam 03.00.
 
Senin, 6 Oktober 2014. Setelah sarapan pagi kami siap-siap kembali ke Bandara Tanimbar menuju Ambon. Tapi kami harus pamitan, dengan tiap-tiap ketua rukun/lingkungan yang akan datang ke tempat kami menginap. Di balai bengong sambil minum, makan ringan, ngobrol dan foto bersama, kami berpamitan dengan mereka.

Setelah dibuka dengan doa bareng, jam 13.00 rombongan berangkat ke bandara. Konvoi arak-arakan mulai bergerak menuju bandara. Tiba di bandara, rombongan kami umat Wowonda terus menari tak kunjung berhenti, seakan tak rela kami berpisah. Sekitar 200 orang menggelora larut dalam nyanyian dan tarian.

Pukul 15.00 pesawat tiba dan kami para imam terbang kembali ke Ambon. Sayonara umat Wowonda dll, KepulauanTanimbar. Sekitar jam 17.15 kami tiba di Ambon (2 jam 15 menit). (*)

Keberanian di Tengah Metropolitan

Oleh Felix Juno
Formandi Seminari Tinggi Providentia Dei
 
Kotaku menyajikan berbagai drama kehidupan manusia yang dinamis. Metropolis. Ia menampakkan diri sebagai sebuah medan proses untuk mengalami ini dan itu. Suka-duka-kegembiraan-kegelisahan hidup. Di sanalah kau temukan pria berdasi menikmati espresso di sebuah kedai kopi, perempuan paruh baya dan putri kecilnya di bilik tripleks, pemuda dan gadisnya memasuki XXI.
Pria renta tertidur di sebuah becak, bocah-bocah berseragam putih-merah, putih-biru, putih-abu-abu, dan bocah-bocah tanpa busana di sebuah kali, berangkat dalam kemacetan pulang dalam kondisi yang sama, keluarga-keluarga menikmati weekend di taman kota. Keluarga-keluarga muda gali lobang tutup lobang demi susu formula, deretan etalase emas dan deretan pengepul besi tua, kawasan rintisan city-town bersanding rawa-rawa, para pemilik dompet berselera pasar tumpah dan produk KW, kumandang Adzan dan pujian Mazmur terbumbung bersama, dan masih banyak lagi yang bisa kau temukan di sana.
Beberapa waktu yang lalu kami pulang dan tiba-tiba berteriak, "Audacia! Kami adalah para Pemberani!"
Pantaslah jika cibiran penentang arogansi terdengar dan nyinyir atas stempel kenekatan beberapa sudut kota kami yang diduga melekat pada diri kami terungkap. Mungkin pula ada dugaan bahwa kelimpahan materi membuat kami berani melakukan langkah ini. Ini bukan soal pembelaan diri atas hal itu. Ketahuilah bahwa di usia lima tahun ini, kami sedang belajar melangkah. Butuh keberanian untuk melakukannya. Keluar dari zona kelembaman dan maju menghidupi realitas.
Kami sudah pernah hidup di lokus yang lain. Hanya saja, kami ingin mengalami proses yang lain. Apakah hanya karena ingin? Apakah itu tidak terlalu angkuh? Mengapa punya keinginan seperti itu? Bukankah pengalaman dan perjumpaan langsung akan memberikan bekal yang baik bagi kami untuk menjalankan panggilan kami esok hari. Hadir lebih dekat, mengenal lebih intim, mengalami lebih intens, dan menyapa dalam keterlibatan aktif dengan Gereja lokal adalah sebuah kerinduan yang hendak kami obati: saling menjadi berkat sebagai Gereja. Di sebuah kota metropolis ini.
***
Pada mulanya adalah Audacia (Keberanian) untuk dibentuk. Memang tak dapat kuanalogikan sebagai bayi yang baru saja keluar dari rahim ibunya. Namun, kami memang harus mengalami berbagai bentuk adaptasi dan merintis proses pembelajaran. Langkah pertama yang kami lakukan adalah mengatur irama langkah hidup kami. Konsistensi menjadi salah satu kekhasan dalam kehidupan kami. Konsistensi itu kami hayati dengan semangat keseimbangan.
Ketika keseimbangan hidup terjaga, keseimbangan kualitas hidup kami pun perlahan-lahan terbentuk. Itu tujuannya dan ada banyak jalan menuju ke sana. Kami membangun irama itu dan berusaha setia menghidupinya. Kami yang merintisnya, maka kami punya tanggung jawab untuk mengembangkannya. Untuk bertanggung jawab, untuk dipercaya, untuk peka terhadap gejala ketidakseimbangan yang mungkin terjadi, kami butuh keberanian; berani terbuka dan bersikap kritis.
Ada yang mengatakan bahwa Keberanian adalah suatu rahmat. Apakah itu cuma-cuma? Ataukah itu buah dari sebuah perjuangan? Kita letakkan keberanian sebagai sebuah keutamaan. Audacia yang kami hayati bukan kenekatan yang mencerminkan sikap reaktif, gegabah, dan ceroboh. Keberanian ini bukanlah rasionalisasi yang jauh dari sikap reflektif. Ia tentu berseberangan dengan sikap pengecut. Ia berada di tengah antara sikap pengecut dan kenekatan. Berada pada posisi ekstrem berarti tak memahami horizonnya, realitas dan esensinya. Pendek kata, ia tak bijaksana. Berani itu bijaksana.
Beberapa langkah selanjutnya tantangannya semakin nyata. Beberapa dari kami sudah menatap dan menetap di metropolis. Sembari menanti rumah baru, keluarga ini harus mulai menghidupi semangat Non Scholae sed Vitae Discimus. Dunia pendidikan menyuguhkan proses dan pengalaman yang mendorong kami untuk mampu bereksplorasi seluas-luasnya, seluas realitas yang ada. Di situ kami mulai belajar untuk setia menggali, belajar untuk berani menelisik, menggugat, mengajukan pandangan kritis termasuk atas kehidupan pribadi kami, dan mempertanggungjawabkan disposisi yang telah diambil.
Di usia balita, tradisi baik yang pernah kami alami, kami coba bangkitkan di rumah baru kami. Tradisi baru pun kami bangun secara perlahan sebagai bentuk usaha untuk menghayati semangat Audacia dengan karakter khas keluarga ini. Setiap dari kami dipanggil untuk berani memaknai setiap dinamika khas rumah ini. Setiap anggota keluarga juga mulai mematangkan dimensi-dimensi tertentu dalam dirinya dengan lebih serius dan terfokus. Dengan begitu, kami dibentuk menjadi pribadi yang berani untuk hidup secara otentik, apa adanya, dan sederhana.

***
 
Manusia-manusialah yang menjalani proses ini. Sesuai dengan personalitasnya masing-masing, mereka bereksistensi sebagai individu mandiri dan anggota komunitas. Ada dari mereka yang beranggapan bahwa hidup ini adalah perjuangan. Pun ada yang yakin bahwa hidup ini adalah anugerah yang patut selalu dijalani dan disyukuri. Bahkan ada yang berpikir bahwa hidup ini absurd: indah, penuh tantangan, tangisan, menggembirakan, misterius, mendadak dan tak terduga, dapat diisi dengan rencana indah namun kadang tampak sebagai keterlemparan (kebetulan), sederhana namun ribet juga dijalani. Dengan semangat Audacia, pilih salah satu: bunuh diri atau berpengharapan.
Keberanian manusia adalah keberanian yang bisa bersifat rasional, emosional,  dan bahkan spiritual. Ketika karya ini dimulai dan dijalani, kami gunakan akal budi kami sehingga karya ini rasional. Kami gunakan hati kami agar karya ini menyapa setiap hati yang ada di sekitar kami. Kami menjadi berani karena kami tahu apa yang harus kami lakukan karena itu benar. Kami menjadi berani karena punya hati yang menghendaki apa yang baik. Namun, kami juga menjalani karya ini dengan iman. keberanian kami karena iman adalah keberanian untuk mempercayakan karya ini pada penyelenggaraan Ilahi (Providentia Divina). Kami belajar untuk hidup dalam semangat keberanian karena Tuhan lah yang menyelenggarakan hidup kami. Kadang perjalanannya menjadi sulit dipahami dengan rasio. Tak jarang pula perjalanan ini disisipi oleh hal-hal tak terduga di luar kehendak kita. Kalau sudah begitu, terus berjuang dengan rasio dan hati serta berpengharapan pada Sang Penyelenggara tetap jadi pilihan. Bukan lalu bunuh diri-menyerah kalah.
Seorang imam perintis karya ini pernah berujar, "Providentia Dei telah berjalan. Tugasmu sekarang kudu wani, kudu gelem repot!"
Bolehlah engkau beriman: rencana Tuhan melebihi rencanaku, Penyelenggaraan Tuhan terjadi dalam hidupku, hidupku di tangan-Mu Tuhan. Terus nek wes ngono kowe arep ngopo?
Iman yang hidup, pengharapan yang hidup, adalah iman dan pengharapan yang nyata dalam kasih yang hidup. Kasih yang hidup itu dihayati dan dihidupi dalam pengorbanan. Berani berkorban bagi kebaikan bersama, demi komunitas. Berani berkorban itu berani keluar dari zona nyaman untuk mengambil inisiative action. Berani berkorban itu mau mengkomunikasikan diri, terbuka bagi dan kepada orang lain. Bukan lagi aku yang mendominasi segalanya. Tapi aku yang mau bekerjasama dengan sesama.
"Ecce ancila Domini. Fiat mihi secundum verbum Tuum." Pemilik spirit itulah yang menjadi pelindung perjalanan kami. Beliau adalah sosok pemberani: berpengharapan pada Tuhan dan penuh pengorbanan. Pun St. Yohanes Maria Vianney yang menjadi teladan kami: seorang imam diosesan yang penuh iman, harapan, dan kasih. Semoga kami mewarisi semangat mereka.
Keberanian menuntun kami untuk melangkah kepada semangat menghadirkan diri dalam doa dan karya. Dan ini adalah sebuah proses belajar. Kami harus juga berani bersikap rendah hati. Kami berusaha dan belajar berani ini dan itu. Namun, jika tanpa kerendahan hati menyadari situasi batas diri dan belajar berpaut kepada Sang Penyelenggara, maka ini semua hanya sementara.
Seminari Tinggi Providentia Dei memang baru genap berusia lima tahun dan berada di dalam rencana-Nya tentu ada jaminan akan sebuah perjalanan yang unpredictable. Dan itu akan menjadi perjalanan yang asyik. (*)

Syukuran 44 Tahun Paroki Santo Mateus, Pare, Kediri

Bulan September 2014 merupakan bulan yang istimewa bagi umat Paroki St. Mateus, Pare, Kediri. Menjadi bulan yang istimewa karena Paroki St. Mateus, Pare, merayakan hari ulang tahunnya yang ke-44. Sebagai ungkapan syukur atas HUT ke-44 ini diadakan serangkaian acara yang melibatkan seluruh kelompok umat, mulai dari anak-anak hingga kelompok lansia.
 
REKOLEKSI KAUM MUDA
 
Rekoleksi Rekat dan OMK diadakan pada 6 September dengan tema Mewujudkan KKU dan KKM yang Menggembirakan. Rekoleksi kali ini diikuti oleh 75 Rekat dan OMK. Pada kesempatan rekoleksi ini, RD Yohanes Setiawan menjadi pembicara pada sesi awal (sebelum makan malam). Pada sesi akhir (sesudah makan malam) rekoleksi dipandu oleh Fr. Vincent, frater praja Keuskupan Sanggau yang berpastoral di Paroki Pare.

Rekoleksi dibuka dengan ice breaking, kemudian penayangan cuplikan film mengenai jenis kelompok atau geng. Sesudah itu Romo Yose memberi penjelasan mengenai cuplikan itu. Kemudian beliau menyambung dengan penjelasan mengenai KKU dan KKM yang menggembirakan. 

Inti penjelasan Romo Yose: KKU dan KKM pada dasarnya memiliki ciri yang hidup dan menggembirakan karena diadasarkan pada terang Sabda Allah. Atas dasar inilah setiap anggota KKU dan KKM dapat saling meneguhkan dalam iman, harapan, dan kasih. Melalui KKU dan KKM ini pula kita semakin diberanikan untuk menjadi saksi Kristus dengan menyadari kasih Allah dalam hidup sehari-hari.
 
TEMU KRIDA
 
Temu Krida merupakan acara perlombaan untuk BIAK dan Rekat. Perlombaan yang diadakan antara lain untuk kategori A (Biak sampai kelas IV SD) diadakan Tebak Judul Lagu (beregu), dan Lektor. Kategori B (Rekat kelas V sampai kelas IX) diadakan lomba Mazmur, Cerdas Cermat (beregu) dan Lektor. Setiap stasi dan lingkungan mengirimkan perwakilan untuk mengikuti Temu Krida.
 
MISA LANSIA DAN PENGURAPAN ORANG SAKIT
 
Senin, 8 September, pada pukul 16.00, diadakan Misa Lansia dan Pengurapan orang sakit. Misa Lansia dan Pengurapan sakit ini baru pertama kali diadakan di Paroki Pare. Meski baru pertama, umat sangat antusias. Ini dapat dilihat dari jumlah umat yang hadir sebanyak 250 umat, baik lansia, orang yang sakit dan para pengantar.

Misa berjalan dengan lancar dan khidmat. Dalam homilinya Romo Yuni menyampaikan bahwa usia paroki yang ke-44 tahun menunjukkan usia yang dewasa. Melalui perayaan 44 tahun ini umat kembali disegarkan semangat rohaninya untuk semakin giat mewartakan kabar baik kepada semua orang. Selain itu, umat juga diajak untuk bersyukur atas jasa para pendahulu yang telah berjuang dan berkorban demi perkembangan iman umat di Paroki St. Mateus, Pare.

Seusai misa diadakan acara potong tumpeng sebagai bentuk ungkapan syukur atas HUT Imamat Romo Yose yang ketiga. Suasana penuh syukur dan gembira mewarnai acara potong tumpeng. Potongan pertama tumpeng diberikan Romo Yose kepada Ibu Kusnadi, Ibu Rohmiadi, dan Bapak Suwondo. Ketiga umat ini merupakan tokoh yang berperan besar dalam perkembangan awal iman umat di Paroki St. Mateus Pare.

Seusai pemotongan tumpeng diadakan acara ramah tamah dan makan malam bersama.
 
JALAN SEHAT
 
Satu minggu sesudah Temu Krida, Minggu, 7 September, diadakan jalan sehat yang dimulai pukul 06.00. Acara dibuka dengan doa dan pelepasan balon oleh Romo Yuni, CM selaku romo kepala paroki. Sekitar 1.300 umat Paroki Pare dari 12 stasi dan Wilayah II (lingkungan paroki) mengikuti acara jalan sehat ini. Panitia dari teman-teman Karina (Karitas Indonesia) Pare, OMK, dan beberapa umat.
 
Seusai jalan sehat, semua peserta berkumpul di halaman Sekolah Katolik Yohanes Gabriel yang berada di sebelah gedung gereja untuk melepas lelah sembari menikmati beberapa tampilan, seperti band dari SMPK Yohanes Gabriel, angklung dari SDK Yohanes Gabriel, menyanyi solo dan beregu, modern dance, serta acara hiburan lainnya. Selain itu, diadakan beberapa perlombaan, seperti mencari harta karun surgawi, mempertahankan kebaikan.

Di sela-sela penarikan undian doorprize, ada hiburan anak-anak yang menyanyi, ngedance, hingga ibu-ibu yang menyanyi lagu berbahasa Mandarin dan gending Jawa. Romo Yuni pun ikut tampil dengan menyanyikan lagu Bujangan.
 
MISA SYUKUR
 
Misa Syukur merupakan puncak perayaan HUT ke-44 Paroki St. Mateus, Pare, Minggu, 21 September, pukul 07.00 WIB, bertepatan dengan Pesta Santo Mateus, pengarang Injil. Misa Syukur dipimpin oleh Romo Yuni didampingi oleh Romo Yose.

Petugas liturgi (Lektor I, Mazmur dan Lektor II) merupakan pemenang lomba Lektor Biak, Mazmur Rekat dan Lektor Rekat. Petugas koor kali ini mahasiwa yang berasal dari Flores, Sumba, Timor, dan Alor yang sedang menempuh pendidikan di Pare. Mereka tergabung dalam Flobamora Choir.

Dalam homilinya, Romo Yuni menyampaikan bahwa usia paroki yang sudah mencapai usia kembar papat menjadi kesempatan yang baik untuk kembali memaknai peziarahan iman seluruh umat menuju kepada Tuhan dalam kebersamaan. Salah satu cara yang beliau tawarkan adalah dengan meneladani tokoh-tokoh umat pendahulu yang telah berjuang membangun Gereja dan mengembangan iman umat.

Segenap umat Paroki Pare bersyukur bersama atas hari jadi parokinya. Rasa syukur ini kemudian dibagikan kepada sesama umat yang hadir dalam acara ramah tamah sembari acara makan bersama yang diadakan seusai perayaan ekaristi. Umat yang hadir dapat lebih saling mengenal satu sama lain dan saling berbagi kegembiraan bersama. 
 
PENUTUP

Perayaan HUT ke-44 Paroki St. Mateus, Pare, merupakan kesempatan yang baik untuk memaknai kembali perjalanan Paroki St. Mateus, Pare. Melalui pemaknaan kembali perjalanan ini, umat Paroki St. Mateus dapat semakin berbenah diri dan kembali menatap ke depan untuk membangun komitmen yang dapat menanggapi tantangan zaman. Dengan demikian, Paroki St. Mateus dapat memberi sumbangsih dalam mewujudkan "Gereja Keuskupan Surabaya sebagai persekutuan murid-murid Kristus yang semakin dewasa dalam iman, guyub, penuh pelayanan dan misioner."

Selamat ulang tahun parokiku! Semoga dengan bertambahnya usiamu, terangmu dapat semakin bercahaya di tengah dunia!

(Fransiskus Heri Prasetiyo)

Friday, December 5, 2014

Refleksi tentang Umat Katolik di Maluku

Oleh RD Illidius Y. Sumarno

 Pada umumnya masyarakat mengenal Ambon sebagai daerah konflik, daerah bertikai antar umat beragama, khususnya Islam dan Protestan. Melihat komposisi penduduk memang pemeluk Islam sebanding dengan Protestan plus Katolik: jumlah yang sama banyaknya, temperamental yang sama, dan masih banyak penduduk berpenghasilan rendah. Kondisi ekonomi lagi-lagi menjadi biang keladi konflik. Konflik horizontal sudah selesai 15 tahun lalu (meletus tahun 1999). Namun menghapus citra buruk tidak semudah membalik telapak tangan.

Pasca konflik muncul pengkotak-kotak daerah: daerah sana mayoritas Islam, daerah lain Protestan. Ini semacam bom waktu. Api dalam sekam. Bila ada provokator memulai maka sangat mungkin meletus lagi. Maka, usaha terus-menerus diadakan dialog antar pemimpin agama dan masyarakat bawah. Kerja sama yang harmonis terus dilakukan guna membangun hidup rukun "kitorang basudara". 

Beberapa event penting di Ambon dilakukan bersama-sama, bahu membahu. MTQ se-Indonesia di Ambon disiapkan oleh semua orang, semua agama ikut serta mensukseskan. Pertemuan para dosen se-Indonesia diadakan di Ambon. Munas XI para pastor se-Indonesia digelar di Islamic Center. Para kamula muda Islam menyiapkannya, selain panitia munas. Semua ini guna menyampaikan kepada dunia dan Indonesia bahwa Ambon sudah damai. Datanglah ke Ambon dan ber-acara-lah. 

Jasa umat Katolik sangat terasa untuk menjadi penengah dalam konflik, terlebih jasa Mgr P.C. Mandagi. Beliau dibilang 'Sang Penyelamat' Ambon. Ketika pemerintah sudah tak tahu apa yang harus dibuat, Mgr Mandagi turun tangan. Dengan berani dan bertaruh nyawa melerai bila ada kelompok ingin saling membunuh. 

"Kita ini manusia, bukan binatang. Kita semua sama-sama kehilangan sanak keluarga, apa masih ingin menambah kehilangan nyawa keluarga?  Ayo saling mengampuni, saling melupakan. Kita semua bersaudara, harus saling mengasihi"

Teriakan Nabi Ambon ini didengarkan oleh semua pihak. Maka, terjadilah saling mengampuni dan berdamai kelompok yang berselisih. Jasa besar ini dihargai oleh pemerintah dengan rasa hormat dan segan terhadap Gereja Katolik. Ada orang Katolik yang duduk di pemerintahan dan melihat bahwa ada dana untuk pengembangan rohani pemeluk agama, maka keuskupan/gereja mengajukan fasilitas kendaraan sehingga Mgr Mandagi mendapat mobil dinas plat merah. 

Wakil Uskup (Vikjen) juga mendapat mobil plat merah satu-satu. Untuk keperluan Munas XI ini pemerintah juga memberikan donasi besar kepada keuskupan. Termasuk di dalamnya pengamanan yang super mewah dan pentupan jalan-jalan protokol, pengawalan dengan mobil dan motor polisi serta lima bus  pengangkut peserta munas. 

Gereja dan negara/pemerintah harus berdandengan tangan secara harmonis, jujur, dan terbuka dalam mengamankan Ambon, dan Maluku secara umum. Inilah misioner gereja yang konkret dan dapat dirasakan oleh masyarakat. Seharusnya hal ini menjadi contoh untuk dilanjutkan di keuskupan peserta munas masing-masing. Berani dan siap ambil risiko apa pun, termasuk nyawa, bila harus tampil menjadi penengah di daerah konflik. 

Gereja jangan tiarap, tak mau tahu, atau menghindar dari persoalan aktual masyarakat. Gereja Katolik tak boleh sembunyi di menara gading, tembok tinggi pastoran dan pura-pura berdoa di gereja yang megah dengan menara-menara yang menjulang ke langit itu. Gereja harus berani berbuat!!

BUDAYA DAN IMAN

Semua orang tahu bahwa orang Ambon adalah jago-jagonya tarik suara. Sejak lahir sudah pandai menyanyi. Demikian juga menari  adalah bawahan sejak lahir. Menyanyi dan menari adalah milik Ambon, umumnya Maluku. Seperti kami alami sendiri. Ketila live-in di Wowonda-Tanimbar, kami diajak menari dan menyanyi. Semakin kami ikut larut dalam nyanyian dan tarian mereka semakin semangat. Seakan api yang disiram premium, makin berkobar-kobar. Bagi mereka, kami diterima secara lahir dan batin bila ikut menyanyi dan menari. Inilah budaya yang dibawa sejak lahir. 

Di dalam liturgi kami merasakan bahwa para penari dan pembawa persembahan terlibat secara batin seakan membawa persembahan dan menari untuk Tuhan. Melihat cara mereka memberikan persembahan sambil menari-nari. Dan kami pun menerima persembahan sambil bergoyang sedikit, perasaan hati umat sangat gembira. Ini komentar mereka. Iman dan budaya bergandengan tangan. Pakaian dan perangkat perang para penari memperlihatkan bagaimana mereka ingin menghalau segala godaan yang datang bila menghalang-halangi persembahan mereka kepada Tuhan. 

Di Jawa juga punya budaya dan iman, tapi apakah bisa ditampakan dalam liturgi. Selama ini gamelan dan tarian sebagai pengiring pembukaan dan persembahan hanya di paroki desa. Tarian hanya sekadar ditempelkan dan bukan bermakna yang lebih dalam, yakni penjaga iman, penghalau godaan setan atau roh jahat. 

Seperti kami ungkap di atas bahwa panitia begitu antusias menyambut kedalatangan kami. Kami disambut mulai dari bandara Ambon oleh puluhan panitia plus Mgr Mandagi  juga ikut menyambut. Tanpa berlama-lama setelah upacara pengalungan syal, kami rombongan langsung diantar ke bus dan meluncur ke Keuskupan. Setelah tiba dijamu dengan makan minum yang melimpah. Tas dan kopor sudah diletakkan di depan kamar kami masing-masing oleh para petugas. Kerja cepat dan tepat. 

Para petugas dari panitia memberi arahan atau pengumuman secara jelas dan mudah dimengerti sehingga acara sangat lancar. Buku pedoman dan buku acara serta agenda liturgy sudah dibagikan sehingga memperlancar kami, para peserta dalam mengikuti acara demi acara. Totalitas panitia patut diacungi jempol. 

Ketika kami live-in, umat begitu antusia menyambut kedatangan kami di bandara. Ribuan umat berjubel menyaksikan upacara menerimaan dan pengalungan syal dan jamuan minum di ruang VIP Bandara Tanimbar. Kemudian masing-masing pastor diantar dengan konvoi kendaraan roda 4 dan roda 2 beratus-ratus ke tempat live-in masing-masing. Setelah tiba di tempat live-in disambut dengan tarian dan nyanyian. Semua orang ikut menyanyi karena lagunya sudah dikenal sejak kecil. Semua orang tampak gembira dan sukacita. 

Acara demi acara para pastor dilibatkan. Tidak ada waktu tersisa bahkan acara digelar sampai dini hari (jam 02.00 bahkan 03.00). Kami sangat terkejut dengan acara yang super padat. Capek luar-dalam tak kami rasakan demi kebahagiaan umat.

Totalitas panitia dan umat Keuskupan Amboina banyak pastor memujinya. Sungguh besar kesadaran umat untuk ambil bagian dalam mensukseskan Munas XI. Peran Mgr Mandagi memberi perintah dan kepercayaan kepada panitia dan umat untuk bekerja sebaik-baiknya. Dana dari Keuskupan, pemerintah, dan umat serta donatur dan peserta Munas (Keuskupan dan Unio masing-masing) ikut memperlancar gerak acara demi acara. Dan, tak kalah penting, totalitas para petugas kepolisian sangat terasa ketika mengawal perjalanan peserta Munas dari tempat satu ke tempat lain. 

Dukungan pemerintah daerah, Gubernur Maluku, dan para pejabat, juga Bapak Wali Kota Ambon dan jajarannya sangat besar. Kerja sama semua pihak, Gereja, dan pemerintah sangat dibutuhkan demi suksesnya munas ini. Semoga totalitas tersebut menjadi pembelajaran kita bila hendak menggelar event tingkat nasional seperti Munas. "Pekerjaan seberat apa pun bila dikerjakan bersama pasti terasa ringan." Syalom!

Ponorogo, 17 Oktober 2014

Rumah Singgah Jadi Biara Suster TMM

Tahun 1998 Susteran TMM (Tarekat Maria Mediatrix), yang berpusat dan berkarya di Maluku, Keuskupun Ambonina, mulai mengembangkan karyanya di Surabaya. Pada awalnya biara Susteran TMM hanya berupa rumah singgah sederhana bagi para suster yang kuliah di Surabaya atau suster yang transit. Karena itu, para suster TMM yang ada di Surabaya selalu silih berganti. 

Meskipun begitu,  para suster TMM selalu ikut ambil bagian dalam pelayanan di Paroki Santo Stefanus, Manukan, Surabaya. 

Dari sebuah rumah singgah inilah, karya suster TMM terus berkembang. Para suster tidak saja membantu berpastoral di paroki, tetapi juga membantu umat dan masyarakat yang bekerja dan membutuhkan penitipan anaknya selama bekerja. Lambat laun jumlah anak yang dititipkan semakin banyak. Dan, kini susteran TMM bukan saja sebagai TPA (Tempat Penitipan Anak), tetapi juga telah menampung beberapa anak yang berasal dari Indonesia Timur, sehingga juga menjadi sebuah panti asuhan.

Begitulah. Dari sebuah rumah singgah yang sederhana menjadi TPA dan panti asuhan, apakah cukup memadai dan layak bagi penghuninya. Maklum, bangunan sederhana di Jalan Manukan Lor II/43, Tandes, Surabaya, ini bila musim hujan sering kebanjiran. Genangan air bukan saja di halaman rumah, air juga masuk ke dalam ruangan. Berangkat dari keprihatinan ini, maka suster TMM bersama beberapa umat baik dari Paroki St. Stefanus dan beberapa paroki ingin melakukan renovasi bangunan yang ada. 

Panitia kecil telah terbentuk. Begitu pula persetujuan dari Kepala Biara TMM Sr. Margarethis Kelen TMM, restu dari Pastor Kepala Paroki St. Stefanus RD Paulus Gusti Purnomo, juga Bapa Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono. Maka, tahap demi tahap rencana renovasi bangunan rumah biara susteran TMM mulai dilaksanakan. 

Peletakan batu pertama yang diawali dengan perayaan ekaristi dipersembahkan oleh Vikep Surabaya Barat RD Prima Novianto berselebran dengan Romo Kepala Paroki St. Stefanus RD Paulus Gusti Purnomo pada 30 Juni 2014. Misa yang dimulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 10.15 itu dilanjutkan dengan acara pemberkatan dan peletakan batu pertama. 

Kemudian sambutan-sambutan serta ramah-tamah para undangan. Hadir dalam perayaan ekaristi umat Paroki St. Stefanus serta para simpatisan dari luar paroki. 

Semoga pembangunan ini dapat berjalan dengan baik dan lancar sesuai harapan, serta indah pada waktunya. Bagi pembaca JUBILEUM yang tergerak dan ingin membantu karya para suster TMM baik berupa bahan bangunan atau dana dapat menghubungi Suster Teressa Da Costa TMM di HP 081 31654 2518 atau dapat langsung transfer ke BCA Cabang Tandes nomor rekening 6170274529 atas nama Suster Teressa Da Costa. 

Dukungan doa yang terus-menerus juga sangat dibutuhkan oleh para suster dan panitia pembangunan.  (Rubby)   

Satu Abad Ursulin di Madiun

Oleh Romo John Tondowidjojo CM

Menelusuri 100 tahun Misi Pewartaan Ordo Santa Ursula  di Madiun saya teringat kata-kata dalam 1 Tesalonika 5:18: in Omnibus gratias agite.. (dalam bahasa Indonesia: dalam segala hal bersyukurlah!). Seluruh isi kata-kata tersebut tidak lain merupakan ucapan syukur saya  atas berkembangnya Ordo Santa Ursula yang memasuki kurun waktu 100 tahun di Madiun.  Mengingat saya alumnus Sekolah Ursulin di Madiun, maka saya sudah harusnya turut bersyukur akan pencapaian HUT 100 tahun itu.

Refleksi perjalanan sejarah 100 tahun Ordo Santa Ursula (Suster Ursulin sapaan akrab mereka) berkarya di Madiun, membawa saya kembali kepada permenungan atas perjalanan rohani yang panjang. Saya harus berhenti sejenak, meniti kembali langkah-langkah sejarah tersebut. Dalam perjalanan rohani tersebut kadang saya harus menoleh,  melihat jejak langkah itu, kadang mulus dan indah, namun sering pula ada sedikit gejolak yang membuat saya harus menghela napas agak dalam. Semua catatan sejarah karya para Suster Ursulin itu saya sadari dan saya anggap sebagai suatu pengalaman rohani yang sangat berharga. Semua itu patut direfleksikan dan disyukuri bagi semua umat beriman di Madiun. 

Banyak orang mengetahui bahwa Suster Ursulin berhasil dalam karya pendidikan di mana-mana, termasuk di Madiun. Tapi banyak yang tidak tahu bahwa setiap pencapaian keberhasilan adalah buah-buah pergulatan batin. Perjuangan menyeimbangkan aksi-refleksi, komitmen bersama, dan tunduk pada penyelenggaraan Ilahi. Inilah yang membuat Suster Ursulin berani mengambil keputusan besar pengubah sejarah: berkarya di Madiun dan mempertahankannya ketika kondisi memburuk sekalipun. 

Coba bayangkan, apa jadinya jika saat dibutuhkan, Suster Ursulin tidak mau datang berkarya ke Madiun?  Tentu karya pendidikan dan pastoral untuk masyarakat Madiun tidak mungkin terbantu dan menjadi seperti sekarang ini.  

Embrio karya para Suster Ursulin di Madiun bermula pada tahun 1904 dan tak lepas dari peran Pastor  BG Schweitz SJ. Pastor paroki itu berkeliling dan membawa anak-anak telantar ke Madiun. Mereka ditempatkan di dekat pastoran dan diurus oleh dua ibu Katolik, yaitu Ny. CH van Zwieten, SY dan Ny. B. D'Haenens. Lalu, Pastor BG Schweitz SJ menceritakan mereka  dan menawarkan karya panti asuhan itu kepada komunitas Suster Ordo St. Ursula (OSU) Cabang Malang dan Biara Pusat di Keuskupan Surabaya, yang kala itu berada di Jalan Kepanjen, Surabaya. 

Para Suster Ursulin penuh dengan pergulatan batin lebih dahulu untuk memutuskan tawaran tersebut. Suster Pimpinan, Mère Angèle Flecken OSU, bermusyawarah dan berdoa bersama komunitas untuk memikirkan sungguh-sungguh apakah berkarya di Madiun adalah pilihan tepat dan apa saja langkah mereka selanjutnya. Komunitas Pusat Ursulin memikirkan sudah saatnya karya Ursulin tidak hanya di Jalan Kepanjen, melainkan juga harus diperluas di tempat dan kota lainnya.  Selain karya di bidang sosial dan kegerejaan lainnya, karya panti asuhan melengkapi lahan karya di bidang pendidikan para Suster Ursulin. 

Kehadiran suster sebagai warga biara dengan doa dan mati-raga dalam komunitas memberikan warna kehidupan iman yang juga perlu dirasakan oleh semua pihak, juga oleh mereka di luar gereja. Akhirnya, mereka mengambil keputusan penting yang membawa akibat sampai hari ini. Komunitas Kepanjen merelakan enam suster pergi ke kota Madiun untuk mengambil alih pemeliharaan anak-anak piatu di Madiun. Mereka itu adalah Mère Agnes Cohill OSU, Mère Edmunda Hafkenscheid OSU, Mère Suzanne Sanders OSU, Mère. Josepha Wilberts OSU, Mère Paula Leefers OSU, dan Mère Bernarda Steenbruggen OSU.
  
Kedatangan mereka di Madiun dari stasiun naik dokar (karena barang bawaan banyak sekali) dan lantunan "Te Deum" dari suara emas Pastor BG Schweitz SJ menjadi tonggak sejarah menandai awal karya para Suster Ursulin di Madiun, pada tanggal 17 Juli 1914. Para suster bekerja secara sistematis dan terencana. 

Pembagian tugas dilakukan keesokan harinya. Mère Edmunda OSU berusaha menyiapkan ruang untuk membuka TKK Mère Agnes dan Mère Suzanne Sanders OSU akan mengurus anak-anak piatu. Mère Paula OSU diminta mengurus rumah tangga  di biara dan membantu di panti asuhan. Mère Bernarda OSU akan menjadi kepala dapur. Mère Josephs OSU memberi pelajaran piano. 

Nampak semua telah terencana dengan rapi. Semua optimis. Ternyata semuanya tidak semudah yang diharapkan.  Para suster berharap dengan piano, sumbangan dari Komunitas Malang,  membantu mereka dapat mencari nafkah sendiri. Taman Kanak-Kanak dengan 6 murid pertama baru terwujud sebulan setelahnya. Murid les piano tidak pernah ada. Memasak menjadi sulit karena anglo dan tungku tidak memadai. Makanan yang disajikannya selalu habis tanpa sisa, uang makin menipis dan harus berhemat. 

Itu hanya sebagian dari tantangan awal yang harus Suster Ursulin hadapi ketika memulai karya di Madiun. Kalau iman mereka tidak kuat, pasti mereka tidak bisa bertahan lama di Madiun dan mereka segera lari kembali ke Surabaya. 

Lalu, bagaimana dengan panti asuhan? Setahun lebih para suster cukup prihatin dan banyak berkorban untuk mempertahankan pengelolaan rumah panti asuhan. Keadaan baru membaik ketika Mère melibatkan pastor paroki yang baru untuk merenovasinya.  Rumah panti asuhan baru bisa direnovasi berkat Romo H. Mulder SJ, yang menggantikan Romo B. Schweitz SJ tahun 1915.  Romo H. Mulder SJ dengan mengadakan lotre di kalangan orang Belanda untuk membantu panti asuhan. Uang terkumpul 60.000 Gulden.  

Dalam kondisi finansial yang tidak mendukung dan hanya berbekal keyakinan akan karya Tuhan dan komitmen sebelumnya Suster Ursulin mengambil langkah berani. Mereka menanamkan tonggak sejarah pendidikan di Madiun dengan mendirikan Fröbelschool (TKK), membuka ELS (Europeesche Lagere School/SR berbahasa Belanda) dan HIS (Hollandsche Inlandsche School/SR Berbahasa Jawa, Sekolah Rendah untuk pribumi). Mereka berhasil mematahkan tantangan dan meraih mimpi, dan hasilnya dalam waktu singkat keyakinan itu mempengaruhi masyarakat Madiun yang berbondong-bondong memasukkan anaknya bersekolah di sekolah Ursulin.  

Marilah kita membayangkan, jika hanya mengandalkan semua serba tersedia dan akan bertindak jika semua kondusif, mungkin sekolah Santo Bernardus tidak akan pernah berdiri dan berhasil merebut hati masyarakat seperti sekarang ini. 

Sementara para suster dan panti asuhan mengalami macam-macam kesukaran, tetapi pembangunan dan perbaikan gedung tetap diteruskan. Sejak tahun 1914 mereka telah menyelenggarakan TKK untuk anak anak yang berbahasa Belanda. Pada tahun 1922 mereka membuka TKK kedua, khusus untuk anak asli Jawa. Jumlah anak Jawa segera bertambah sampai lebih dari 65 anak. Ini tak lepas dari jasa Mère Hildegard Borckmann OSU yang kembali ke Noordwijk untuk mencari dana. Sepulang dari Noordwijk pada tahun 1924 Mère Hildegard Borckmann OSU memimpin panti asuhan dan TKK di Madiun.

Keadaan sudah semakin membaik.  Pada tanggal 6 Juli 1924 akhirnya diadakan serah terima panti asuhan dari Yayasan Paroki kepada para suster Ursulin. Tanggal 31 Juli 1924 mulai membangun gedung sekolah dengan mulai memasang fondasi. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Mgr. AP van Velsen SJ pada 20 September 1924. 

Berkarya Bersama Para Romo Lazaris (CM)

Jangan bangga diri jika sukses seorang diri. Orang sukses sejati adalah orang yang berhasil membuat orang lain sukses dan bekerja sama dengannya. Ketika memperoleh dukungan dari kerja sama itulah kesuksesan menjadi langgeng.  Semangat keterbukaan dan semangat kerja sama secara sinergis membuat Suster Ursulin berhasil dalam arti sesungguhnya, bukan hanya dalam bidang pendidikan (ketika bekerja sama dengan para Bruder CSA), tapi juga ketika harus beradaptasi dengan mitra baru: termasuk dengan para Romo Lazaris (CM) yang menggantikan era kepemimpinan para Romo Jesuit (SJ).  

Pada awal tahun 1928 di bawah Prefektorat Apostolik Surabaya, Stasi Madiun digembalakan oleh romo-romo Lazaris (CM).  Saat perpindahan kegembalaan di Madiun sudah ada gereja dan pastoran, sebuah Sekolah Eropa Hollands Indische School, dan sebuah rumah yatim piatu yang dikelola suster-suster Ursulin. Menurut catatan, pada 2 Januari 1928 Romo Lazaris pertama yang bekerja di Madiun saat itu ialah Romo Martinus Hermanus Kock CM, romo kepala, dan Romo C. Klamer CM sebagai romo pembantu.

Bekerja bersama para Romo Lazaris (CM), banyak hal yang telah dilaksanakan, namun kehangatan dan keeratan dalam berkarya datang pula badai yang baru. Badai itu ditandai dengan kedatangan serdadu Jepang ke Madiun. Memang menjadi pahlawan dalam waktu singkat dan dalam kondisi normal, jauh lebih mudah daripada dalam kondisi sebaliknya. Himpitan dan tekanan yang dialami para suster Ursulin ketika zaman Jepang justru menegaskan kuatnya semangat konsistensi dan daya juang mereka - yang mayoritas Belanda. 

Bagaimanapun mereka berhasil memaknai berbagai situasi mencekam dan tragedi situasi menjadi peristiwa Iman dan makna Salib yang harus ditanggung menjadi kesaksian luar biasa. Apalagi dalam situasi terjepit baik para suster yang di kamp sebagai tawanan perang maupun yang di luar, sama-sama melupakan diri sendiri dan masih mengedepankan perjuang untuk orang lain. 

Yang di kamp tawanan siaga merawat dan membantu anak dan ibu-ibu yang larut dalam pemberontakan dan ketidakmengertian  akan peristiwa iman. Yang berada di luar Kamp Madiun, selain berjuang untuk hidup dalam kondisi kekurangan, masih peduli kepada nasib penduduk dan anak-anak putri asrama dari ancaman rekrutmen menjadi jugounfu (pelacur)  tentara Jepang. 

Hanya lima suster Eropa non-Belanda yang tidak diinternir, yaitu  Mère Josepha Becker OSU (Jerman), Mère Jeanne Lebeaud OSU, Mère Gabriel Appel OSU, Mère Pia de Lorm OSU (Perancis), dan Mère Fidelis Kirschstein OSU (Indo-Belanda).  Mereka tinggal dengan 26 anak asuhan di Jalan Jawa. Umat Katolik pun diperintahkan untuk memakai gereja Protestan di Jalan Jawa, Madiun. Kondisi rumah di Jalan Jawa yang djadikan biara yang sekaligus panti asuhan makin rusak dan sangat menyedihkan. Keadaan sangat sulit sehingga para suster dan anak-anak panti asuhan terpaksa makan seadanya, itu pun dengan menjual barang-barang yang ada.  

Kendati demikian, para suster tetap melakukan pelayanan dan membantu Romo Dwidjosoesanto, Pr, satu-satunya pastor yang tersisa, menyelenggarakan misa dan pelayanan pastoral untuk umat Madiun dan sekitarnya. 

Memasuki Masa Kemerdekaan Republik Indonesia

Jika bagi orang lain, kegagalan adalah akhir dari segalanya dan putus asa, namun lain bagi para Suster Ursulin Madiun yang berkali-kali dicabut dari zona nyaman dan dipaksa duduk di kursi panas. Dalam situasi yang kurang mengenakkan, sekaligus berbahaya, mereka sering diusir dari biaranya demi alasan apa pun dan sempat terpaksa tidak bisa berkarya lagi di Madiun (bubar). 

Semua ini terbukti tak mudah untuk mengembalikannya, termasuk pengalaman kesulitan untuk kembali ke Madiun, meskipun mereka menginginkannya. Karena keyakinan akan panggilan dan karya Tuhan, mereka tidak pernah putus asa, satu per satu perjuangan mereka membuahkan hasil. Para suster tidak hanya berhasil kembali ke Madiun, melainlkan juga membangun kesuksesan bertahap mulai dari nol. Rupanya mereka berguru dari Guru Sejati, yang berkali-kali jatuh memanggul salib, tapi setiap kali bangun untuk menuntaskan karya dan perutusan-Nya.

Pada masa menjadi interniran tentara Jepang, para suster selalu berpindah-pindah, dari satu kamp ke kamp yang lain dengan penuh penderitaan, dan akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 perang benar-benar telah dihentikan oleh Proklamasi Republik Indonesia. Namun, para suster tidak berani meninggalkan kamp sampai tanggal 5 Desember 1945 demi keamanan sendiri. 

Setelah perang selesai dan merdeka, komunitas Madiun hanya dihuni 4 orang Mère dan 26 anak. Keamanan para suster asing sering terancam. Ada pula desakan Tentara Indonesia. Mereka membutuhkan bruderan dan susteran untuk markas. Maka, Mei 1946 para suster dan anak-anak itu pun dipindahkan ke Jalan Celaket 55, Malang. 

Akhirnya, komunitas Suster Ursulin Madiun bubar. Setelah empat tahun komunitas para suster bubar  dan tidak ada kegiatan, maka pada 31 Januari 1949 Mère Gabriel Appel OSU, Mère Ignatio Sosrosentono OSU, dan Mère Christine OSU datang ke Madiun. Para Suster Ursulin tersebut kembali ke Madiun untuk meneruskan karyanya, terutama di bidang pendidikan sekolah. 

 Memasuki tahun 1959, di Jalan Wilis dibuka asrama baru khusus untuk 30 mahasiswi pindahan dari Kediri yang kuliah di Fakultas Pendidikan (sebelumnya Kursus B-1 Ilmu Mendidik, tanggal 21 Agustus 1957 didirikan oleh Romo Prof. Dr. Paul Janssen CM). Berkat kerja sama yang baik antara para pastor CM, para Suster Ursulin  di Madiun dan IKIP Sanata Dharma Yogyakarta, berdirilah IKIP Widya Mandala yang diresmikan pada tanggal 20 September 1960 oleh Mgr. Drs. J.A.M. Klooster CM. 

Ketika semuanya menjadi makin mudah dan kemajuan dunia modern membuka peluang-peluang untuk bereksplorasi, apakah Suster Ursulin terbuai oleh rasa aman dan terjebak dalam zona nyaman?  Terbukti tidak! Suster Ursulin tetap berjuang agar karya pastoral dan pendidikan yang menjadi spesialisasi mereka, selalu berkenan dan makin dirasakan di hati masyarakat Madiun. Suster tidak ragu bekerja sama dengan pihak mana pun, juga tak sayang untuk berinvestasi demi mengimbangi kemajuan teknologi dan zaman. 

Keterbukaan, selalu mengikuti zaman, dan mencari terobosan-terobosan baru menjadikan karya-karya Suster Ursulin tinggal landas, menjadi juara, dan disatukan dengan karya penyelenggarakan Allah sendiri. Itulah sebabnya Suster Ursulin menjadi sepesialis dan berkontribusi untuk semua tingkat karya pendidikan di Madiun: TK, SD, SMP, SGA (nantinya menjadi SPG), PGSLP, dan bahkan universitas Widya Mandala Madiun. Keberadaan dan kesuksesan semua lembaga pendidikan itu tak lepas dan tidak bisa dipisahkan dari kontribusi para Suster Ursulin Madiun. Fondasi pendidikan di Madiun berakar dalam perjalanan sejarah 100 tahun karya Suster Ursulin di Madiun.  

Memasuki tahun 1984 seluruh Umat Katolik di Indonesia merayakan 450 tahun Gereja Katolik di Indonesia. Di Keuskupan Surabaya kegiatan 450 tahun Gereja Katolik di Indonesia yang diketuai oleh Romo John Tondowidjojo, CM. Puncak acara liturgis diselenggarakan di Stadion Gelora 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya, pada 20 Juni 1984. Turut serta dalam perayaan liturgi di Stadion Tambaksari komunitas para Suster Ursulin dari Madiun. Satu tahun setelah seluruh umat Katolik di Indonesia merayakan 450 tahun keberadaan Gereja Katolik di Indonesia disusul pula oleh para Suster Ursulin merayakan 450 tahun keberadaan OSU. 

Tahun 1985 merupakan tahun bersejarah bagi Ordo St. Ursula. Usia Ursulin genap 450 tahun keberadaannya, merupakan Tahun Rahmat Tuhan  bagi seluruh anggotanya.  Ketika usia tahun keberadaan para Suster Ursulin di dunia ke-450  tidak menjadikan mereka berbangga dan terlena akan kebesaran komunitas, tetapi semua itu menjadi pemicu mereka untuk berkembang sesuai tuntutan zaman. Tahun berganti tahun, ternyata karya para Suster Ursulin di Madiun tidak tergerus zaman, namun justru berkembang bersama gerak kemajuan zaman.

Perjalanan panjang para Suster Ursulin di Madiun  bersama umat Katolik di Madiun mengalami dinamika yang unik. Mengingat para Suster Ursulin di Madiun berkembang pesat sampai menuju seratus tahun tidak dapat lepas dari peran Gereja dalam masyarakat. Dalam perjalan waktu para Suster Ursulin bersama umat Katolik Madiun juga mengalami enam kali masa kepemimpinan Gereja Katolik, yaitu bersama (1) Mgr. Dr. Th. de Backere CM; (2) Mgr. Dr. M. Verhoeks CM;  (3) Mgr. Drs. J.A.M Klooster CM; (4) Mgr. A.J. Dibjokaryono, Pr; (5) Mgr. J. Hadiwikarta, Pr; (6) Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Pr, sejak hari Jumat Pahing 29 Juni 2007.

Memasuki tahun 2014 para Suster Ursulin di Madiun di bawah kepemimpinan Sr. Irma Titi Pawarto, OSU, merayakan 100 tahun Ursulin berkarya di Madiun. Dengan bertambahnya usia tidak menjadikan para Suster Ursulin, khususnya di Madiun terlena dengan segala kebesaran dan keberhasilan Ordo St. Ursula, tetapi justru menjadikannya obor untuk menyalakan semangat baru di era kecanggihan teknologi. 

Dengan demikian, semua itu sesuai dengan penghayatan yang didambakan oleh Bunda Santa Angela Merici yang tertulis dalam nasihatnya yang terakhir: “Hiduplah dalam keserasian, bersatu, sehati, sekehendak, terikat satu sama lain, dengan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling bersabar dalam Yesus Kristus”. Betapa indah pesan tersebut, menyejukkan, dan penuh pengharapan demi masa depan yang sesungguhnya.

Karya para Suster Ursulin di Madiun adalah bukti keberhasilan dan hasil konsistensi mereka dalam mengembangkan sayap karya pendidikan secara padu, sekaligus keterbukaan mereka dalam kerja sama dengan berbagai pihak. Setiap perjuangan mereka membuktikan kepedulian serta konsistensi para Suster Ursulin terhadap pendidikan bermutu bagi masyarakat Madiun. Maka, tidak mengherankan jika perjalanan 100 tahun karya Suster Ursulin di Madiun mampu membangkitkan inspirasi dari dan optimisme terhadap karya Ursulin di masa mendatang, juga bagi setiap orang yang peduli dan terlibat di dalam karya mereka.

Saya meyakini dan merangkum perjalanan 100 tahun karya Suster Ursulin di Madiun dalam satu ungkapan kalimat dalam 1 Korintus 3:6: Ego plantavi, Apollo rigavit; sed Deum incrementum dedit“ (Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan).        

Monday, December 1, 2014

Para Frater Menemukan Oase Panggilan

Mengenal, mendalami, serta melihat situasi sekitar adalah hal yang wajar bagi siapa pun yang menempati sebuah lokasi baru. Namun, bagaimana jadinya jika seseorang harus mengenal dirinya sendiri? Padahal, tubuh, dan jiwa seseorang telah menjadi satu ketika semua itu dilahirkan?

Pengalaman akan mengenal situasi, kondisi, serta lingkungan baru telah dijalani oleh para Frater Tahun Rohani.  Berasal dari berbagai daerah: Surabaya, Blitar, Madiun, Klepu, Mojokerto, Pare, Lombok, bahkan ada pula yang dari Sanggau, Kalimantan Barat, harus beradaptasi di lingkungan dan komunitas baru di Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Dari dua keuskupan yang berbeda, 10 dari Keuskupan Surabaya dan 5 dari Keuskupan Sanggau, Kalimantan Barat, harus berjuang untuk beradaptasi dengan lingkungan dan komunitas barunya.

Masa pengenalan akan lingkungan, saling mengenal antarpribadi ini, para frater menyebutnya dengan masa monsolidasi. Masa di mana para frater dari masing-masing keuskupan dipertemukan di Wisma Keuskupan Surabaya untuk mengadakan Safari Panorama Keuskupan Surabaya, hingga tiga bulan pertama di Seminari Tinggi Tahun Orientasi Rohani.

Budaya, bahasa, yang berbeda menjadi tantangan para frater dalam tahap konsolidasi ini. Akan tetapi, semua tantangan itu bisa disikapi dengan baik oleh para frater. Hingga akhirnya para frater pun harus kembali melihat langkah awal, motivasi sebelum memutuskan jalan yang panjang ini. Seluruh kegiatan pada masa konsolidasi ini ditutup dengan retret yang diadakan di Dharmaningsih dengan pembimbing RP Anton Rosari SVD.

Senin, 3 November 2014, pukul 14.00 WIB, para frater berangkat dari Seminari Tinggi Tahun Rohani menuju Dharmaningsih.  Di sana para frater disambut hangat oleh Suster Abdi Roh Kudus (SSpS). Hari ini juga dimulai sesi pertama, di mana para frater diajak untuk mengenal apa itu retret dan sebagainya. Retret: Lahir Kembali. Peralihan, dari manusia lama menjadi Manusia Baru. Kurang lebih, begitulah Romo Anton memberi penjelasan awal kepada para frater.

Pengalaman demi pengalaman Romo Anton menjalani panggilan hidupnya sangat membantu para frater dalam menghayati retret kali ini.  Mulai dari melihat pengalaman, pengalaman akan Allah, melihat konflik dan penyelesaiannya, melihat Roh Kudus yang bekerja, hingga bisa menemukan diri . Ternyata, setiap pengalaman yang kita dapatkan setiap hari adalah pengalaman akan Allah sendiri jika kita bisa melihatnya dari sudut pandang iman. Semua pengalaman yang awalnya biasa itu akan menjadi pengalaman yang sungguh luar biasa, karena Allah ada di dalamnya.

Retret yang berjalan selama lima hari ini sangat membantu para frater untuk mengenal diri dan melihat rencana Allah yang ada dalam hidup mereka. Terkadang dalam menjalani panggilan ini, para frater dihadapkan dalam disposisi batin yang tidak menentu. Pasang dan surut dalam menjalani panggilan sering dialami oleh para frater. Namun, Romo Anton mengajak para frater untuk tetap bertahan pada gurun pasir yang panjang. Karena suatu saat dalam perjalanan yang panjang itu, para frater akan menemukan sebuah oase dalam perjalanan menapaki gurun pasir tersebut.

Semoga dengan retret penutupan masa konsolidasi ini, para frater dapat mengambil sikap dalam panggilannya. Perjalanan yang panjang, rintangan yang bertubi-tubi akan menjadi sahabat dalam perjalanan hidup panggilan. Melengkapi diri dengan senjata rohani (doa, ekaristi, meditasi, lectio divina) akan membantu dalam menemukan oase panggilan, titik di mana para frater akan mendapatkan penyegaran, penghiburan, dan sukacita yang tentunya dari Allah sendiri. Semangat Frater!!

(Yustinus Fendi HS)